Meruntuhkan Ego Lembaga, Merajut Ketahanan Bangsa

Analisa

by Dr. Haris Amir Falah, M.A Editor by Arif Budi Setyawan

"Kalau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Kalau ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama."

Pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan upaya kita menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Masih ada pihak-pihak yang lebih sibuk menunjukkan siapa yang paling hebat, paling banyak bekerja, atau paling pantas mendapat penghargaan. Akibatnya, tenaga dan waktu yang seharusnya digunakan untuk melindungi masyarakat justru habis karena persaingan.

Kelompok radikal tidak peduli siapa korbannya. Mereka juga tidak peduli lembaga mana yang bertugas mencegah mereka. Yang mereka lakukan adalah bekerja sama, saling mendukung, dan memanfaatkan setiap kesempatan ketika pihak-pihak yang bertanggung jawab tidak kompak. Ironisnya, orang-orang yang sama-sama ingin menjaga keutuhan NKRI terkadang justru berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling bersaing.

Cara berpikir seperti ini harus diubah. Mencegah terorisme bukanlah ajang mencari nama atau popularitas. Ini adalah tugas mulia untuk melindungi nyawa manusia dan menjaga masa depan bangsa. Keberhasilan bukan diukur dari banyaknya seminar, besarnya anggaran, atau ramainya pemberitaan di media. Keberhasilan yang sebenarnya adalah ketika semakin sedikit orang yang terpengaruh paham radikal dan semakin kuat masyarakat menolak ajakan menuju kekerasan.

Karena itu, setiap pihak harus saling melengkapi, bukan saling berebut peran. Densus 88 memiliki kemampuan dalam penegakan hukum, penyelidikan, dan mendeteksi ancaman sejak dini. BNPT bertugas menyusun dan mengoordinasikan strategi nasional pencegahan terorisme. Organisasi kemasyarakatan memiliki jaringan yang dekat dengan masyarakat. Tokoh agama memberikan pemahaman agama yang benar agar tidak disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan. Tokoh masyarakat dan aparat desa lebih memahami kondisi warganya. Sementara itu, tokoh pemuda lebih mudah menjangkau generasi muda yang aktif di media sosial dan dunia digital.

Peran kampus juga sangat penting. Perguruan tinggi jangan hanya menjadi tempat mengadakan seminar. Kampus harus ikut mencari solusi melalui penelitian, memberikan masukan kepada pemerintah berdasarkan fakta, serta mengajarkan mahasiswa untuk berpikir kritis. Dengan begitu, generasi muda tidak mudah percaya pada informasi yang menyesatkan, ujaran kebencian, atau propaganda yang mengatasnamakan agama.

Selain itu, mantan narapidana terorisme yang sudah benar-benar kembali setia kepada NKRI juga bisa menjadi bagian dari solusi. Mereka tahu bagaimana kelompok radikal merekrut anggota, menyebarkan propaganda, dan memengaruhi orang lain. Pengalaman mereka sangat berharga karena berasal dari apa yang pernah mereka alami sendiri. Tentu saja, keterlibatan mereka harus tetap didampingi, dibina, dan dievaluasi agar berjalan dengan baik dan tetap dapat dipercaya oleh masyarakat.

Kolaborasi juga tidak boleh berhenti pada rapat atau penandatanganan nota kesepahaman. Kerja sama harus terlihat dalam tindakan nyata, seperti saling berbagi informasi, menyusun peta daerah yang rawan secara bersama, membuat program yang saling mendukung, serta melakukan evaluasi secara rutin. Kalau semua itu tidak dilakukan, maka kata "kolaborasi" hanya akan menjadi slogan tanpa hasil.

Yang juga penting adalah menghilangkan ego masing-masing lembaga. Tidak ada satu institusi pun yang mampu mengatasi radikalisme sendirian. Sebaliknya, sekecil apa pun kontribusi seseorang atau sebuah lembaga akan sangat berarti jika dilakukan bersama dan saling mendukung. Sudah saatnya budaya saling mengklaim keberhasilan diganti dengan budaya saling menghargai dan saling menguatkan.

Pada akhirnya, masyarakat tidak peduli siapa yang paling menonjol. Yang mereka inginkan adalah hidup dengan aman, anak-anak tumbuh tanpa terpapar paham kekerasan, media sosial menjadi ruang yang sehat, dan kehidupan bermasyarakat tetap rukun. Jika Densus 88, BNPT, akademisi, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, aparat desa, dan mantan narapidana terorisme yang telah berkomitmen kepada NKRI dapat duduk bersama, menyusun langkah yang sama, dan saling mendukung, maka ketahanan masyarakat menghadapi radikalisme akan menjadi semakin kuat.

Menghadapi ancaman yang dikerjakan secara bersama oleh kelompok radikal, kita juga harus menjawabnya dengan kebersamaan. Kolaborasi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan. Sebab, hanya dengan bersatu dan saling menguatkan, kita dapat memastikan bahwa kepentingan bangsa selalu berada di atas kepentingan pribadi, kelompok, maupun lembaga. 



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar