Di balik propaganda kelompok teror yang terlihat garang, heroik, dan memukau dengan segala narasi perjuangan, jihad, dan pengorbanan, ternyata tersimpan fakta-fakta yang jika ditelaah lebih dalam, justru terasa ironis dan bahkan terkesan lucu.
Faktanya, di balik akun-akun simpatisan kelompok teror yang rajin membagikan konten propaganda dan meramaikan jagat “per-jihad-an” online, terdapat individu-individu yang sejatinya masih kebingungan dengan arah dan tujuan hidupnya sendiri. Dari banyak kasus yang ditemui, mayoritas berasal dari rentang usia 11 hingga 18 tahun. Mereka adalah anak-anak dan remaja yang sebagian besar hanya ikut-ikutan, tanpa memahami secara utuh esensi, tujuan, maupun konsekuensi dari kelompok yang mereka ikuti dan banggakan.
Fenomena Ikut-Ikutan yang Membingungkan
Fenomena “kebingungan” ini kerap membuat para pakar dan praktisi heran. Bagaimana mungkin narasi ekstrem yang sarat kekerasan bisa begitu mudah diterima oleh anak-anak yang bahkan belum selesai memahami dirinya sendiri?
Contoh kecil dapat kita lihat di media sosial. Dari beberapa akun simpatisan kelompok teror yang pernah penulis ajak berinteraksi, ditemukan fakta bahwa sebagian besar dari mereka hanyalah remaja yang sekadar ingin ikut arus. Ada keinginan untuk dianggap keren, berbeda, atau lebih paham agama, meskipun pada kenyataannya pemahaman tersebut sangat dangkal dan tentu saja, sama sekali tidak keren.
Ekstremisme, bagi sebagian remaja, berubah menjadi semacam identitas instan: cepat, instan, dan terasa heroik, meski rapuh secara pengetahuan.
Mimpi Jihad yang Tak Dibungkus Pengetahuan
Saya pernah berdiskusi dengan seorang remaja simpatisan ISIS terkait tujuan hidupnya dalam lingkar radikalisme-terorisme. Ketika ditanya soal rencana ke depan atau tujuan terbesarnya, ia menjawab dengan penuh semangat dan antusias. Ia bercerita tentang keinginannya untuk berhijrah dan berjihad ke Suriah.
Ia bahkan mengaku memiliki relasi di Suriah yang akan memberinya informasi mengenai perkembangan situasi di sana, sehingga ia bisa berangkat ketika kondisi dianggap memungkinkan. Cerita itu terdengar luar biasa, ya setidaknya di permukaan.
Namun, ketika saya mencoba mengulik lebih dalam, muncul hal-hal yang justru mengundang tanya dan senyum heran.
Ketika Ditanya Paspor dan I’dad, Semua Berantakan
Saya bertanya apakah ia sudah memiliki paspor. Dengan raut bingung, ia menjawab bahwa dirinya hanya memiliki KTP, karena usianya memang baru menginjak usia wajib KTP. Pertanyaan pun berlanjut: apakah ia sudah melakukan I’dad?
Ia spontan bertanya balik, “I’dad itu apa?”
GUBRAAKKKK!
Saya hanya bisa tertawa kecil mendengar jawaban tersebut. Perlu diketahui, I’dad secara bahasa berarti persiapan. Dalam konteks jihad yang sering mereka dengungkan, I’dad mencakup persiapan fisik, mental, ilmu, hingga materi.
Bukan sebuah kewajiban memang bagi semua orang untuk memahami istilah-istilah bahasa Arab. Namun menjadi problematis ketika seseorang mengklaim diri sebagai “Mujahidin”, bercita-cita mendirikan negara Khilafah versi ISIS, ingin berperang dan tinggal di Suriah, tetapi tidak memahami konsep paling dasar dari apa yang ia sebut-sebut sebagai perjuangan.
Lucu, sekaligus memprihatinkan.
Konsumen Propaganda, Bukan Pejuang Ideologi
Pertanyaan pun muncul: apa sebenarnya yang mereka pelajari selama ini? Ataukah mereka hanya menjadi penikmat konten propaganda ISIS dan kelompok sejenis, lalu memberi makna sepihak pada dirinya sendiri bahwa ia adalah bagian dari perjuangan besar itu?
Jika demikian, maka yang terjadi bukanlah proses ideologisasi yang matang, melainkan konsumsi konten ekstrem tanpa filter. Mereka lebih tepat disebut sebagai konsumen propaganda, bukan pejuang ideologi.
Konyol? Bisa jadi. Tapi lebih dari itu, ini adalah alarm serius.
Remaja Bingung adalah Korban, Bukan Musuh
Meski terlihat konyol dan naif, penting bagi kita untuk menyadari satu hal krusial: para remaja yang kebingungan ini sejatinya adalah korban. Mereka adalah korban dari paparan pemahaman yang menyimpang, yang masuk melalui celah pencarian jati diri, emosi yang labil, dan minimnya literasi digital maupun keagamaan yang utuh.
Dan kabar baiknya, korban masih bisa diselamatkan.
Masih ada peluang besar bagi mereka untuk disembuhkan, dituntun kembali menuju jalan yang lebih rasional, humanis, dan membawa keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.
Tugas kita bersama selaku orang tua, pendidik, masyarakat, dan negara adalah terus berupaya mencegah sejak dini, memperkuat literasi, serta membentuk lingkungan sekitar kita yang aman dan bersih dari pengaruh paham radikalisme dan terorisme.
Karena di balik propaganda yang tampak garang dan menakutkan, sering kali yang kita temui hanyalah anak-anak yang sedang bingung mencari makna hidup, dan sayangnya, menemukan jawaban di tempat yang keliru.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi
Komentar