Ada kisah-kisah yang tidak langsung terlihat ketika seseorang terlibat dalam jejaring terorisme. Di balik headline, label, dan stigma, sering kali ada luka yang lebih tua dari pilihan ideologi. Ketika saya mengenal Munir Kartono lebih dekat, saya mulai memahami bahwa keterlibatannya dalam pendanaan ISIS bukan semata persoalan keyakinan yang salah arah—melainkan juga perjalanan panjang dari seorang anak yang pernah merasa tidak dipahami oleh bapaknya, lalu tumbuh membawa bara yang tidak pernah berhasil padam. Film dokumenter ini bukan hanya tentang ekstremisme, tetapi juga tentang relasi yang retak, rasa kehilangan arah, dan pencarian makna yang salah jalur.
Proses pembuatan film dokumenter Antologi Narasi Mematikan bagian Munir Kartono berjudul “Dari Kecewa Pada Bapak Menjadi Pendana ISIS” ini dimulai dengan riset pada Oktober 2021. Kami menyebut Munir Kartono sebagai credible voice, sesuai dengan narasi alternatif yang dipopulerkan Ruangobrol (Kreasi Prasasti Perdamaian) menggunakan mantan narapidana terorisme yang dianggap mempunyai dampak signifikan dalam menggali isu mengenai narasi pendanaan terorisme. Kami menggunakan narasi alternatif ini untuk pencegahan, dan dengan mengetahui narasi seperti apa yang sebenarnya ada dalam jaringan teror khususnya pendanaan yang kami suguhkan melalui antologi film dokumenter Narasi Mematikan.
Peran Munir dalam konteks pendanaan terorisme sangat penting untuk dihadirkan ke dalam film dokumenter ini karena proses gabung, terkena narasi hingga terlibat dalam jaringan sangat berbeda dengan asumsi publik atau masyarakat. Film ini menggunakan pendekatan character-driven story atau pengalaman Munir dari sisi personal ketika ia terlibat dalam aksi pendanaan terorisme. Pendekatan ini kami pilih dengan tujuan memudahkan penonton terhubung dan memahami seluk-beluk kehidupan seperti yang dialami Munir, sehingga lebih mudah memunculkan respons emosi penonton.
Kami terus berupaya menggali sisi lain Munir dengan bertemu, ngobrol dari hati ke hati, dan berdiskusi. Saya melihat “api” itu berasal dari kebencian terhadap sosok bapak. Sebagai seorang anak, Munir merasa tidak mendapat keadilan dan kasih sayang dari sang bapak. Ia berusaha melawan kondisi itu. Dalam kondisi menyimpan bara dendam yang luar biasa, dia bertemu dengan komunitas punk—sebuah lingkungan yang memang memiliki ciri khas pemikiran perlawanan.
Lingkungan itulah yang membentuk sikap kritisnya terhadap setiap kebijakan pemerintah. Ia merasakan ketidakadilan dan penderitaan masyarakat karena rezim tertentu. Maka salah satu sikap yang dipilih adalah melawan negara.
Tidak berhenti di situ, Munir bertemu dengan kelompok jaringan Islam yang memiliki ideologi ekstrem. Dia memilih melakukan perlawanan terhadap simbol-simbol yang menyerupai bapaknya.
Ini menjadi dilema bahwa ketidakharmonisan hubungan anak dengan bapaknya, yang tidak dapat diselesaikan dengan baik, bisa berdampak panjang hingga terjebak dalam jaringan teroris.
Saat proses shooting dilakukan beberapa kali, mulai Oktober 2021 hingga April 2022, saya memahami keterlibatan Munir dalam jaringan terorisme melewati proses panjang. Maka proses pelepasannya juga membutuhkan waktu.
Menurut saya yang sudah menyutradarai film dokumenter selama 18 tahun berjalan ini, Munir adalah salah satu contoh karakter yang bagus. Ia memiliki kelembutan hati dan sensitivitas terhadap kondisi. Tantangan muncul salah satunya saat terjadi kesalahpahaman di lapangan.
Setelah berdialog panjang, berjeda, saya mendapatkan gambaran besarnya, Munir merasa kehadirannya dianggap kurang penting dalam proses penelitian serta pembuatan film dokumenter ini. Namun, setelah terjadi semacam rekonsiliasi antara tim dan Munir, proses pembuatan film berjalan lebih mudah. Bahkan Munir sangat antusias untuk mengabarkan kepada kami jadwal-jadwal dia saat melakukan kegiatan dengan masyarakat sekitar.
Ini juga menunjukkan proses integrasinya dengan masyarakat. Salah satu hal yang tidak kalah penting adalah proses bagaimana Munir meminta maaf kepada korban bom Mapolres Surakarta, dimana dia berperan dalam proses pendanaan aksi teror tersebut.
Semangat Munir saat ini adalah membangun hidupnya kembali, menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya, agar mereka tidak melakukan kesalahan yang sama dengan bapaknya dan dirinya kala itu.
Kesalahan masa lalu Munir yang kemudian menjadi penyesalan, bahkan menjadi pelajaran berharga, baik untuk dirinya sendiri maupun masyarakat secara luas. Dulu dia memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat hingga menyumbangkan uang berkedok dana sosial. Dana yang dia kumpulkan itu bukan untuk keperluan biaya hidup para janda atau perempuan keluarga jihadis, tapi digunakan untuk aksi teror, melakukan pengeboman, menyakiti manusia, bahkan membunuh orang lain.
Kini, setelah proses panjang, rekonsiliasi, kerja keras, dan keberanian untuk menatap masa lalu, Munir berdiri bukan sebagai sosok yang ingin melupakan apa yang ia lakukan, tetapi sebagai seseorang yang ingin memperbaikinya. Kisahnya mengingatkan kita bahwa perubahan tidak lahir dari ketakutan atau hukuman semata, melainkan dari ruang aman untuk memahami, menerima, dan bertanggung jawab. Harapannya, film ini bukan hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga cermin bagi kita semua—bahwa luka yang tidak disembuhkan dapat berubah menjadi amarah destruktif, tetapi luka yang diakui dan dipulihkan dapat menjadi titik balik menuju kemanusiaan yang lebih utuh.
Lebih jauh kami berharap, film dokumenter ini mampu mengubah sikap dan menginspirasi penonton dalam memahami isu terorisme, bagaimana perspektif yang sangat personal bisa dipahami oleh penonton dari belahan dunia mana pun dan menjadi narasi alternatif pencegahan kekerasan ekstrem terutama juga pemahaman proses pendanaan teror di Indonesia.
Foto: Ani Ema Susanti dalam sebuah kegiatan produksi film dokumenter KPP.(Dok. Ruangobrol.id)
Komentar