Sebagai seseorang yang pernah berada di dalam pusaran ideologi kekerasan, setiap kali mendengar kabar serangan teror di belahan dunia mana pun, saya tidak hanya membaca peristiwanya—saya selalu membaca gema yang mengikutinya. Pantai Bondi, Sydney, kini menjadi salah satu sumber gema itu.
Serangan penembakan yang menyasar komunitas Yahudi yang tengah merayakan Hanukkah di Pantai Bondi bukan sekadar tindakan kekerasan fisik. Ini adalah pesan simbolik. Dan seperti banyak serangan teror sebelumnya, pesan itu dengan cepat menemukan “rumah kedua”, yaitu di media sosial.
Dalam beberapa jam setelah peristiwa tersebut, saya menemukan unggahan-unggahan yang mengglorifikasi serangan itu. Ada yang secara terbuka merayakan, ada yang menggunakan bahasa religius yang dikemas heroik, ada pula yang menyebarkannya dengan narasi “pembalasan” atau “perlawanan global”. Sebuah pola yang sudah sangat familiar.
Yang menarik dan sekaligus mengkhawatirkan, narasi glorifikasi itu tidak datang dari satu ideologi kelompok saja. Pendukung Al-Qaeda dan simpatisan ISIS sama-sama mengklaim makna atas serangan tersebut. Sasaran yang dipilih, komunitas Yahudi, menjadikan peristiwa ini lintas-fraksi dalam ekosistem ekstremisme global. Ia bisa “dimiliki” oleh siapa saja yang memusuhi simbol yang sama.
Pernyataan otoritas Australia mengenai ditemukannya indikasi afiliasi pelaku dengan ISIS menimbulkan kekhawatiran lain. Yaitu efek inspiratif. Dalam dunia terorisme modern, pelaku tunggal tidak pernah benar-benar sendirian. Ia adalah simpul dari jejaring ide, simbol, dan narasi yang terus direproduksi.
Sebagai mantan pelaku, saya paham betul bagaimana mekanisme inspirasi itu bekerja. ISIS, sejak kehilangan wilayah fisiknya, hidup dari keberhasilan menginspirasi. Serangan kecil, senjata sederhana, satu pelaku, namun gaungnya sampai level global. Dalam logika ini, keberhasilan bukan diukur dari jumlah korban, melainkan dari seberapa luas rasa takut dan replikasi ide yang dihasilkan.
Indonesia tentu termasuk yang memiliki risiko serangan teror dari efek inspiratif tersebut.
Kita memiliki sejarah panjang serangan teror yang terinspirasi dari luar negeri. Bom Thamrin Januari 2016 adalah contoh nyata salah satu serangan terbesar pendukung ISIS di Indonesia. Serangan itu terinspirasi dari gelombang serangan di Prancis dan Belgia sebelumnya, yang diperkuat oleh propaganda ISIS yang saat itu sedang berada di puncak pengaruhnya. Pelakunya ingin menunjukkan bahwa Indonesia adalah bagian dari “panggung global”.
Hari ini, konteksnya kembali mengkhawatirkan. Menjelang Natal, meningkatnya tensi global, konflik di Timur Tengah, dan polarisasi identitas berbasis agama menciptakan kondisi yang subur bagi radikalisasi cepat. Media sosial mempercepat semuanya. Tanpa filter, tanpa jeda.
Yang sering luput disadari publik adalah bahwa proses menuju aksi kekerasan sering kali dimulai dari konsumsi konten. Dari menonton, menyukai, membagikan, lalu membenarkan. Glorifikasi serangan Pantai Bondi, sekecil apa pun jangkauannya, adalah bahan bakar psikologis bagi individu-individu yang sedang berada di ambang radikalisasi.
Di sinilah kewaspadaan menjadi kata kunci.
Kewaspadaan tidak selalu berarti aparat bersenjata di setiap sudut. Ia juga berarti kesadaran kolektif terhadap bahasa, simbol, dan narasi yang beredar di ruang digital. Kita perlu lebih peka membedakan empati terhadap korban dengan penyebaran konten yang justru memperbesar nama pelaku dan ideologinya.
Sebagai mantan pengikut kelompok teroris, saya tahu betul bahwa pelaku teror selalu menginginkan perhatian. Mereka ingin namanya disebut, fotonya disebar, manifestonya dibedah. Setiap klik adalah validasi. Setiap glorifikasi adalah kemenangan kecil.
Karena itu, kewaspadaan juga berarti kedewasaan dalam merespons. Media, warganet, tokoh agama, dan pemangku kebijakan perlu mengambil posisi yang sama: mengutuk kekerasan tanpa memperpanjang panggungnya.
Bagi Indonesia, momentum ini seharusnya menjadi pengingat. Pencegahan terorisme tidak bisa hanya reaktif. Ia harus antisipatif, terutama di ruang digital. Pemantauan narasi ekstrem, penguatan kontra-narasi berbasis credible voices, serta keterlibatan komunitas akar rumput menjadi semakin relevan.
Pantai Bondi adalah tragedi bagi para korban dan keluarganya. Namun bagi kita di Indonesia, ia juga harus menjadi alarm. Bahwa teror tidak selalu datang dari dalam negeri. Kadang, ia datang sebagai inspirasi yang menyeberangi batas, layar, dan waktu.
Dan kewaspadaan bersama adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai itu sebelum kembali memakan korban.
Foto: Suasana usai penembakan di Pantai Bondi, Sydney, Australia, Minggu (14/12/2025).[Nine Network/via Reuters]
Komentar