Ada satu nama yang hampir selalu hadir setiap April: Raden Ajeng Kartini. Kita mengingatnya dengan bunga, kebaya, dan kutipan-kutipan yang terasa puitis. Tapi kami (Ruangobrol) berhenti sejenak dan bertanya: apa yang tersisa dari kegelisahan Kartini hari ini?
Kartini tidak lahir dari ruang yang nyaman. Ia tumbuh dalam batasan, dalam tembok-tembok sosial yang menentukan siapa boleh belajar, siapa harus diam, siapa layak bermimpi. Surat-suratnya bukan sekadar ungkapan perasaan, tapi bentuk perlawanan yang sunyi—dan justru karena sunyi itulah, ia menjadi kuat. Ia menulis ketika suara perempuan belum dianggap penting. Ia bermimpi ketika mimpinya dianggap berbahaya.
Hari ini, kita hidup di zaman yang tampak jauh berbeda. Perempuan sudah bisa sekolah, bekerja, memimpin. Namun, apakah batasan itu benar-benar hilang, atau hanya berubah bentuk?
Di ruang digital, misalnya, perempuan seringkali tetap menjadi sasaran. Dari komentar merendahkan, objektifikasi, hingga kekerasan berbasis gender online. Suara perempuan masih kerap dipertanyakan validitasnya. Bahkan ketika berbicara tentang pengalaman sendiri, masih ada yang menyela: “jangan terlalu baper,” “itu kan biasa saja.”
Di titik ini, Kartini seperti hadir kembali—bukan sebagai sosok sejarah, tapi sebagai cermin. Ia mengingatkan bahwa perjuangan bukan soal sudah atau belum, tapi soal terus atau berhenti.
Sebagai ruang yang lahir dari pengalaman transformasi—dari mereka yang pernah tersesat dalam narasi kekerasan lalu memilih jalan pulang—Ruangobrol melihat bahwa isu perempuan tidak pernah berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan isu ekstremisme, ketimpangan sosial, hingga cara kita memandang manusia lain.
Kami belajar bahwa dalam banyak kasus, radikalisasi tumbuh dari cara pandang yang sempit—cara pandang yang juga sering menempatkan perempuan sebagai “yang kedua”, “yang harus diatur”, atau bahkan “alat”. Di sinilah Kartini menjadi relevan, bukan sekadar simbol emansipasi, tapi simbol perlawanan terhadap cara berpikir yang membatasi kemanusiaan.
Kartini mengajarkan kita bahwa perubahan dimulai dari kesadaran. Dari keberanian untuk bertanya: mengapa sesuatu dianggap normal? Mengapa ada yang selalu ditempatkan di bawah? Mengapa suara tertentu lebih sering diabaikan?
Di Ruangobrol, kami percaya bahwa perubahan juga lahir dari cerita. Dari ruang-ruang kecil tempat orang berani berbagi, mendengar, dan memahami. Seperti Kartini yang menulis surat, hari ini kita menulis artikel, membuat podcast, memproduksi konten—semuanya adalah bentuk ikhtiar untuk membuka ruang dialog.
Namun, refleksi ini juga perlu jujur: kita belum selesai. Bahkan mungkin masih jauh dari selesai.
Masih ada anak perempuan yang putus sekolah karena tekanan ekonomi. Masih ada perempuan yang dibungkam oleh norma sosial yang kaku. Masih ada suara yang hilang di tengah riuhnya algoritma.
Dan mungkin yang lebih halus—masih ada kita, yang kadang tanpa sadar ikut melanggengkan batasan itu. Lewat candaan, asumsi, atau cara kita memperlakukan orang lain.
Hari Kartini seharusnya bukan sekadar perayaan, tapi pengingat yang sedikit mengusik. Bahwa setiap generasi punya “tembok”-nya sendiri. Dan setiap kita punya pilihan: ikut menjaga tembok itu tetap berdiri, atau perlahan meruntuhkannya.
Kartini pernah menulis, “Habis gelap terbitlah terang.” Tapi mungkin, terang itu tidak datang dengan sendirinya. Ia perlu diupayakan—oleh mereka yang berani melihat gelap, mengakuinya, dan tidak berhenti mencari cahaya.
Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar lebih banyak suara, tapi lebih banyak keberanian untuk bersuara dengan makna.
Dan di situlah, Kartini tetap hidup. Bukan di masa lalu, tapi di setiap upaya kecil hari ini—ketika seseorang memilih untuk belajar, untuk berbicara, untuk memperjuangkan yang dianggap sepele, tapi sesungguhnya mendasar: martabat manusia.
Selamat Hari Kartini.
Bukan untuk sekedaar mengenang, tapi untuk melanjutkan.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar