Ada masa ketika bom bukan hanya menghancurkan bangunan atau merenggut nyawa, tetapi juga merobek rasa percaya di antara manusia. Indonesia pernah melewati fase itu. Gereja dijaga ketat. Rumah ibadah lain ikut waspada. Orang-orang mulai melihat wajah asing dengan curiga. Bahkan doa pun terasa berjalan bersama rasa takut.
Namun waktu memperlihatkan sesuatu yang lain. Luka tidak selalu melahirkan dendam. Kadang justru melahirkan keteguhan yang diam-diam tumbuh di balik reruntuhan.
Berbagai liputan tentang perjalanan sejumlah penyintas dan jemaat gereja yang pernah menjadi sasaran teror memperlihatkan satu hal penting. Bahwa, terorisme mungkin mampu menciptakan ledakan sesaat, tetapi ia tidak selalu berhasil mengubah cara manusia memaknai iman dan kemanusiaan.
Di Indonesia, serangan terhadap rumah ibadah bukan sekadar peristiwa keamanan. Ia selalu membawa beban psikologis dan simbolik yang jauh lebih besar. Ketika gereja diserang, yang diguncang bukan hanya tembok dan kaca jendela, tetapi juga rasa aman, relasi sosial, dan keyakinan bahwa ruang ibadah adalah tempat paling damai yang seharusnya tak disentuh kebencian.
Bom gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018 menjadi salah satu titik paling gelap dalam ingatan publik. Bukan hanya karena banyak korban berjatuhan, tetapi karena pelakunya melibatkan satu keluarga secara utuh. Anak-anak dibawa masuk ke pusaran ideologi kematian. Indonesia seperti dipaksa menatap wajah ekstremisme dalam bentuk yang paling memilukan.
Beberapa tahun sebelumnya, Samarinda juga menyisakan luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Anak-anak menjadi korban saat bermain di halaman gereja. Sulit membayangkan bagaimana sebuah keyakinan bisa berubah begitu ekstrem hingga melihat ruang bermain anak sebagai target.
Lalu Makassar pada 2021 kembali mengingatkan bahwa ancaman itu belum benar-benar hilang. Bom meledak di depan gereja saat umat menjalankan ibadah Minggu Palma. Sekali lagi, rumah ibadah dijadikan panggung untuk menyebarkan pesan ketakutan.
Tetapi ada sesuatu yang menarik dari perjalanan pasca-peristiwa-peristiwa itu. Di tengah trauma, banyak jemaat justru tidak memilih jalan kebencian. Mereka tetap datang beribadah. Tetap membuka pintu gereja. Tetap menyalami tetangga yang berbeda agama. Ada keteguhan yang tidak berisik, tetapi kuat.
Mungkin di situlah ironi terbesar terorisme. Ia selalu berusaha memecah manusia, tetapi sering kali justru memperlihatkan kemampuan manusia untuk saling merangkul setelah tragedi.
Teror bekerja dengan logika ketakutan. Semakin masyarakat takut, semakin besar kemenangan simbolik yang dirasakan pelaku. Karena itu, dampak utama bom sebenarnya bukan hanya ledakan fisik, melainkan resonansi psikologisnya. Orang mulai saling mencurigai. Komunitas retak. Identitas agama berubah menjadi sekat sosial.
Dan media sosial sering memperparah semuanya.
Setelah berbagai aksi teror, ruang digital biasanya dipenuhi amarah, tuduhan, dan generalisasi. Ada yang dengan mudah menyalahkan kelompok agama tertentu secara keseluruhan. Ada pula yang memanfaatkan tragedi untuk memperkuat polarisasi politik dan identitas.
Padahal, dalam banyak kasus, mayoritas masyarakat justru menolak narasi kebencian itu. Sebuah penelitian tentang respons publik pasca-serangan teror menunjukkan bahwa banyak orang justru membela kelompok agama yang berpotensi menjadi sasaran stigma dan menolak penyederhanaan ekstremisme sebagai representasi agama tertentu.
Di Indonesia, respons semacam itu sebenarnya juga tampak cukup kuat. Setelah bom Surabaya, misalnya, publik tidak hanya menunjukkan kemarahan kepada pelaku, tetapi juga solidaritas lintas iman. Banyak orang mendatangi gereja, ikut menjaga keamanan, dan menyampaikan dukungan moral.
Momen-momen seperti itu memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang besar untuk melawan terorisme. Bukan hanya lewat pendekatan keamanan, tetapi juga melalui empati dan solidaritas sehari-hari.
Sayangnya, modal sosial ini sering kurang mendapat perhatian dibanding narasi kekerasan itu sendiri.
Padahal, jika diperhatikan lebih dalam, kekuatan terbesar bangsa ini mungkin justru terletak pada kemampuan masyarakat untuk tetap menjaga kewarasan di tengah provokasi. Warga yang ikut menjaga rumah ibadah agama lain. Orang-orang yang memilih menguatkan korban daripada menyebarkan potongan video berdarah.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak viral. Tetapi justru di situlah ketahanan sosial bekerja.
Refleksi lain yang penting adalah soal bagaimana kita memandang korban. Selama ini, korban teror sering hanya hadir sebagai angka statistik: sekian meninggal, sekian luka-luka. Padahal trauma mereka berlangsung jauh lebih panjang dibanding siklus pemberitaan media. Ada ketakutan yang menetap bertahun-tahun. Ada kecemasan saat kembali masuk rumah ibadah. Ada anak-anak yang tumbuh dengan ingatan tentang ledakan dan sirene.
Karena itu, pembicaraan tentang terorisme seharusnya tidak berhenti pada penangkapan pelaku atau keberhasilan operasi keamanan. Kita juga perlu bicara tentang pemulihan sosial dan psikologis. Tentang bagaimana masyarakat membantu korban kembali merasa aman. Tentang bagaimana ruang ibadah kembali menjadi tempat yang damai, bukan simbol ketakutan.
Dan mungkin yang paling penting adalah bagaimana agama dikembalikan menjadi ruang untuk memuliakan kehidupan, bukan membenarkan kematian.
Adalah fakta, bahwa terorisme selalu gagal memahami satu hal mendasar tentang manusia. Ketakutan memang bisa dipaksakan sesaat, tetapi harapan sering tumbuh jauh lebih lama.
Bom bisa menghancurkan pintu gereja. Bisa memecahkan kaca. Bisa meninggalkan luka mendalam. Tetapi ia tidak otomatis mampu menghancurkan iman, empati, dan kemanusiaan orang-orang yang memilih tetap percaya bahwa hidup harus dijalani tanpa kebencian.
Barangkali karena itulah, di banyak tempat yang pernah diguncang teror, yang akhirnya bertahan bukan suara ledakan, melainkan suara doa dan keteguhan manusia yang menolak tunduk pada rasa takut.[red]
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar