Kadang, sebuah pengalaman datang bukan hanya untuk menambah keterampilan, tapi untuk mengetuk sesuatu yang lebih dalam di dalam diri. Saat pertama kali saya menerima kabar bahwa saya akan terlibat dalam produksi film dokumenter Road to Resilience, saya tidak menyangka bahwa selama beberapa hari di balik kamera akan menjadi perjalanan batin—bukan sekadar teknis. Bertemu Febri, mendengar kisahnya, dan menyaksikan langkah-langkah kecilnya membangun hidup kembali, membuat saya melihat bagaimana sebuah cerita bisa mengubah cara kita memandang manusia. Dalam setiap frame yang saya rekam, ada perasaan halus yang terus hadir: bahwa di balik luka, selalu ada upaya untuk pulih.
***
Awal tahun 2024 menjadi salah satu momen berharga dalam perjalanan saya ketika mendapat kesempatan untuk ikut terlibat dalam produksi film dokumenter berjudul Road to Resilience. Film ini diproduksi oleh Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP) dengan sutradara Ridho Dwi R, dan saya berperan sebagai salah satu kameraman. Ini adalah pengalaman pertama saya bergabung dalam sebuah tim produksi film secara profesional, dan memberikan banyak pelajaran baru, baik tentang teknis perfilm-an maupun pemahaman saya terhadap isu yang diangkat dalam film tersebut.
Sebagai kameraman, tugas utama saya adalah merekam berbagai aktivitas tokoh utama, yaitu Febri—seorang remaja yang pernah berangkat ke Suriah selama 300 hari dengan tujuan menjemput ibunya. Ibunya sempat bergabung dengan jaringan kelompok radikal di sana, sehingga perjalanan Febri menjadi kisah yang penuh risiko, pergulatan batin, dan makna. Dalam produksi ini, saya ikut mengambil gambar keseharian Febri serta proses wawancaranya, di mana ia menceritakan pengalaman hidupnya, alasan keberangkatannya ke Suriah, dan bagaimana ia menghadapi stigma masyarakat sepulangnya ke Indonesia.
Namun, peran saya tidak hanya sekadar mengoperasikan kamera. Saya juga turut merasakan dan mempelajari isi cerita yang disampaikan Febri. Dari kisahnya, saya mendapatkan gambaran langsung tentang bagaimana situasi di Suriah, mengapa ada orang yang sampai berangkat ke sana, dan bagaimana beratnya proses reintegrasi ketika kembali ke tanah air. Cerita Febri, yang juga dituangkan dalam bukunya 300 Hari di Negeri Syam, memberi saya perspektif baru bahwa tidak semua orang yang pergi ke Suriah atau terlibat dalam kelompok radikal semata-mata karena ideologi. Ada berbagai faktor lain, mulai dari ikatan keluarga, kondisi sosial, hingga janji-janji palsu yang ditawarkan kelompok radikal.
Selama empat hari proses produksi, saya belajar banyak hal teknis yang sebelumnya tidak pernah saya alami secara langsung. Bagaimana mengelola waktu dalam pengambilan gambar, menjaga disiplin agar momen penting tidak terlewat, hingga bagaimana mengambil sudut kamera yang dapat menggambarkan emosi sesuai narasi. Saya masih ingat ketika bersama Ridho kami berkeliling pasar di Bekasi pada pagi hari untuk menangkap suasana kehidupan sehari-hari. Momen sederhana seperti aktivitas pasar ternyata bisa diolah menjadi visual yang kuat untuk memperkuat cerita dokumenter. Dari situ saya belajar bagaimana kamera bukan sekadar alat rekam, tetapi juga medium untuk membawa audiens masuk ke dalam cerita yang ingin disampaikan.
Selain itu, saya juga berkesempatan bertemu langsung dengan ibu Febri, yang turut menjadi narasumber dalam film ini. Dari beliau saya mendengar sendiri bagaimana proses keberangkatan ke Suriah terjadi, alasan di balik keputusannya, hingga kenyataan pahit bahwa janji-janji yang diberikan kelompok radikal sama sekali tidak sesuai dengan realita. Pengalaman ini semakin meneguhkan pandangan saya bahwa setiap kisah memiliki lapisan kemanusiaan yang harus dilihat dengan empati, bukan sekadar label atau stigma.
Lebih dari sekadar proses produksi, keterlibatan saya dalam film Road to Resilience membuka mata saya tentang pentingnya narasi perubahan. Film ini tidak hanya bercerita tentang seorang remaja yang pergi ke Suriah, tetapi juga memperlihatkan proses transformasi Febri dalam hal pemikiran, ideologi, serta bagaimana ia membangun kembali kehidupannya di tengah masyarakat. Pesan ini sangat relevan untuk publik, bahwa setiap orang bisa berubah dan berhak mendapat kesempatan kedua.
Ketika proses produksi itu selesai, saya merasa seolah membawa pulang sesuatu yang tidak bisa dipadatkan hanya dalam catatan teknis atau hasil gambar. Ada semacam bisikan lembut bahwa perjalanan setiap manusia—betapa pun kerasnya—selalu menyimpan ruang untuk harapan.
Kisah Febri dan ibunya membuat saya percaya bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tetapi benar-benar nyata ketika seseorang berani menatap masa lalu dan memilih jalan baru. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan saya tentang dunia dokumenter, tetapi juga meninggalkan jejak yang lebih personal: bahwa melalui kamera, saya ikut menjadi saksi dari keteguhan hati seseorang untuk kembali menjadi bagian dari dunia yang pernah menjauhinya. Dan mungkin, di situlah letak keindahan sebuah cerita—ia bukan hanya diceritakan, tetapi dirasakan.
Dengan pengalaman itu, saya berharap di masa depan bisa kembali berkontribusi dalam produksi film-film KPP atau proyek serupa.
Foto: Ricky Zakaria Nur Pratama dalam sebuah sesi pengambilan gambar untuk film produksi KPP.(Dok. Pribadi)
Komentar