Para Pemuja Ustaz Aman Abdurrahman Kini 'Jungkir Balik'

Other

by Kharis Hadirin

Aman Abdurrahman atau lebih akrab disapa dengan panggilan Ustaz Aman, bukanlah nama asing dalam pekatnya belantara terorisme tanah air. Ibarat panggung seni, nama Ustaz Aman tidak ubahnya seperti artis papan atas yang kini berada di atas puncak ketenaran. Tak hanya dikenal dalam negeri, namanya pun meroket hingga mancanagera. Karirnya moncer, lurus tak bernoda.

Selayaknya public figure, wajar jika dia begitu dicintai dan diikuti. Dari yang sebatas mengagumi, sampai fanatisme yang membutakan mata dan menumpulkan alam logika.

Rupanya jalan hidup Ustaz Aman berubah. Dulu, Ustaz Aman dipuja-puji oleh para pengikutnya, bahkan setiap petuah-petuahnya dianggap sebagai fatwa. Tetapi sekarang ini, para pengikutnya tidak segan memaki tokoh yang saat ini mendekam di dalam jeruji besi itu.

Reaksi para pemuja Ustaz Aman seperti sedang 'jungkir balik'. Mereka kini menghujat Ustaz Aman, bahkan dianggap tidak tsiqoh atau teguh pada garis perjuangan. Ustaz Aman juga dianggap telah murtad oleh para pemuja fanatiknya.

Tentu peristiwa ini sangat tidak biasa. Mengingat selama ini Ustaz Aman menjadi kiblat bagi hampir seluruh simpatisan ISIS yang kini bernaung di bawah wadah Jama’ah Anshorud Daulah (JAD).

Bahkan nama Ustaz Aman pun pernah direkomendasikan oleh kelompok ISIS di Suriah untuk menjadi Amir atau pemimpin di wilayah Asia Tenggara, terutama Indonesia. Tentu, pencapaian tersebut bukan perkara mudah, sebab menjadi tokoh dan ditokohkan dalam dunia “persilatan” dibutuhkan tidak sekedar pengetahuan agama belaka, namun juga komitmen serta berkarisma. Dan Ustaz Aman, memiliki modal itu semua.

Kisruh Ustaz Aman, bermula dari sebuah rekaman video yang diunggah melalui kanal Youtube Cek Ombak Official dengan judul “Nasihat-nasihat untuk ikhwan dan akhwat tentang larangan untuk melakukan jihad atau amaliyah”.

Dalam video yang diunggah Jum’at (1/4) lalu, Ustaz Aman membuat pernyataan mengejutkan. “Saya, Aman Abdurrahman Abu Sulaiman. Kepada teman-teman saya, yang mendengar saya, yang tahu hidup ini di Darul Kufri, bukan di Darul Islam.

Panduan di dalam buku-buku Ibnu Taimiyah, ketika orang hidup di Darul Kufri itu menggunakan ayat-ayat sabar, ayat-ayat komitmen dengan Tauhid, menahan dari mengganggu orang lain dengan tindakan apapun. Itu yang ada di dalam, lihat aja antum baca ‘Ghuluw Fit Takfir’. Jangan malas baca!!!” demikian bunyi pernyataan Ustaz Aman di awal video.

Lebih lanjut, Ustaz Aman tegas mengingatkan kepada para simpatisannya untuk tidak lagi melakukan aksi-aksi amaliyah di Indonesia. Bahkan dengan nada penuh emosional, dia mengaku sangat kecewa dengan aksi-aksi teror yang selama ini dilakukan para simpatisannya.

Semuanya hanya dengar dari orang lain, mengambil (ilmu) dari saya sedikit. Mudharatnya (akibat buruknya) buat saya semua. Ngerti nggak!!! Makanya, apa yang kalian lakukan itu semuanya mudharatnya buat saya, padahal saya nggak tahu apa-apa. Saya sakit akibat ulah kalian,” jelas Ustaz Aman dengan nada suara bergetar.

Bahkan Ustaz Aman menjelaskan jika dia tidak pernah mengajarkan atau memperbolehkan untuk melakukan aksi amaliyah dengan melibatkan perempuan dan anak-anak.

Itu tuntunan bukan Islam. Islam itu tidak ada jihad bagi perempuan, jihad perempuan itu adalah haji mabrur. Apalagi anak-anak, itu bukan kewajiban mereka. Mereka itu ketika wajib perang aja, ketika kaum Muslimin menarfi’an (mengikuti) perang Tabuk, perempuan sama anak-anak itu disimpan di Madinah. Ketika perang Uhud juga demikian. Perang Khandaq juga demikian. Kalian mau mengikuti tuntunan siapa? Tuntunan Nabi atau tuntunan hawa nafsu kalian? Kalian ikuti nafsu kalian seolah-olah nyawa milik kalian, bukan milik Allah. Tujuan itu bukan jihad, Tauhid. Ngerti tidak!!!” tegas Ustaz Aman.

Video pernyataan Ustad Aman ini pun ramai dan mendapat sorotan tajam dari berbagai kelompok, terutama simpatisan Jama’ah Anshorud Daulah (JAD) yang selama ini menjadikannya sebagai rujukan dalam mengambil fatwa.

