Strategi “Kreatif” Kelompok Ekstremisme Kekerasan di TikTok

Analisa

by nurdhania Editor by Arif Budi Setyawan

Hilangnya wilayah kekuasaan kelompok ekstremisme kekerasan yang dulu berbasis di Suriah dan Irak ternyata tidak serta-merta menghapus ideologi yang mereka bawa. Seperti bara yang tertutup abu, ideologi itu tidak padam, ia hanya berpindah tempat, menunggu ruang baru untuk bernapas. Para pendukungnya masih aktif, terutama di media sosial, terus menyebarkan propaganda dan gagasan lama dengan wajah yang tampak baru

Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa meskipun sebuah kelompok ekstrem dinyatakan bubar atau kalah secara militer, ideologi mereka jarang benar-benar lenyap. Neo-Nazi, neo-fasisme, supremasi kulit putih, hingga neo-JI adalah contoh bagaimana sebuah paham bisa bergeser, berevolusi, dan menemukan bentuk baru yang lebih adaptif terhadap zamannya.

Dalam konteks inilah TikTok menjadi ruang yang menarik sekaligus rawan. Keunggulan platform ini terletak pada kemampuannya menciptakan tren viral dalam waktu singkat, ditopang algoritma yang sangat canggih. Bagi kelompok ekstremisme kekerasan, TikTok bukan sekadar media hiburan; ia adalah lahan subur untuk menyebarkan pesan, membangun jejaring, dan mempertahankan eksistensi.

Padahal, TikTok dikenal memiliki pedoman komunitas yang ketat. Pengalaman pribadi penulis saat mengikuti pelatihan pemasaran TikTok menguatkan hal itu. Seorang pelaku live streaming untuk berdagang pernah bercerita bahwa TikTok bahkan melarang penampilan anak kecil, termasuk suara anak, selama live streaming berlangsung. Pengguna akan dimatikan live-nya ketika itu dilanggar. Kebijakan ini menunjukkan keseriusan TikTok dalam menjaga keamanan, keselamatan, dan kenyamanan penggunanya.

Hal tersebut juga tercermin dalam pedoman Keamanan dan Keberadaban TikTok yang rinci. Di dalamnya, TikTok secara tegas mengatur soal perilaku kekerasan dan kriminal, ujaran kebencian, organisasi dan individu penyebar kekerasan, hingga kekerasan seksual terhadap remaja dan orang dewasa. Khusus pada bagian organisasi dan individu yang menyebarkan kekerasan dan kebencian, TikTok menegaskan bahwa platform ini bukan tempat bagi kelompok ekstrem brutal, organisasi kriminal brutal, organisasi politik brutal, organisasi penyebar kebencian, maupun individu pelaku kekerasan massal.

Larangan itu tidak berhenti pada daftar kelompok semata. TikTok juga melarang segala bentuk aktivitas yang mempromosikan, memuji, mendukung, merekrut, atau membantu pelaku kekerasan dan penyebar kebencian. Bahkan simbol, pidato, manifesto, atau objek yang berkaitan dengan kelompok ekstrem brutal pun tidak diizinkan.

Menariknya, TikTok masih memberikan ruang terbatas bagi konten tertentu, misalnya diskusi kritis tentang organisasi politik brutal, konten dokumenter atau edukatif, karya fiksi atau seni, serta kritik dan satir selama konten tersebut tidak dimaksudkan untuk mendukung atau menyebarkan kebencian. Di atas kertas, aturan ini tampak kokoh dan komprehensif.

Namun, seperti air yang selalu menemukan celah, selalu ada individu atau kelompok yang berusaha mengakali aturan tersebut. Dari pemantauan beberapa bulan terakhir, terlihat jelas pola, strategi, dan taktik yang digunakan agar konten mereka tidak mudah terdeteksi dan dihapus oleh TikTok.

Salah satu cara yang paling sering digunakan adalah manipulasi visual. Video aksi kekerasan, termasuk adegan eksekusi, diedit dengan filter gelap, glitch, mosaic, atau sketch. Dalam satu contoh, tampak potongan video singkat seorang algojo bertopeng menggiring seseorang berpakaian oranye. Kecerahan dibuat sangat rendah sehingga nyaris tak terlihat, kecuali jika layar ponsel disetel ke tingkat paling terang.

Ada pula video propaganda tentang pelaku bom bunuh diri yang disamarkan dengan filter gelap dan diiringi nasyid atau audio pernyataan pemimpin kelompok tertentu. Kasus penembakan masjid di Selandia Baru pun diedit sedemikian rupa: hanya menampilkan suasana di dalam mobil, wajah pelaku disamarkan dengan efek glitch. Bagi penonton awam, video itu mungkin tampak biasa. Namun bagi mereka yang “tahu”, pesannya jelas.

Strategi lain yang tak kalah licik adalah penggunaan visual yang tampak ramah. Kartun lucu, pemandangan indah, atau tampilan game tembak-tembakan digunakan sebagai kedok, sementara backsound-nya berupa nasyid yang berisi ajakan membunuh. Bahkan ada video kartun anak-anak yang disertai subtitle eksplisit menyerukan pembunuhan massal.

Karikatur bergaya chibi --kepala besar, mata besar, tubuh mungil-- juga kerap dimanfaatkan. Beberapa di antaranya menggambarkan pelaku penembakan di sekolah, diiringi lagu “Pumped Up Kicks” yang sering dimaknai gelap oleh komunitas tertentu. Di sisi lain, ada pula strategi kebalikan: menampilkan wajah para pelaku atau pejuang kelompok teror, tetapi menggunakan lagu-lagu pop populer agar terkesan ringan dan tidak mencurigakan.

Permainan tidak berhenti di visual dan audio. Narasi pada caption dan hashtag juga dimanipulasi. Hashtag yang umum dikenal diubah sedikit agar lolos dari deteksi--#Dawla menjadi #Dalwa, #tcc dimodifikasi menjadi #tecece atau versi lain yang lebih samar. Ada pula konten propaganda yang diberi keterangan “this is a trailer from a movie” untuk mengaburkan konteks aslinya.

Beberapa video bahkan menampilkan foto pemimpin kelompok teror dengan wajah ditutup stiker lucu atau di-blur, lalu diberi audio pidato mereka. Ada juga video masjid yang disisipi karikatur pelaku bersenjata lengkap sedang berjoget dengan musik jedag-jedug khas TikTok.

Sebagian konten tersebut memang telah dihapus, tetapi tidak sedikit yang masih bisa diakses hingga tulisan ini dibuat. Bahkan, ada akun yang cukup berani menampilkan animasi kekerasan, romantisasi pelaku, serta propaganda lama yang diunggah ulang.

Betapa banyaknya konten bermuatan kekerasan di TikTok memang cukup mengejutkan. Namun di balik itu, motif mereka tampak jelas: mempertahankan eksistensi, mengabari para simpatisan yang tercerai-berai sejak runtuhnya basis mereka di Timur Tengah, sekaligus mencari “teman sefrekuensi” agar tidak merasa berjuang sendirian. Konsep “ytta” --yang tahu, tahu saja-- menjadi kunci pengenalan di antara mereka.

Interaksi di kolom komentar memperlihatkan kerinduan akan kebangkitan kembali kelompok mereka. Seperti kelompok ekstremisme lainnya, pertemuan sering diawali dengan meme atau video lucu agar terasa ramah, terutama bagi anak muda.

Dalam kebijakannya, TikTok menegaskan bahwa mereka menggunakan kombinasi tinjauan otomatis dan manusia untuk mendeteksi pelanggaran, termasuk menilai perilaku di luar platform. Akun yang melanggar akan ditinjau dan dapat diblokir, dengan pemberitahuan kepada pemiliknya.

Namun, harapan tetap perlu disuarakan. TikTok dan platform media sosial lain dituntut lebih tegas, teliti, dan gesit dalam meninjau serta menurunkan konten berbahaya. Keterlambatan penghapusan akun pelaku dalam kasus SMAN 72 menjadi catatan penting bahwa celah masih ada dan dampaknya bisa serius.

Pada akhirnya, pencegahan ekstremisme kekerasan bukan tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, masyarakat sipil, penyedia platform, sekolah, lingkungan, orang tua, dan keluarga memiliki peran masing-masing. Benteng paling awal selalu dimulai dari lingkungan terdekat: membangun komunikasi, membuka ruang diskusi, dan menjadi pendamping saat anak-anak dan remaja menjelajah dunia maya.

Jika teman-teman menemukan konten kekerasan, apapun bentuknya jangan ragu untuk langsung melaporkannya, ya!



Ilustrasi: Grafis karya Nurdhania

Komentar

Tulis Komentar