Ada momen-momen di mana sebuah negeri berkaca pada dirinya sendiri—dan sering kali, bayangan yang kembali adalah wajah seorang ibu. Wajah yang letih, waspada, tapi tak pernah benar-benar menyerah.
Di banyak rumah di Indonesia, Hari Ibu sering dirayakan dengan rangkaian bunga plastik, ucapan manis, dan foto keluarga yang diunggah ke media sosial. Tapi di balik layar-layar kecil yang sama, ada realitas lain yang jarang muncul dalam linimasa: perempuan dan anak-anak yang menjadi sasaran empuk jejaring ekstremisme digital.
Kami di Ruangobrol percaya, Hari Ibu bukan hanya perayaan kehangatan keluarga, tetapi juga ruang untuk menatap luka-luka sosial yang diam-diam tumbuh di sekitar kita. Tahun ini, salah satu luka itu berbentuk sebuah ironi: 110 anak Indonesia terekrut oleh jaringan teror, sebagian besar dari balik layar ponsel mereka.
110 Anak yang Direkrut Lewat Dunia Digital: Fakta yang Tidak Bisa Diabaikan
Pertengahan November yang lalu Indonesia diguncang oleh temuan yang membuat dada terasa sesak: sebanyak 110 anak teridentifikasi telah terpapar atau direkrut oleh jaringan teror melalui berbagai platform digital. Mereka berumur belasan; sebagian bahkan masih usia SMP dan SD. Proses perekrutannya berlangsung diam-diam, lewat percakapan privat, gim online, forum khusus, hingga komunitas-komunitas belajar yang disisipi propaganda.
Dari hasil penelusuran Ruangobrol dalam berbagai laporan dan wawancara dengan pegiat deradikalisasi, terlihat dengan jelas bahwa pola perekrutan ini semakin tidak kasat mata. Tidak lagi mengandalkan pertemuan fisik atau pendekatan ideologis yang kaku, tetapi dengan cara yang lebih halus: membangun kedekatan emosional, menawarkan “keluarga baru”, dan membungkus ide kekerasan dengan narasi heroik ala generasi Z.
Dalam ruang-ruang digital itu, anak-anak disuguhi konten yang tampak religius, tapi perlahan digeser menjadi glorifikasi kemartiran, cerita konspirasi global, hingga ajakan eksplisit untuk bergabung dalam kelompok tertentu. Fenomenanya berjalan cepat, sunyi, dan nyaris tak terlihat oleh orang tua—bahkan oleh ibu, yang biasanya paling peka terhadap perubahan sikap anak.
Bagi kami di Ruangobrol, statistik 110 anak itu bukan sekedar angka. Itu alarm keras bahwa ruang aman keluarga telah ditembus oleh algoritma dan manipulator digital yang tahu persis di mana celahnya.
Perempuan Dalam Pusaran Radikalisme: Target, Alat, dan Korban
Jika anak-anak rentan karena rasa ingin tahu dan pencarian jati diri, maka perempuan sering menjadi sasaran karena posisi sosialnya: sebagai pengasuh, penjaga moral rumah, sekaligus penopang emosional keluarga. Banyak kelompok ekstrem memanfaatkan citra keibuan untuk membungkus propaganda: perempuan diglorifikasi sebagai “tulang punggung jihad”, “penjaga kesucian keluarga”, atau “ibu para pahlawan syahid”.
Dari riset dan peliputan Ruangobrol sejak 2018, pola rekruitmen perempuan terlihat semakin sistematis: mereka diposisikan sebagai penyebar narasi, perekrut non-formal, hingga pelaku aksi. Perempuan tidak hanya menjadi korban, tetapi kadang didorong ke posisi pelaksana, dengan janji-janji spiritual atau romantisasi perjuangan.
Di tengah dinamika itu, muncul satu fenomena menarik: gelombang perempuan penyintas radikalisme yang berani bicara. Dipimpin oleh seorang ibu muda berusia 24 tahun, ibu dari seorang anak perempuan berusia 5 tahun, dan penyintas radikalisme. Mereka bukan sekadar pulih dan menjauh dari ideologi keras, tetapi memilih mengubah pengalaman kelam menjadi edukasi publik. Dan di sinilah salah satu komunitas penting memainkan peran: WAVE Community.
WAVE Community: Ketika Perempuan Melawan Narasi Kebencian
WAVE Community dibangun oleh sekelompok perempuan yang pernah bersentuhan langsung dengan radikalisme—baik sebagai korban, keluarga, atau individu yang pernah terpapar. Komunitas ini menjadi ruang aman bagi perempuan untuk belajar, bicara, dan memahami bagaimana propaganda ekstrem bekerja, khususnya melalui dunia digital.
Bagi kami di Ruangobrol yang kerap berinteraksi dengan para penyintas ini, keberadaan WAVE Community terasa seperti jawaban atas kekosongan yang lama ada dalam ekosistem pencegahan ekstremisme: suara perempuan yang berbicara atas pengalaman mereka sendiri.
Gerakan ini menolak pendekatan yang menggurui. Mereka tidak datang membawa jargon keamanan, melainkan cerita manusiawi tentang bagaimana radikalisme mempengaruhi keluarga, pernikahan, pendidikan anak, dan masa depan mereka sendiri. Cerita-cerita itu membuat isu radikalisasi terasa dekat—nyata—dan menyentuh.
Dalam beberapa kegiatan, WAVE mengajak perempuan untuk membedah konten digital: bagaimana mengenali narasi manipulatif, membaca pola perekrutan, sampai melacak perubahan perilaku mencurigakan pada pasangan atau anak. Mereka bekerja dari dapur, ruang tamu, smartphone sederhana—tapi dampaknya jauh lebih kuat daripada kampanye formal yang sering gagal menyentuh akar masalah.
Baca juga: WAVE: Gelombang Harapan dari Perempuan Penyintas Radikalisme
Mengapa Ibu Bisa Menjadi Garis Pertama Pertahanan
Salah satu refleksi penting yang sering muncul dalam penelusuran kami adalah: ibu adalah pihak yang paling sering melihat tanda-tanda awal radikalisasi, bahkan sebelum negara melihatnya.
Ibu biasanya tahu jika anaknya: mulai menghindari kegiatan sosial, tiba-tiba berganti gaya bicara ke pola yang kaku dan hitam-putih, lebih mudah tersinggung, menghabiskan waktu berjam-jam dengan ponsel atau laptop, atau mulai menyimpan rahasia dalam kelompok digital tertentu.
Namun, banyak ibu tidak memiliki pengetahuan untuk memahami bahwa perubahan kecil itu bisa terkait dengan proses radikalisasi. Mereka hanya merasa ada yang “aneh”, tapi tidak tahu harus bertanya ke siapa.
Inilah sebabnya, menurut WAVE Community, pemberdayaan perempuan bukan hanya strategi sosial—tapi strategi keamanan yang nyata. Ketika ibu diberi ruang untuk memahami mekanisme propaganda digital, mereka bisa memberi intervensi paling awal: intervensi yang lembut, penuh empati, dan lebih ampuh daripada pendekatan represif.
Dalam percakapan dengan aktivis WAVE Community, sering muncul kalimat yang menusuk: “Terorisme itu masuk lewat celah yang tidak kita jaga.” Dan celah terbesar zaman ini adalah ketidaktahuan digital.
Baca juga: WAVE Community: Suara Perempuan Penyintas untuk Dunia yang Lebih Damai
Hari Ibu adalah momen yang tepat untuk mengingatkan bahwa menjadi ibu zaman now berarti harus beradaptasi dengan ancaman baru: mengenali modus rekruitmen online, memahami bahasa-bahasa propaganda, dan tak segan mencari bantuan saat melihat tanda bahaya.
Ini bukan beban baru untuk ibu—ini panggilan bagi seluruh ekosistem sosial kita untuk menopang mereka.
Peran Media Seperti Ruangobrol: Menyuarakan, Mendokumentasikan, Menyembuhkan
Sebagai ruang belajar bersama, Ruangobrol sejak awal berdiri berusaha menjembatani kisah-kisah personal para penyintas dengan kebutuhan masyarakat untuk memahami ekstremisme secara lebih manusiawi. Kami percaya bahwa narasi yang jujur, empatik, dan berbasis pengalaman punya kekuatan untuk mencegah orang lain jatuh ke lubang yang sama.
Pada Hari Ibu ini, kami merasa semakin penting untuk memberi panggung kepada suara-suara perempuan yang selama ini jarang terdengar: ibu dari anak yang terpapar, istri mantan napi terorisme, perempuan yang pernah direkrut lewat ruang digital, atau mereka yang kini mengabdi sebagai agen literasi dan edukasi dalam komunitas mereka.
Dengan begitu kami berharap pembaca bisa melihat bahwa isu radikalisme bukan persoalan jauh di luar sana. Ia bisa masuk ke rumah mana pun. Dan karena itu, perempuan—terutama ibu—patut mendapatkan dukungan yang lebih kuat dari negara, masyarakat, dan media.
Untuk Semua Ibu yang Selalu Menjaga Meski Tak Terlihat
Kami tahu banyak ibu yang berjuang dalam diam—mengawasi layar ponsel anaknya, mendengar perubahan nada bicara pasangan dan anak-anaknya, atau mencoba memahami dunia digital yang terasa asing. Kami tahu sebagian dari kalian pernah berhadapan dengan ketakutan yang tidak punya bentuk, tapi nyata. Dan kami tahu bahwa sering kali, kalian tidak mendapatkan cukup ruang untuk bercerita.
Hari Ibu bukan hanya tentang merayakan kasih sayang seorang ibu, tapi juga keberaniannya. Keberanian untuk bertanya, untuk curiga pada hal yang tidak biasa, untuk mencari bantuan, untuk bangkit setelah pengalaman pahit, dan untuk menolak menjadi korban diam dari ideologi yang ingin memecah keluarga.
Dari kami, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bahwa perjuangan kalian tidak sendirian. Ada ibu lain yang bangkit. Ada komunitas seperti WAVE yang berdiri bersama kalian. Dan ada kami yang akan terus menyuarakan kisah-kisah ini—agar dunia digital tak lagi menjadi ruang gelap bagi anak dan keluarga Indonesia.
Ilustrasi: By AI.(ChatGPT)
Komentar