Mereka menuding, Ustaz Aman kini telah futhur (tidak lagi konsisten). Tidak hanya itu, beberapa sikap yang ditampakkan Ustaz Aman secara dhahir pun dianggap tidak wajar dan menyelisihi dari apa yang selama ini diajarkan. Salah satunya, pada awal Mei lalu, Ustaz Aman diketahui turut mengikuti program vaksinasi yang diadakan oleh pihak Lapas Karanganyar, Nusa Kambangan, Cilacap.

Keikutsertaan Ustaz Aman pada program tersebut, karuan saja hal itu mengundang reaksi di kalangan anggota jaringan, terutama di luar penjara.

Pasalnya, para simpatisan JAD tersebut, selama ini begitu aktif menolak program vaksinasi. Bahkan sedari awal, mereka tidak percaya dengan adanya wabah pandemi virus corona (Covid-19). Mereka umumnya menilai, bahwa wabah pandemi tak lebih sekedar omong kosong yang diembuskan oleh negara-negara Barat untuk menakut-nakuti umat Islam akan bahaya virus tersebut.

Vaksin covid-19 juga dipercaya oleh mereka sebagai upaya Barat untuk melemahkan dan menjauhkan umat dari Islam. Salah satunya, yakni adanya pelarangan salat di masjid secara berjama’ah. Melihat ini, cukup wajar jika sebagian simpatisan JAD geram melihat panutannya tiba-tiba meleng dan ikut program vaksin.

Wallahi, sejak kasus video itu beredar ana sudah tidak mengkaji lagi kajian UA (Ustaz Aman). Bahkan semua file ana hapus. Nggak guna mengambil ilmu dari seorang munafikin,” begitu tulisan akun bernama Aan Sofyan yang diunggah melalui laman Facebook miliknya.

Iya memang Ust. Aman itu sumber fatwanya dari keledai maqdisi (yang dimaksudkan yakni Muhammad Al Maqdisi). Makanya, tinggalkan Ust. Aman yang banyak syubhat itu…biarkan Ust. Aman menjadikan rujukan rinciyun saja…” tulis akun Gery Mustanes.

Semoga Ustad Aman diberikan hidayah dan kembali normal ke jalan yang lurus Al-Haq yaitu Islam ahlussunnahwaljamaah,” postingan lain dari pemilik akun Facebook Ummi Syahida.

Ada pula sebagian lainnya yang mengintruksikan untuk lebih baik mengambil fatwa-fatwa yang dikeluarkan dari Daulah Islamiyah (ISIS) pusat di Suriah secara langsung, dari pada berkiblat pada Ustaz Aman. Sebab, menurut mereka, Daulah Islamiyah harusnya menjadi barometer bagi seluruh simpatisannya dari berbagai negara, termasuk di Indonesia. Terutama  dalam menentukan sikap dan komitmen perjuangan menegakkan Khilafah.

Meski demikian, ada sebagian lain yang tetap berusaha membela Ustaz Aman dengan beralasan bahwa tidak ada manusia satu pun yang luput dari dosa.

Sebagian curut (tikus) sdh menyatakan keberlepasan diri dari Syeikhuna (Ustad Aman) dngan segala ilmu2nya yg telah beliau sampaikan. Ulama atau ustadz yg jd rujukan para curut itu harus maksum (terhindar dari dosa), keliru sedikit saja, beuuhhh langsung menunjukan sikap bara’nya (penolakan),” salah satu postingan dari akun Facebook bernama Benk Benk.

Mereka yang mendukung Ustaz Aman, bahkan menilai bahwa pernyataan sikap Ustaz Aman tidaklah murni keluar dari dirinya, melainkan karena adanya faktor tekanan dari luar, dalam hal ini yakni tekanan dari Densus 88 maupun pihak lapas.

Seperti diketahui, Ustaz Aman menerima vonis mati melalui putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jum’at (22/6/2018).

Ustaz Aman sendiri ditangkap oleh Densus 88, Minggu (13/8/2017) atas tuduhan sebagai inisiator serangan bom di Jl. MH. Thamrin, Jakarta, 2016 lalu.

BACA JUGA: Antara Abu Bakar Baasyir dan Aman Abdurahman

Tak hanya dalam kasus Thamrin, Ustaz Aman juga dituding sebagai penggerak dalam sejumlah serangan teror yang terjadi di tanah air. Di antaranya bom gereja di Samarinda pada 13 November 2016 yang menewaskan seorang balita berusia 3 tahun, bom Terminal Kampung Melayu, Jakarta pada 24 Mei 2017, penembakan polisi di Bima pada 2017, dan penusukan anggota kepolisian di Deli Serdang, Sumatera Utara pada 16 November 2019.

Dalam nota pembelaan atau pledoinya, Ustaz Aman membantah jika dia mempengaruhi orang lain untuk menggerakkan aksi teror dan menuding jika kasusnya sarat muatan politis. Ia menyebut, saat sejumlah aksi teror tersebut terjadi, dia berada di dalam Lapas Nusa Kambangan. Jangankan untuk menggerakkan aksi teror, sekedar untuk berkomunikasi dengan keluarga saja sangat sulit.

Walau demikian, Jaksa Penuntut Umum menolak Pledoi Ustaz Aman dan menuntut hakim untuk menjatuhkan vonis mati. (*)

Komentar

Tulis Komentar