Di tengah berbagai upaya menjaga keamanan nasional, Indonesia kembali menetapkan arah barunya melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2026 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN-PE) 2026–2029. Sekilas, Peraturan Presiden ini mungkin tampak seperti kebijakan teknis yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun jika dibaca lebih dalam, RAN-PE justru menyimpan perubahan cara pandang yang cukup mendasar. Ekstremisme tidak lagi dilihat semata sebagai ancaman keamanan, tetapi sebagai persoalan sosial yang kompleks.
Negara, melalui RAN-PE terbaru, mengakui bahwa ekstremisme berbasis kekerasan tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari berbagai kondisi yang saling berkaitan—ketimpangan ekonomi, marginalisasi sosial, konflik, hingga krisis identitas. Di sisi lain, proses radikalisasi juga sering berlangsung secara perlahan, dipengaruhi oleh narasi dan propaganda, terutama di ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari .
Dengan cara pandang seperti ini, pendekatan yang digunakan pun tidak lagi tunggal. Penindakan hukum tetap penting, tetapi tidak cukup. Karena itu, RAN-PE mengusung pendekatan whole-of-government dan whole-of-society—sebuah pendekatan yang melibatkan tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat secara luas. Organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal, media, hingga individu, semuanya dipandang memiliki peran dalam mencegah dan menanggulangi ekstremisme.
Bahkan, dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penerima program, tetapi juga sebagai pihak yang dapat menginisiasi aksi pencegahan itu sendiri . Ini adalah sinyal penting: negara mulai menyadari bahwa solusi tidak bisa hanya datang dari atas, tetapi juga harus tumbuh dari bawah.
Dari Keamanan ke Ketahanan Sosial
RAN-PE dirancang melalui sembilan tema utama, mulai dari kesiapsiagaan nasional hingga kerja sama internasional. Namun jika ditarik benang merahnya, seluruh tema tersebut mengarah pada satu tujuan besar: membangun ketahanan masyarakat.
Tema seperti ketahanan komunitas dan keluarga, pendidikan dan pemberdayaan, komunikasi strategis, hingga deradikalisasi dan reintegrasi sosial, menunjukkan bahwa pencegahan ekstremisme kini ditempatkan di hulu. Artinya, yang diperkuat bukan hanya aparat, tetapi juga masyarakat itu sendiri—bagaimana mereka berpikir, berinteraksi, dan merespons perubahan di sekitarnya.
Dalam konteks ini, keluarga dan komunitas menjadi garis pertahanan pertama. Lingkungan terdekat dianggap sebagai ruang awal di mana seseorang membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Jika lingkungan ini kuat, maka potensi terpapar paham ekstrem dapat ditekan sejak dini .
Namun membangun ketahanan sosial tentu tidak semudah membangun sistem keamanan. Ia membutuhkan waktu, kepercayaan, dan yang tak kalah penting—narasi yang mampu menjangkau sisi kemanusiaan.
Pertarungan di Ruang Narasi
Salah satu penekanan penting dalam RAN-PE adalah peran komunikasi strategis. Disebutkan bahwa penyebaran paham ekstrem kini banyak dilakukan melalui pesan-pesan manipulatif di berbagai kanal komunikasi, terutama media digital . Dengan kata lain, medan utama pertarungan bukan lagi hanya di dunia fisik, tetapi juga di ruang wacana.
Di ruang ini, propaganda ekstrem seringkali bekerja secara halus. Ia tidak selalu tampil dalam bentuk kekerasan, tetapi melalui cerita, simbol, dan narasi yang menyentuh emosi—tentang ketidakadilan, identitas, atau pencarian makna hidup.
Masalahnya, narasi tandingan yang hadir seringkali kurang mampu menjangkau sisi ini. Banyak pesan yang disampaikan secara formal, normatif, dan terasa jauh dari pengalaman sehari-hari.
Padahal, dalam konteks ini, yang dibutuhkan bukan hanya informasi, tetapi juga koneksi emosional.
Cerita sebagai Jembatan
Di tengah situasi tersebut, pendekatan berbasis cerita menjadi semakin relevan. Cerita memiliki kemampuan untuk menjembatani pengalaman, membuka empati, dan menghadirkan perspektif yang lebih manusiawi.
Dalam konteks pencegahan ekstremisme, cerita dari mereka yang pernah berada di dalam lingkaran ekstremisme, lalu memilih keluar dengan segala konsekwensinya, memiliki kekuatan tersendiri. Ia bukan sekadar narasi, tetapi refleksi perjalanan hidup—tentang pilihan, penyesalan, dan harapan.
Cerita seperti ini tidak menggurui. Ia tidak memaksa. Tetapi justru mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam—bahwa ekstremisme bukan hanya soal ideologi, tetapi juga soal manusia.
Pendekatan ini menjadi penting, terutama di tengah derasnya arus informasi yang seringkali membingungkan. Ketika orang dihadapkan pada berbagai narasi yang saling bertabrakan, seringkali yang paling membekas bukanlah yang paling keras, tetapi yang paling jujur.
Reintegrasi dan Tantangan Stigma
Selain pencegahan, RAN-PE juga memberi perhatian pada proses deradikalisasi dan reintegrasi sosial. Ini adalah fase penting, tetapi seringkali kurang mendapat perhatian.
Banyak individu yang telah keluar dari jaringan ekstrem justru menghadapi tantangan baru: stigma dan penolakan dari masyarakat. Mereka dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai individu yang sedang berusaha berubah. Dalam beberapa kasus, situasi ini justru mendorong mereka kembali ke lingkungan lama.
RAN-PE mengakui adanya hambatan ini, termasuk stigma sosial dan rasa takut yang dialami individu ketika mencoba keluar dari kelompok ekstrem .
Karena itu, reintegrasi tidak bisa hanya dilihat sebagai proses administratif, tetapi juga sebagai proses sosial. Ia membutuhkan penerimaan, ruang dialog, dan upaya bersama untuk membangun kembali kepercayaan.
Di sinilah masyarakat memiliki peran penting—bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari proses perubahan.
Dari Nasional ke Lokal
Salah satu hal menarik dari RAN-PE terbaru adalah adanya Rencana Aksi Daerah (RAD-PE), yang memungkinkan setiap daerah menyusun strategi sesuai dengan kondisi dan tantangan masing-masing .
Pendekatan ini menunjukkan bahwa ekstremisme tidak bisa ditangani dengan satu resep yang sama untuk semua. Setiap daerah memiliki dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual.
Dengan adanya RAD-PE, ruang kolaborasi di tingkat lokal menjadi semakin terbuka. Komunitas, organisasi masyarakat sipil, hingga individu dapat terlibat lebih dekat dalam merancang dan melaksanakan program pencegahan ekstremisme.
Menjaga Keseimbangan
Meski peluang kolaborasi terbuka luas, ada satu hal yang perlu dijaga, yaitu: keseimbangan antara keterlibatan dan independensi.
Dalam upaya bersama ini, penting untuk memastikan bahwa pendekatan yang digunakan tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan, tidak menimbulkan stigma baru, dan tetap memberi ruang bagi suara-suara yang autentik.
Karena, upaya pencegahan ekstremisme bukan hanya soal menghilangkan ancaman, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan mampu merawat perbedaan.
Ruang bagi Harapan
RAN-PE 2026–2029 juga memberi pesan yang jelas, bahwa penanggulangan ekstremisme adalah kerja bersama. Ia membutuhkan kebijakan yang kuat, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat. Ia membutuhkan sistem, tetapi juga membutuhkan cerita.
Di tengah kompleksitas persoalan ini, harapan justru muncul dari hal-hal yang sederhana—dari percakapan, dari komunitas, dari cerita-cerita yang membuka ruang empati.
Ekstremisme tidak hanya dilawan dengan kekuatan, tetapi juga dengan pemahaman. Dan di antara berbagai pendekatan yang ada, mungkin yang paling bertahan lama adalah yang menyentuh sisi paling dasar dari manusia adalah keinginan untuk didengar, dipahami, dan diterima.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar