Perempuan di Garis Tipis: Dari Radikalisasi hingga Harapan

Analisa

by Redaksi Editor by Redaksi

Suatu malam di penghujung tahun 2016.
Seorang perempuan duduk sendirian di kamar kos sempit di Bekasi.
Di dalam tasnya ada sesuatu yang tidak biasa.
Bahan peledak.
Namanya Dian Yulia Novi.
Ia bersiap melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia:
seorang perempuan menjadi pelaku bom bunuh diri yang menargetkan Istana Negara.
Rencana itu akhirnya gagal.
Namun cerita tentang perempuan dalam lingkaran ekstremisme justru baru dimulai.

Ketika Pelaku Terorisme Adalah Perempuan

Dian Yulia Novi adalah salah satu perempuan yang kasusnya mengguncang persepsi publik tentang siapa pelaku terorisme di Indonesia. Pada 10 Desember 2016, Dian ditangkap jelang rencana bom bunuh diri di Istana Kepresidenan Jakarta, lengkap dengan bahan peledak yang telah disiapkan di rumah kosnya — sebuah skenario yang menggambarkan keterlibatan perempuan dalam aksi ekstrem kekerasan bukan sekadar sebagai pendukung, tetapi sebagai pelaku yang siap mengakhiri hidupnya demi tujuan sekelompok ideologi kekerasan. Penangkapan itu membuatnya menjadi salah satu perempuan pertama yang diadili atas rencana serangan semacam itu di Indonesia, dan ia kemudian divonis lebih dari tujuh tahun penjara.

Tidak jauh berbeda, sosok perempuan lain, Ika Puspitasari juga menjadi bagian dari gambaran pelik ini. Bekerja sebagai pekerja migran di Hong Kong, ia menjalin komunikasi dengan jaringan pendukung ISIS melalui media sosial. Eksploitasi psikologis terhadapnya membawa perannya ke ujung batas — seorang perempuan yang terjerat gagasan ekstrem hingga bersedia menjadi “pengantin bom bunuh diri” di Bali pada malam pergantian tahun baru.

Dua kisah ini menunjukkan dinamika baru dalam gerakan kekerasan ekstrem: perempuan tidak lagi sekadar berada di belakang layar, tetapi telah menjadi aktor pelaku, bahkan siap mengorbankan nyawa mereka. Ini bukan hanya soal doktrin ideologis yang keras — tetapi persepsi diri, struktur sosial yang rapuh, dan citra dunia maya yang menipu tentang misi mulia dan pembalasan moral. Propaganda di internet dan hubungan yang terbentuk secara digital kemudian menjadi motor penggerak personalisasi ekstremisme dalam kehidupan nyata.

Namun kisah yang tak boleh kita abaikan tidak hanya mereka yang menjadi pelaku. Ada juga yang terperangkap sebelum mereka sempat menciptakan luka — namun luka itu tetap ada, terbuka, dan butuh ruang untuk ditanggapi secara empatik.

Salah satu sosok itu adalah Listyowati, mantan pekerja migran asal Kendal. Seperti banyak perempuan migran lainnya, ia mencari kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya. Namun narasi yang dituangkan melalui grup dan akun di media sosial perlahan mengubah cara pandangnya tentang dunia. Dalam narasinya sendiri, ia mengatakan mulai terpengaruh oleh kelompok yang tampak menawarkan jawaban terhadap penderitaan anak-anak di Suriah dan Palestina — narasi yang kemudian ia legitimasikan dengan tindakan yang dianggap mendukung kelompok terlarang untuk pendanaan dan logistik. Listyowati ditangkap pada 2020 dan menjalani proses hukum sebagai bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), afiliasi ISIS yang beroperasi di Indonesia. Ia kemudian bebas pada akhir 2023 setelah menjalani bagian pidana.

Kisah Listyowati mengingatkan kita bahwa radikalisasi tidak selalu dimulai dari ruang ideologis yang hitam-putih, tetapi sering dari rasa ingin membantu, empati yang dieksploitasi, atau sekedar rasa kesepian dalam interaksi digital yang keliru. Ia bukan lagi pelaku aksi bom, tetapi korban narasi yang dipersonalisasi oleh dinamika digital global.

Cerita Remaja Perempuan Korban Paham Ekstrem

Di luar catatan kriminal, ada kisah yang jauh lebih halus — namun sama dalam dampaknya. Dua perempuan muda pernah terpapar paham ekstrem dalam usia yang sangat rentan. Dalam suatu cerita panjang yang diangkat oleh Ruangobrol, ada diceritakan bagaimana keduanya “meninggalkan sekolah dan keluarga” karena terpikat oleh narasi sepihak yang tersebar di media sosial, hingga kehidupan mereka mengalami disrupsi besar. Mereka terperangkap dalam kelompok yang memberi mereka rasa memiliki, namun menutup mata mereka terhadap realitas sosial.

Namun yang membuat kisah ini penting bukan hanya luka masa lalu mereka, tetapi perjalanan pulangnya. Mereka berhasil lepas dari jerat doktrin itu, kembali ke jalan yang penuh tantangan — lanjutan sekolah, menghadapi stigma, dan menyusun kembali potongan hidup yang tercerai berai.

Dari pengalaman itu lahirlah WAVE Community (Women Against Violent Extremism), sebuah komunitas perempuan yang memberi ruang aman bagi penyintas radikalisme untuk berbagi dan bangkit bersama. Komunitas kecil ini menjadi refleksi penting bahwa perempuan tidak hanya menjadi pihak yang rentan dalam proses paparan ekstremisme, tetapi juga bisa menjadi agen pemulihan dan perubahan.

Kisah-kisah itu serupa sungai yang mengalir dari sumber yang sama. Mereka bermula dari kesendirian, ketidaktahuan, dan kecenderungan untuk mencari “makna” yang mudah ditemukan di dunia maya. Narasi yang tampak meyakinkan dapat merusak naluri kritis remaja yang sedang mencari identitas, keyakinan, dan rasa aman dalam kehidupan yang belum mapan.

Peran Perempuan dalam Deteksi Dini Radikalisasi Anak dan Remaja

Hari ini kita tahu bahwa deteksi dini bukan soal menyelidiki siapa yang sudah di dalam — tetapi membaca tanda-tanda sebelum mereka tenggelam lebih dalam. Dan disinilah perempuan, ibu, saudara perempuan, guru, atau sahabat, memiliki peran penting. Sebagai mata pertama yang bisa memperhatikan perubahan perilaku, rasa ingin tahu yang salut namun berlebihan pada konten ekstrem, atau pengasingan sosial yang mengkhawatirkan.

Perempuan dalam keluarga, terutama seorang ibu seringkali lebih dekat secara emosional dengan anak-anaknya. Ini bukan sekadar dekat secara fisik — tetapi dekat dalam bahasa, cerita, dan rasa. Ketika seorang ibu mendengar anak berbicara, dia bisa menangkap pergeseran nada dari sekadar ketertarikan terhadap suatu ide menjadi obsesi yang mematikan. Ketika dia berbicara, dia punya peluang memberi konteks terhadap narasi yang keliru itu dan memasukkan narasi lain — narasi kemanusiaan, inklusif, dan kritis.

Ini bukan sekadar pencegahan formal yang dilakukan aparat keamanan — ini adalah pencegahan yang lahir di ruang keluarga dan komunitas. Ketika perempuan diberi ruang, dukungan, dan pengetahuan tentang tanda-tanda radikalisasi, mereka dapat menjadi garda depan dalam rangka deteksi dini, tidak hanya pada level individu tetapi pada level komunitas.

Dalam banyak pengalaman penyintas, peran perempuan bukanlah memukul mundur narasi ekstrem dengan otoritas — tetapi dengan pertanyaan sederhana yang membuka ruang dialektik: “Mengapa kamu merasa itu menarik? Apa yang membuatmu percaya ini adalah kebaikan?” Pertanyaan semacam ini seringkali lebih efektif daripada nasihat langsung. Dan dari sini, lingkungan sosial yang reflektif bisa tumbuh.

Refleksi Hari Perempuan Sedunia

Seiring kita akan memperingati Hari Perempuan Sedunia (8 Maret), kisah-kisah di atas mengajak kita merenungkan kembali makna keberdayaan perempuan dalam konteks yang lebih luas: bukan hanya sebagai korban atau pelaku dalam pusaran kekerasan — tetapi sebagai aktor yang berpotensi membawa pergeseran ke arah lebih baik.

Perempuan seperti Dian, Ika, dan Listyowati adalah cermin dari bagaimana struktur sosial global dan lokal bisa melukai ketika ideologi ekstrem menyasar mereka dengan narasi yang tampak “memberi makna”. Namun perempuan penyintas radikalisme menunjukkan sisi lain. Dari luka yang sama mereka bisa menemukan ruang pemulihan, solidaritas, dan konstruksi menuju kehidupan yang lebih manusiawi.

Dan lebih dari itu, perempuan adalah penjaga narasi pertama di kehidupan anak-anak dan remaja — narasi yang bisa mencegah bibit ekstremisme muncul jauh sebelum jadi ancaman nyata.

Hari Perempuan Sedunia adalah waktu yang tepat bukan hanya untuk merayakan peran sosial perempuan, tetapi juga untuk memikirkan kembali bagaimana kita menempatkan perempuan dalam kerangka peran pencegahan kekerasan, radikalisasi, dan ekstremisme — bukan di pinggir, tapi di jantung upaya bersama membangun komunitas yang lebih aman, adil, dan beradab.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar