Dari Pertemanan ke Radikalisme: Ketika Kedekatan Mengubah Cara Pandang

Analisa

by Dr. Haris Amir Falah, M.A Editor by Arif Budi Setyawan

Saya mengenal radikalisme bukan dari buku atau seminar. Saya pernah berada di dalam lingkungan itu. Karena itu, ketika saya berbicara tentang bagaimana sebuah paham radikal menyebar, saya tidak sedang melihatnya dari kejauhan. Saya pernah melihat dan merasakan sendiri bagaimana sebuah gagasan dapat masuk ke dalam kehidupan seseorang, bukan dengan paksaan, melainkan melalui sesuatu yang sangat manusiawi: pertemanan.

Ketika masih duduk di bangku SMA, saya melihat bagaimana pertemanan menjadi pintu masuk yang sangat kuat. Semuanya bermula dari keakraban. Kami berbicara tentang agama, ketidakadilan, politik, dan kehidupan. Karena yang menyampaikan adalah teman yang dipercaya, nasihat terasa seperti kepedulian. Gagasan yang semula terdengar asing perlahan menjadi sesuatu yang biasa. Dari mendengarkan, kemudian membenarkan, lalu mengikuti. Pada akhirnya, tanpa terasa, cara seseorang melihat agama, masyarakat, bahkan negara dapat berubah.

Dari pengalaman itu saya memahami bahwa seseorang tidak selalu menjadi radikal karena sejak awal mencari ideologi ekstrem. Kadang ia hanya sedang mencari jawaban, mencari identitas, mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima. Di situlah sebuah gagasan dapat bekerja perlahan.

Mula-mula muncul keyakinan bahwa kelompok sendiri paling benar. Kemudian tumbuh sikap eksklusif, ketidakpercayaan terhadap kelompok lain, kebencian terhadap institusi negara, hingga pada tahap tertentu muncul pembenaran terhadap kekerasan. Prosesnya tidak selalu terlihat. Bahkan orang yang sedang mengalaminya belum tentu merasa dirinya sedang berubah.

Hari ini, jalur pertemanan itu menjadi jauh lebih kuat karena teknologi. Ketika saya masih remaja, pertemanan membutuhkan ruang dan pertemuan. Sekarang, seorang anak muda di sebuah desa dapat berkomunikasi setiap hari dengan seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya. Telepon genggam telah menghapus jarak.

Data APJII 2026 menunjukkan penetrasi internet Indonesia telah mencapai 81,72 persen atau sekitar 235,3 juta orang. Di wilayah perdesaan pun penetrasinya mencapai 78,18 persen. Ini berarti desa hari ini bukan hanya ruang sosial secara fisik, tetapi juga telah menjadi bagian dari ruang digital yang sangat luas.

Seorang anak muda dapat bertemu seseorang melalui media sosial, masuk ke grup percakapan, kemudian membangun hubungan yang semakin dekat. Percakapan yang awalnya sederhana dapat berkembang menjadi hubungan emosional. Ketika kepercayaan terbentuk, gagasan menjadi lebih mudah diterima. Teman tidak lagi harus duduk di samping kita. Ia bisa berada di kota lain, bahkan negara lain, tetapi setiap hari hadir melalui layar.

Karena itu, radikalisme hari ini dapat bergerak dari teman ke teman, dari layar ke layar, dari grup ke grup. Persoalannya bukan teknologinya, melainkan bagaimana ruang digital digunakan. Jika seseorang terus-menerus menerima narasi yang sama dan semakin jarang bertemu dengan pandangan yang berbeda, ruang berpikirnya dapat semakin sempit. Dunia digital yang seharusnya membuka cakrawala justru dapat berubah menjadi ruang gema yang terus menguatkan keyakinan yang sama.

Selain pertemanan, saya melihat perkawinan juga perlu mendapat perhatian. Perkawinan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga mempertemukan dua keluarga dan memperluas jaringan sosial. Dalam lingkungan yang sangat eksklusif, nilai dan pola pergaulan kelompok dapat ikut masuk ke dalam rumah tangga. Dalam kondisi tertentu, seseorang yang sebelumnya terbuka dapat perlahan menjauh dari teman lama, membatasi hubungan dengan keluarga, dan semakin tertutup terhadap lingkungan.

Namun kita harus berhati-hati. Jangan sampai kewaspadaan terhadap radikalisme berubah menjadi prasangka. Rajin beribadah, mengubah cara berpakaian, menikah dengan orang dari daerah tertentu, atau bergabung dengan komunitas keagamaan bukanlah bukti seseorang radikal. Yang harus diperhatikan adalah perubahan orientasi dan perilakunya: apakah muncul intoleransi, pengkafiran, kebencian terhadap kelompok tertentu, penolakan terhadap kehidupan berbangsa, atau pembenaran terhadap kekerasan.

Di sinilah desa memiliki posisi yang sangat strategis. Desa memiliki modal sosial yang besar karena warganya relatif saling mengenal. Keluarga, tokoh agama, pemuda, perempuan, dan berbagai kelompok masyarakat masih memiliki hubungan yang dekat. Tetapi kedekatan itu tidak otomatis menjadi ketahanan. Ketika anak muda kehilangan ruang aktualisasi, keluarga kehilangan komunikasi, masyarakat merasa tidak didengar, konflik dibiarkan, dan ketidakadilan dirasakan, akan muncul ruang kosong. Dan ruang kosong selalu mudah diisi oleh siapa pun yang menawarkan identitas, persaudaraan, dan jawaban sederhana atas persoalan yang kompleks.

Karena itu, pertanyaan kita jangan hanya, “Bagaimana menangkap orang yang sudah radikal?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Mengapa seseorang sampai membutuhkan kelompok ekstrem?”

Saya belajar dari pengalaman bahwa jawabannya tidak selalu karena kebencian. Kadang seseorang masuk karena sedang mencari tempat untuk diterima. Jika keluarga tidak mendengar, teman tidak peduli, dan lingkungan tidak memberi ruang, kelompok ekstrem bisa datang menawarkan semua itu.

Maka negara harus hadir sebelum semuanya terlambat. Tetapi negara tidak boleh hadir dengan menjadikan masyarakat sebagai tersangka. Negara harus hadir untuk memperkuat masyarakat: memperkuat keluarga, pendidikan, desa, tokoh agama, ruang kepemudaan, dan literasi digital.

Kita juga harus hadir di ruang tempat anak muda sekarang berkomunikasi. Tidak cukup hanya mengatakan, “Jangan membuka konten radikal.” Kita harus menghadirkan konten yang lebih baik. Tidak cukup mengatakan, “Jangan bergabung dengan kelompok ekstrem.” Kita harus menyediakan komunitas yang membuat anak muda merasa diterima tanpa harus membenci orang lain.

Desa pun jangan hanya dijadikan objek program pemerintah. Desa harus menjadi subjek pencegahan. Warga desa adalah orang-orang yang paling dekat dengan perubahan sosial di lingkungannya. Keluarga harus menjadi benteng pertama. Teman harus berani mengingatkan. Tokoh agama harus menjadi tempat bertanya. Pemerintah desa harus menjadi penghubung berbagai kekuatan masyarakat.

Saya percaya, radikalisme memang dapat menyusup melalui kedekatan. Tetapi kedekatan yang sama dapat menjadi benteng terkuat untuk menghentikannya.

Saya pernah masuk ke lingkungan radikal melalui pertemanan. Karena itu saya tahu betapa kuatnya pengaruh seorang teman terhadap perubahan seseorang. Dan karena pernah mengalami proses itu, saya juga percaya bahwa pendekatan kepada manusia jauh lebih penting daripada sekadar memberi label kepada manusia.

Jangan menunggu kegelisahan berubah menjadi kebencian. Jangan menunggu kebencian berubah menjadi kekerasan. Bangun ketahanan sejak seseorang masih mencari arah—di rumah, dalam keluarga, di antara teman, di desa, dan kini juga di ruang digital.

Sebab radikalisme dapat menyusup melalui satu hubungan. Tetapi satu hubungan yang sehat juga dapat menjadi alasan seseorang menemukan jalan pulang.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar