Di Tengah Gempuran Algoritma, Masihkah Rumah Menjadi Tempat Pulang?

Analisa

by Arti Rahardjo Editor by Arif Budi Setyawan

Baca tulisan sebelumnya: Ekstremisme Telah Berubah. Sudahkah Cara Kita Mencegahnya Ikut Berubah?

Pada tulisan sebelumnya, saya membahas bagaimana ruang digital kini menjadi tempat penting dalam pembentukan identitas.

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar persoalan teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian tentang ruang digital menunjukkan bahwa media sosial telah bergeser dari sekadar medium komunikasi menjadi ruang pembentukan identitas (identity formation) (Boyd, 2014). Tidak heran jika generasi saat ini sering disebut sebagai “digital native”, penduduk asli dunia maya yang fasih berbahasa digital.

Ketika sebagian proses membangun identitas berpindah ke ruang digital, konsekuensinya tidak hanya mempengaruhi cara remaja berteman atau mengekspresikan diri. Ruang yang sama juga menjadi lahan subur bagi ekstremisme kekerasan, yang menawarkan komunitas, makna, dan rasa memiliki kepada anak dan remaja. Dalam banyak kasus, pengalaman merasa diterima itulah yang datang lebih dahulu, sebelum seseorang benar-benar mengenal atau menerima ideologi ekstrem tersebut.

Di titik inilah keluarga menghadapi tantangan baru. Seolah bersaing dengan teknologi dalam memenuhi kebutuhan manusia yang paling mendasar tersebut. Kalau ruang digital kini mampu menawarkan semua itu, apa yang masih dimiliki keluarga, yang tidak dimiliki algoritma?

Memaknai Family Resilience di Tengah Gempuran Algoritma

Jika selama ini keluarga sering disebut sebagai benteng pencegahan ekstremisme, maka benteng seperti apa yang dimaksud? Di era ketika interaksi berlangsung hampir tanpa batas ruang dan waktu, pengawasan orang tua memiliki keterbatasannya sendiri. Mungkin, jawabannya terletak pada fungsi apa yang masih dapat dijalankan keluarga ketika sebagian proses pembentukan identitas seorang anak berlangsung di luar rumah.

Berbagai penelitian terbaru mengenai digital resilience menunjukkan bahwa pengawasan orang tua saja tidak cukup untuk membangun ketahanan anak di ruang digital. Yang justru lebih berpengaruh adalah kualitas hubungan antara orang tua dan anak, kemampuan berdialog, literasi digital, serta keberadaan orang dewasa yang dipercaya ketika anak menghadapi pengalaman di dunia digital (Zhang et al., 2024; Marinoni et al., 2024). Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa di era digital, peran keluarga bukan semakin berkurang, melainkan perlu dijalankan dengan cara yang berbeda. Bukan untuk mengawasi setiap layar, tetapi memastikan bahwa rumah tetap menjadi ruang yang dipercaya ketika seseorang mulai mempertanyakan dirinya, mencari jawaban, atau menghadapi kebingungan.

Dalam kajian keluarga, kemampuan untuk menghadapi perubahan dan tekanan tersebut dikenal dengan istilah family resilience. Konsep ini memandang keluarga yang kuat bukan sebagai keluarga yang bebas dari konflik, melainkan keluarga yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, menjaga komunikasi tetap terbuka, serta mempertahankan rasa saling percaya ketika menghadapi perbedaan maupun tekanan.

Namun, family resilience tidak berhenti pada kemampuan untuk mendengarkan. Keluarga juga memiliki peran untuk membimbing. Rumah bukan hanya tempat seseorang merasa diterima, tetapi juga tempat pertama ia belajar membedakan yang benar dan salah, memahami konsekuensi dari pilihannya, menghadapi perbedaan, serta membangun nilai yang akan menjadi pegangan ketika ia berhadapan dengan dunia di luar rumah.

Di sinilah keluarga memiliki sesuatu yang tidak dimiliki algoritma. Algoritma hanya dapat mengenali apa yang menarik perhatian seseorang dan terus menyajikan hal serupa. Sedangkan keluarga dapat membantu seseorang memahami apa yang ia lihat, mempertanyakan apa yang ia yakini, sekaligus mengajarkan nilai yang bisa dijadikan pegangan ketika menentukan pilihannya.

Keluarga memang tidak akan pernah mampu bersaing dengan algoritma dalam hal kecepatan. Algoritma mengenali kebiasaan kita dalam hitungan detik, sementara membangun kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi justru karena itulah keluarga bekerja dengan cara yang berbeda dari algoritma. Sudah semestinya keluarga menjadi tempat aman untuk kembali sekaligus tempat pertama untuk belajar memahami dunia.

Barangkali, di situlah makna family resilience pada era digital, bukan memastikan setiap langkah anggota keluarga selalu benar, melainkan membekali mereka dengan nilai dan kemampuan untuk menentukan arah sendiri. Menjadi tempat pertama yang mereka tuju, yang tidak hanya mendengarkan dan menerima, tetapi juga menuntun dan menjadi pegangan kala mereka membangun jati diri.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar