Tidak semua tahun bergerak dengan gegap gempita. Ada tahun-tahun yang berjalan pelan, nyaris tanpa bunyi, atau seperti perahu kecil yang terus mengayuh di laut tenang. Bagi Ruangobrol, paruh pertama 2025 adalah tahun yang semacam itu. Dari Januari hingga Juli, hari-hari berlalu dengan ritme yang nyaris seragam. Artikel tetap terbit, rata-rata lima belas tulisan per bulan, namun tidak ada lonjakan, tidak ada peristiwa yang terasa mengubah arah.
Sebagian kontributor lama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sebagian lain memilih diam, mungkin karena lelah, mungkin karena hidup memang meminta perhatian di tempat lain. Ruangobrol tetap berjalan, tapi seperti perahu yang mengapung di air tenang –tidak karam, tapi juga belum berlayar jauh.
Lalu, suatu siang di penghujung Juli, sebuah pesan masuk ke kotak direct message Instagram redaksi. Pesannya tidak panjang. Tidak dramatis. Hanya perkenalan singkat dari seorang perempuan yang mengaku sebagai penyintas radikalisme. Ia menghubungi kami atas rekomendasi seorang mantan narapidana terorisme yang pernah bertemu tim Ruangobrol dalam kegiatan lapangan.
Pesan itu, kelak, akan menjadi salah satu penanda penting tahun ini.
Perempuan itu bercerita bahwa ia dan sahabatnya baru saja membentuk sebuah komunitas kecil bernama WAVE Community –Women Against Violent Extremism. Usianya saat itu baru sekitar satu minggu. Lahir bukan dari perencanaan matang, melainkan dari kegelisahan yang terlalu lama dipendam. Dari kebutuhan akan ruang aman bagi perempuan-perempuan yang pernah terseret, terpapar, dan terluka oleh ideologi kekerasan.
Percakapan berlanjut ke sambungan telepon. Di sana, kisah itu mengalir pelan, nyaris seperti bisikan. Tentang masa-masa ketika radikalisme mencabut mereka dari sekolah, menjauhkan dari keluarga, dan mengubah hidup menjadi rangkaian keputusan yang diambil tanpa benar-benar memahami akibatnya. Tentang kekacauan, tentang kehilangan arah.
Kesadaran memang akhirnya datang. Jalan keluar ditemukan. Namun pulang, ternyata bukan perkara sederhana. Masyarakat tidak selalu siap menerima. Kepercayaan yang rusak tidak serta-merta pulih. Trauma menetap lebih lama dari yang dibayangkan.
Kini mereka telah kembali berkuliah, kembali berani bermimpi. Tapi menoleh ke belakang, ada kesadaran lain yang muncul: masih banyak perempuan di luar sana yang belum sampai pada titik ini. Yang masih tenggelam dalam sunyi, dalam rasa bersalah yang tidak sepenuhnya milik mereka.
WAVE Community dibangun untuk mereka. Untuk mewadahi suara perempuan penyintas. Untuk menyampaikan satu pesan penting kepada publik: bahwa dalam pusaran radikalisme, perempuan sering kali bukan pelaku utama, melainkan korban yang jarang diberi ruang bicara.
Ruangobrol mendengarkan dengan saksama. Dan seperti pada banyak kisah sebelumnya, Ruangobrol menawarkan untuk menulis. Berbagi cerita. Merekam pengalaman agar tidak hilang, agar bisa menjadi pelajaran. Demi keamanan dan kenyamanan, identitas bisa disamarkan. Yang penting, kisahnya sampai.
Pada 9 Agustus 2025, artikel pertama dari WAVE Community terbit. Sejak hari itu hingga akhir tahun, 27 tulisan lahir dari tangan para perempuan penyintas. Dua puluh tujuh potongan pengalaman, luka, dan keberanian yang pelan-pelan memperkaya cara kita memahami ekstremisme.
Belum lama gema itu mereda, pintu lain kembali diketuk.
Akhir September 2025, sebuah pesan masuk dari seorang pemuda. Ia mengaku pernah mengikuti kegiatan Ruangobrol di Bandar Lampung beberapa bulan sebelumnya. Ia mengirimkan foto sebagai penguat ingatan. Ia ingin mengenal Ruangobrol lebih jauh.
Percakapan berlanjut. Namanya kemudian muncul: Ilham Alfarizi. Mantan “mujahid media” Jamaah Anshar Daulah. Baru bebas dari penjara pada akhir Maret 2025. Masa lalunya yang berat, membuatnya tidak mudah diceritakan begitu saja.
Ia kemudian ingin menulis. Itu saja.
Keraguan menyertai langkah awalnya. Menggunakan nama asli terasa berisiko. Stigma belum sepenuhnya reda. Jejak masa lalu masih membayang. Tulisan pertamanya pun terbit tanpa identitas jelas, seolah ia masih berdiri di ambang pintu dan ragu melangkah masuk.
Diskusi demi diskusi berlangsung. Hingga akhirnya Ilham mengambil keputusan yang besar: menulis dengan nama aslinya. Sebuah pernyataan bahwa ia tidak lagi bersembunyi, bahwa ia siap bertanggung jawab atas kata-katanya dan menerima segala risikonya.
Sejak awal Oktober 2025, dua puluh artikel telah ia tulis di Ruangobrol. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk seseorang yang belum genap tiga bulan bergabung. Tulisan-tulisannya lahir dari refleksi panjang, dari upaya memahami ulang masa lalu, dan dari keinginan memutus lingkaran kekerasan melalui narasi.
Kehadiran WAVE Community dan Ilham Alfarizi mengubah wajah Ruangobrol di paruh kedua 2025. Angka publikasi meningkat. Total 230 artikel terbit sepanjang tahun, naik dari 202 artikel pada tahun sebelumnya. Namun yang lebih penting dari angka adalah maknanya.
Bahwa Ruangobrol dipercaya sebagai ruang aman. Sebagai tempat pulang bagi suara-suara yang pernah disingkirkan. Bahwa upaya pencegahan ekstremisme tidak selalu harus berbentuk seruan keras dan jargon kewaspadaan, melainkan bisa hadir sebagai kisah manusia yang jujur, rapuh, dan apa adanya.
Bagi Ruangobrol, tahun 2025 tidak ditandai oleh satu peristiwa besar. Ia ditandai oleh keberanian-keberanian kecil. Pesan yang dikirim tanpa kepastian akan dibalas, keputusan menulis dengan nama asli, dan cerita yang akhirnya dipilih untuk tidak lagi disimpan sendiri.
Dan dari sanalah Ruangobrol melangkah. Tidak dengan teriakan, tetapi dengan mendengarkan dan memberikan kesempatan.
Ilustrasi by AI.(ChatGPT)
Komentar