Mengenang Bom Marriott 2003 dan Jalan Sunyi Menuju Pembubaran Jamaah Islamiyah

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Redaksi

Tanggal 5 Agustus selalu membawa ingatan yang berat bagi sebagian orang di Jakarta, terutama mereka yang pernah berdiri tak jauh dari kawasan Kuningan pada pagi naas di tahun 2003. Ledakan keras mengguncang Hotel JW Marriott, menggetarkan kaca-kaca gedung pencakar langit dan meninggalkan kepanikan yang meluas. Dalam sekejap, 12 orang kehilangan nyawa, dan lebih dari 150 lainnya terluka—baik secara fisik maupun batin.

Serangan itu menandai fase baru dalam ancaman terorisme di Indonesia. Bukan lagi hanya menyasar simbol-simbol asing di wilayah wisata seperti Bom Bali 2002, kali ini teror hadir di tengah kawasan bisnis ibu kota, di jantung denyut ekonomi global Indonesia.

Masa Kelam yang Kita Ingat

Di balik bom Marriott, aparat menemukan benang merah yang familiar: keterlibatan kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Sebuah organisasi yang saat itu menjadi representasi paling nyata dari wajah terorisme regional. JI telah lama dikenal sebagai jaringan dengan struktur, pelatihan, dan ideologi yang kuat, bercita-cita mendirikan kekhalifahan lewat kekerasan bersenjata.

Bertahun-tahun setelah serangan itu, banyak pemimpinnya ditangkap. Sebagian terlibat langsung dalam perencanaan maupun aksi, sebagian lagi menjadi mentor dan penghubung lintas negara. Namun seperti halnya organisasi bawah tanah lainnya, JI tak serta-merta hilang. Ia beradaptasi, bersembunyi, bahkan membentuk wajah baru.

Titik Balik: Jalan Sunyi yang Ditempuh

Tapi sejarah terkadang bergerak di jalur yang tak terduga.

Dua dekade pasca-Marriott, tepatnya pada 30 Juni 2024, JI mengejutkan publik dengan keputusan besar: membubarkan diri secara sukarela. Bukan karena diburu, bukan karena ditekan, melainkan karena pilihan sadar dari dalam. Keputusan ini lahir setelah proses dialog panjang dan mendalam antara tokoh-tokoh JI dengan pihak Densus 88, serta melibatkan pihak-pihak yang telah lama bekerja di jalur deradikalisasi.

Ini bukan proses yang instan. Ia lahir dari refleksi panjang, dari diskusi yang penuh pertanyaan: Apakah kekerasan membawa perubahan? Apakah jihad harus selalu berarti senjata? Apakah tujuan bisa dibenarkan jika cara yang ditempuh merenggut nyawa tak berdosa?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya membawa pada satu langkah berani: berhenti.

Dari Trauma ke Transformasi

Bagi kita yang pernah menyaksikan serpihan bom Marriott memenuhi layar televisi atau bahkan mengalaminya secara langsung, tentu sulit membayangkan bahwa kelompok di balik tragedi itu bisa sampai pada titik ini. Tapi nyatanya, manusia bisa berubah. Organisasi pun demikian.

Pembubaran diri JI menjadi bukti bahwa pendekatan kekerasan bukan satu-satunya jalan dalam menghadapi ekstremisme. Ketika ruang dialog dibuka, ketika pendekatan kemanusiaan dikedepankan, dan ketika yang dilawan bukan hanya struktur tetapi juga narasi, maka perubahan nyata mungkin terjadi.

Refleksi 22 Tahun Kemudian

Momen 22 tahun tragedi JW Marriott mestinya menjadi saat kontemplatif, bukan hanya untuk mengenang korban, tetapi juga untuk menakar sejauh mana bangsa ini telah belajar. Kita pernah hidup dalam ketakutan. Kita pernah terlalu reaktif. Tapi kini, kita bisa lebih bijak.

Tantangan belum selesai. Radikalisme bisa menjelma dalam bentuk baru. Tapi langkah damai yang dipilih oleh JI bisa menjadi modal sosial bagi gerakan deradikalisasi yang lebih manusiawi ke depan.

Kita perlu terus mendengar mereka yang memilih pulang dari jalan kekerasan. Mendengar dengan empati, bukan curiga. Karena perubahan tak selalu datang dari pidato atau peluru—tapi dari ruang-ruang sunyi yang diisi dengan pertanyaan, pengakuan, dan keberanian untuk berkata: kami salah, dan kami ingin memperbaiki.

Dari dentuman keras di Marriott, menuju langkah hening pembubaran JI, kita melihat dua sisi sejarah Indonesia dalam menghadapi terorisme. Hari ini, yang kita butuhkan bukan hanya pengamanan ketat, tapi juga ruang aman untuk bicara, untuk bertanya, dan untuk pulang.

Semoga kita tak hanya menjadi bangsa yang tangguh menghadapi teror, tapi juga bijak dalam merangkul perubahan.



Foto: Kondisi Hotel JW Marriot setelah ledakan bom (5/8/2003).[IST]

Komentar

Tulis Komentar