Oleh: Arti Rahardjo
Jumat siang, 7 Oktober 2025, 2 buah petasan yang dirakit menyerupai bom meledak di musala SMA Negeri 72 Jakarta (Kelapa Gading Utara) saat siswa dan guru sedang melakukan salat Jumat. Segera saja linimasa X dan TikTok dibanjiri pembahasan yang bikin merinding. Pelaku peledakan yang merupakan siswa SMA itu sendiri, sempat mengunggah sebuah foto di akun TikTok beberapa jam sebelum aksinya. Di foto itu, ia berdiri di kamar mandi, membentuk simbol tangan OK terbalik, yang dikenal sebagai tanda white supremacist, dengan caption “Here it comes”. Sekilas, terlihat seperti konten iseng khas anak muda. Tapi di balik gesture dan caption itu, tersimpan tanda-tanda keterhubungan dengan pola yang selama ini muncul dalam berbagai tragedi penembakan massal di luar negeri.
Pelaku menunjukkan pola yang mengingatkan pada fenomena ekstremisme generasi internet. Di senjatanya ditemukan nama-nama pelaku penembakan berkulit putih, tulisan “Natural Selection”, “14 words”, dan “For Agharta” yang merupakan slogan-slogan white supremacist dan penggemar teori konspirasi. Di akun TikTok-nya, hashtag #tcc dan #teeceecee kerap ia gunakan. TCC awalnya merupakan singkatan dari True Crime Community, komunitas bagi peminat topik True Crime, tapi kini berkembang menjadi ruang digital yang mengidolakan pelaku penembakan massal yang mengubah singkatan TCC menjadi The Columbine Community. Nama yang diambil langsung dari tragedi penembakan massal di Columbine High School, Amerika Serikat pada 1999 silam.
Fenomena ini membuka bab baru dalam diskursus ekstremisme di Indonesia. Tidak ada organisasi, tidak ada ideologi, tidak ada forum tertutup. Yang ada hanyalah seorang remaja chronically online yang hidup di dalam algoritma. Ia tumbuh dari konten, menyerap budaya barat tanpa konteks, dan memaknai kekerasan sebagai ekspresi eksistensi. Senjata mainan yang tidak sempat ia gunakan, penuh dekorasi berbagai slang white supremacist yang ia pelajari bukan dari buku sejarah, melainkan dari meme culture dan forum daring.
Ironisnya, ia sendiri berkulit sawo matang. Dalam ideologi yang ia tiru, ia seharusnya menjadi korban, bukan pengikut. Tapi di dunia maya, logika identitas terhapus oleh bahasa visual dan slang global yang membuat kekerasan terasa keren.
Kejadian ini mengingatkan saya pada serial Netflix “Adolescence”, yang menggambarkan remaja yang tersesat dalam dunia maya, kehilangan arah moral, dan mencari identitas lewat budaya kekerasan digital. Dalam ekosistem seperti itu, toxic masculinity menjadi bumbu yang memperparah keadaan. Banyak konten di TikTok dan forum daring yang mengagungkan citra laki-laki “kuat, dominan, dan tanpa empati”, dalam bentuk video latihan senjata, dark jokes, hingga meme yang meremehkan kehidupan. Semua dikemas ringan, menghibur, bahkan lucu. Remaja chronically online menjadi terbiasa melihat tragedi sebagai tontonan, dan kematian sebagai konten. Bagi mereka yang sedang mencari jati diri, semua itu bisa berubah menjadi doktrin terselubung : bahwa kekerasan adalah validasi.
Pencarian jati diri kini terjadi demi visual, dan instan. Bagi remaja yang chronically online makna Personality bukan lagi hasil perjalanan self-expression yang otentik, melainkan sekadar aesthetic yang bisa diambil dari mood board internet. Di tengah arus ini muncul doktrin kekerasan terselubung yang dikemas sebagai gaya. Simbol senjata, gestur tangan, atau potongan kata seperti “based”, “sigma”, dan “natural selection” menjadi bagian dari mood board yang membangun identitas semu. Kekerasan tidak lagi dilihat sebagai tindakan brutal, tetapi sebagai sebuah visual language yang terasa “edgy” dan “rebellious”. Dari sinilah lahir estetika kekerasan: ketika dark jokes yang awalnya cuma lelucon, lama-lama menjadi normalisasi terhadap kekerasan. Dunia maya yang gelap, akhirnya menciptakan masa depan yang gelap juga.
Kasus SMA 72 memperlihatkan bahwa ekstremisme hari ini bisa tumbuh dari kultur daring bukan ideologi formal. Maka strategi pencegahan harus bergeser, dari hanya membahas doktrinasi ideologi, ke literasi digital kritis yang mengajarkan anak muda memahami konteks, simbol, estetika di balik meme dan komunitas daring. Juga membangun kembali empati yang terkikis akibat konsumsi konten tanpa bimbingan untuk melakukan refleksi.
Jika kita tidak segera memahami bahasa dan logika dunia digital tempat mereka hidup, maka tragedi seperti ini akan terus berulang. Kasus ini harus menjadi wake up call bagi kita semua tentang bagaimana kekerasan ekstrem bisa muncul dari ruang digital yang selama ini kita abaikan. Bahwa ekstremisme hari ini tidak selalu lahir dari ideologi terorganisir, tapi bisa tumbuh dari ruang digital yang permisif terhadap kekerasan simbolik. Pemerintah dan masyarakat sipil perlu beradaptasi dari pendekatan deradikalisasi tradisional ke literasi digital kritis dan meme awareness. Karena yang kita hadapi bukan lagi radikalisme berbasis doktrin, melainkan kekosongan makna yang diisi oleh algoritma.(AR)
Ilustrasi: By AI
Komentar