Anak yang Selamat dari Ledakan Orang Tuanya, Lalu Mewarisi Luka

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Redaksi

Pagi itu, 14 Mei 2018, halaman Polrestabes Surabaya berubah menjadi kepanikan. Sebuah sepeda motor berhenti di pintu masuk. Lalu ledakan terjadi. Asap membubung. Tubuh-tubuh terpental. Orang-orang berlari tanpa benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi.

Sehari sebelumnya, Surabaya juga baru diguncang rentetan bom di gereja-gereja. Kota itu seperti kehilangan napas dalam satu malam.

Namun dari semua potongan tragedi itu, ada satu fragmen yang jarang benar-benar dibicarakan secara utuh. Seorang anak perempuan kecil yang selamat dari ledakan di Mapolresta Surabaya.

Ia bukan warga yang kebetulan lewat. Ia adalah bagian dari keluarga pelaku.

Tubuh kecilnya terpental dari motor yang dikendarai orang tuanya menuju gerbang kantor polisi. Rekaman CCTV yang beredar saat itu memperlihatkan seorang anak berjalan limbung setelah ledakan, sebelum akhirnya diselamatkan seorang polisi. Gambar itu kemudian menyebar ke mana-mana—menjadi simbol betapa terorisme bukan hanya menghancurkan target serangan, tetapi juga menghancurkan anak-anak yang lahir di dalam lingkarannya sendiri.

Baca juga: 8 Tahun Bom Surabaya: Dari Luka Teror Menuju Keteguhan Sosial

Publik waktu itu marah. Tak sedikit yang sulit menerima bagaimana orang tua bisa membawa anak ke dalam aksi bunuh diri. Tetapi di balik kemarahan itu, ada pertanyaan yang mengganggu saya. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak yang tersisa setelah ledakan selesai?

Sebagai orang yang pernah menyaksikan anak-anak yang masuk penjara karena terjebak dalam kondisi tak ideal, saya waktu itu meyakini, anak pelaku bom bunuh diri ini pasti akan menghadapi banyak persoalan besar di masa depannya.

Dalam banyak kasus terorisme, perhatian publik biasanya berhenti pada dua hal: pelaku dan korban serangan. Setelah itu, negara bergerak pada aspek penegakan hukum, pengungkapan jaringan, dan ancaman keamanan.

Tetapi anak-anak pelaku sering berada di ruang abu-abu.

Mereka bukan pelaku utama. Mereka juga—pada saaat itu—tidak sepenuhnya dipandang sebagai korban. Mereka hidup di tengah stigma, trauma, dan identitas yang retak bahkan sebelum cukup umur untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Anak perempuan pelaku Bom Mapolresta Surabaya itu kemudian dirawat intensif. Ia mengalami luka fisik dan trauma psikologis. Dalam proses penanganannya, sejumlah lembaga negara dilibatkan. Mulai dari aparat keamanan, pekerja sosial, psikolog, hingga lembaga perlindungan anak.

Namun yang menarik bukan hanya soal perawatan medisnya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana negara akhirnya memilih untuk melihatnya. Bukan sebagai “bibit teroris”. Melainkan sebagai anak.

Perbedaan cara pandang itu sangat menentukan masa depan seseorang. Sebab ketika seorang anak langsung dicap sebagai ancaman, maka yang lahir adalah pengucilan. Tetapi ketika ia dipandang sebagai manusia yang harus diselamatkan dari warisan kekerasan, maka masih ada ruang untuk pemulihan.

Di titik itulah penanganan kasus ini menjadi penting untuk direnungkan. Kita sering lupa bahwa anak-anak di lingkungan ekstremisme tumbuh dalam dunia yang tidak mereka pilih sendiri.

Mereka lahir dari orang tua tertentu, hidup dalam pola pendidikan tertentu, mendengar percakapan tertentu setiap hari, dan sering kali menerima doktrin bahkan sebelum mampu membedakan mana ketakutan dan mana keyakinan.

Bagi sebagian anak, dunia luar mungkin diperkenalkan sebagai ancaman. Negara diposisikan sebagai musuh. Perbedaan dianggap permusuhan. Dan kematian bisa dibingkai sebagai kemuliaan.

Ketika bom meledak di Surabaya tahun 2018, publik melihat teror. Tetapi bagi sebagian anak pelaku, mungkin itu adalah hari ketika seluruh dunia yang mereka kenal mendadak runtuh.

Orang tua mereka hilang dalam ledakan. Rumah dan identitas sosial mereka berubah dalam semalam. Nama keluarga menjadi beban. Tatapan orang lain berubah. Dan mereka harus tumbuh dengan memori yang bahkan sulit dijelaskan oleh orang dewasa.

Karena itu, proses pemulihan anak-anak seperti ini tidak bisa hanya berhenti pada penyelamatan fisik. Mereka membutuhkan pendampingan panjang: psikologis, sosial, pendidikan, bahkan pendampingan identitas diri.

Mereka perlu belajar bahwa hidup tidak harus berjalan mengikuti jejak orang tuanya. Dan itu bukan proses singkat.

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan terhadap anak-anak yang terkait jaringan terorisme memang mulai berubah. Negara perlahan memahami bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup. Ada kebutuhan untuk menghadirkan pendekatan perlindungan anak dan reintegrasi sosial.

Ini penting karena stigma sering kali menjadi bom kedua bagi mereka.

Masyarakat kadang tidak sadar bahwa stigma sosial bisa menghancurkan masa depan anak jauh lebih lama daripada luka fisik. Anak bisa kesulitan sekolah, dijauhi lingkungan, bahkan tumbuh dengan kemarahan baru akibat penolakan yang terus menerus mereka alami. Di lapangan, saya menjumpai beberapa bukti akan hal ini.

Ironisnya, penolakan sosial justru bisa menjadi pintu masuk bagi siklus radikalisasi berikutnya. Anak yang merasa dibenci oleh lingkungannya akan lebih mudah mencari tempat yang mau menerimanya—dan kelompok ekstrem sering memahami celah psikologis itu dengan sangat baik.

Karena itu, keberhasilan penanganan anak-anak korban jejaring terorisme tidak hanya bergantung pada negara, tetapi juga pada kemampuan masyarakat menyediakan ruang aman bagi mereka untuk tumbuh ulang sebagai manusia biasa. Bukan sebagai simbol dosa orang tuanya.

Kasus anak perempuan pelaku Bom Mapolresta Surabaya juga mengingatkan kita pada satu hal penting, bahwa terorisme selalu meninggalkan generasi yang tertinggal.

Kadang mereka tertinggal di penjara. Kadang di panti sosial. Kadang di rumah-rumah yang tiba-tiba kehilangan ayah dan ibu sekaligus. Kadang tumbuh dengan nama keluarga yang terus dikaitkan dengan ledakan bertahun-tahun setelah kejadian berlalu.

Dan sebagian besar dari mereka menjalani semua itu tanpa pernah benar-benar memilih.

Di sinilah kemanusiaan kita diuji. Apakah kita mampu memisahkan antara pelaku dan anak-anak yang lahir di sekitarnya?

Apakah kita mampu melihat bahwa menyelamatkan seorang anak dari lingkaran kebencian juga merupakan bagian dari menjaga keamanan masa depan?

Sebab tidak semua bom meledak dalam bentuk ledakan. Sebagian justru meledak perlahan dalam bentuk trauma, stigma, kehilangan identitas, dan rasa ditolak. Dan jika luka-luka itu tidak ditangani, ia bisa diwariskan diam-diam ke generasi berikutnya.

Delapan tahun setelah bom Surabaya, publik mungkin mulai lupa detail peristiwanya. Tetapi bagi anak-anak yang hidup di dalam bayang-bayang tragedi itu, ledakan tersebut mungkin belum pernah benar-benar selesai.

Mereka masih tumbuh sambil belajar memahami siapa dirinya. Belajar memisahkan cinta kepada orang tua dari kesalahan yang dilakukan orang tuanya. Belajar mengenali dunia luar tanpa rasa takut. Dan belajar bahwa masa depan tidak selalu harus mengikuti masa lalu.

Mungkin itulah pekerjaan paling sunyi dalam penanganan terorisme. Bukan hanya menghentikan orang yang ingin meledakkan bom, tetapi juga menyelamatkan anak-anak yang tersisa setelah ledakan terjadi.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar