Game: Dari Propaganda ISIS ke Edukasi Toleransi

Analisa

by Akhmad Kusairi Editor by Redaksi

Beberapa waktu lalu, publik sempat dibuat heboh oleh imbauan Mendikdasmen Abdul Mu’ti agar anak-anak tidak memainkan Roblox. Alasannya? Game itu dianggap rentan menyisipkan adegan kekerasan dan konten yang bisa membahayakan perkembangan psikologis mereka. Tapi, mari kita mundur sejenak dari permainan kontroversial itu dan melirik dunia game dari sudut yang lebih luas.

Ketika Game Dijadikan Alat Rekrutmen Kelompok Ekstrem

ISIS pernah membuat versi modifikasi game Grand Theft Auto—diberi nama Grand Theft Auto: Salil al-Sawarem—berbasis game populer agar mudah diterima oleh generasi muda. Mereka menampilkan tokoh berpakaian hitam lengkap, menyerang tentara, bertujuan memompa moral dan merekrut pendukung baru. Semua disampaikan dalam trailer yang cukup mencolok di YouTube.

Kajian akademik turut mencermati hal ini. Ahmed Al-Rawi dalam kajian “Video games, terrorism, and ISIS’s Jihad 3.0” menjelaskan bahwa game tersebut bertujuan menarik perhatian dan publikasi, dengan teknik yang disebut "troll, flame, and engage". Komentar-komentar di YouTube, meski banyak menolak, tetap memicu pro kontra yang menghasilkan eksposur luas.

Di Indonesia, aparat juga mewaspadai tren ini. Kombes Dedy Tabrani menyampaikan dalam satu kuliah umum bahwa media sosial dan game online kini mulai digunakan sebagai jalur rekrutmen kelompok teroris terhadap generasi muda.

Game Bisa Menjadi Jembatan Toleransi dan Perdamaian

Untungnya, tidak semua game memiliki agenda gelap.

Ambil contoh PeaceMaker—game simulasi turn-based yang memungkinkan pemain berperan sebagai Perdana Menteri Israel atau Presiden Palestina. Dengan menggunakan data nyata seperti foto dan laporan berita, pemain harus mengatur keputusan politik, keamanan, maupun diplomasi dalam meraih solusi dua negara. Game ini dipuji sebagai simulasi edukatif yang mendalam dan emosional, bahkan pernah memberikan efek 'mengharukan' kepada beberapa pemain.

Ada pula game Bad News dan Harmony Square yang justru membuat pemain berperan sebagai penyebar hoaks, agar mereka paham cara kerja disinformasi. Bahkan, ada juga inisiatif Games for Peace mempertemukan anak-anak Israel dan Palestina lewat Minecraft, agar mereka bisa membangun kota virtual bersama.

Di Indonesia, kreator lokal juga tidak tinggal diam. PeaceGeneration Indonesia menyelenggarakan program Board Game for Peace (BGFP), dengan dua board game unggulan: Galaxy Obscurio dan The Rampung.

  • Galaxy Obscurio mengajak pemain sebagai alien pelindung planet dari virus mematikan. Kejujuran, manipulasi, dan kerja sama diuji—tujuannya menanamkan kolaborasi sebagai kunci menjaga kedamaian galaksi. Narasi konflik diselubungi metafora—tidak eksplisit menyebut radikalisme—agar pesan lebih efektif ditangkap.

  • The Rampung (singkatan dari Rawat Kampung) menyajikan narasi lebih eksplisit. Pemain menghadapi tokoh teroris yang merekrut warga desa, dan harus menangkal radikalisme melalui kerja sama. Game ini telah dimainkan sekitar 5.000 anak muda dalam festival di 12 kota se-Indonesia.

Secara kombinasi, program BGFP telah menjangkau lebih dari 2.000 pemuda di 12 kota, meningkat dari 358 peserta awal. Dampaknya terlihat dari peningkatan pemahaman anti-ekstremisme (skor VEDS, alias Violence Extremism Attitudes, menurun) dan banyak alumni yang terus mengajak perdamaian di komunitas mereka.

Pisau Bermata Dua

Pada akhirnya, game itu adalah alat—bisa digunakan untuk mendesak kepentingan berbahaya, tapi juga mampu menjadi sarana belajar toleransi.

Jika kelompok ekstrem berhasil mengisi ruang digital dengan narasi radikal, game bisa menjadi pintu masuk ideologi berbahaya. Tetapi dengan kreativitas seperti BGFP atau PeaceMaker, game bisa memperkuat empati, berpikir kritis, dan membangun jembatan perdamaian.

Sudah saatnya—mungkin—BNPT dan pemerintah lebih memperhatikan potensi game dalam program pencegahan radikalisme-ekstrimisme. Jika digunakan secara tepat, game bukan jebakan, tapi bisa menjadi benteng generasi muda.

***

Daftar Rujukan

  1. Video game modifikasi ISIS, Grand Theft Auto: Salil al-Sawarem, sebagai alat propaganda dan rekrutmen serupa GTA. (Islami[dot]co, International Business Times UK)

  2. Kajian Ahmed Al-Rawi mengenai strategi ISIS menggunakan game untuk engagement publik. (Tandfonline, RePub, Academia, firstmonday.org)

  3. Pernyataan Kombes Dedy Tabrani mengenai media sosial dan game online sebagai alat rekrutmen teroris di Indonesia. (Kilas Aceh)

  4. Game edukatif PeaceMaker yang mempromosikan perdamaian melalui simulasi konflik nyata. (Wikipedia)

  5. Program BGFP oleh PeaceGeneration, Galaxy Obscurio, dan The Rampung sebagai media edukasi perdamaian. (PeaceGeneration Indonesia, khub.id, conveyindonesia.com, Ayo Bandung, liputan6.com, kummara.com)

Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar