Tindakan-tindakan besar tidak pernah lahir dari ruang kosong. Selalu ada motivasi dan seperangkat keyakinan yang membalutnya, hingga kemudian termanifestasi menjadi perbuatan-perbuatan yang terkadang sulit untuk dinalar. Sejarah manusia dipenuhi oleh kisah orang-orang yang terbuai oleh keyakinan keliru, dan pada akhirnya berakhir secara mengenaskan.
Namun, justru di titik inilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung bersama: betapa dahsyatnya sebuah keyakinan dalam membentuk pilihan hidup seseorang.
Ketika Keyakinan Menjadi Motivasi Tertinggi
Jika kita menengok kembali berbagai kasus terorisme yang pernah terjadi, khususnya di Indonesia, pertanyaan yang kerap muncul adalah: seyakin apa orang-orang ini, hingga berani meninggalkan segalanya dan melakukan tindakan tersebut?
Sulit rasanya membayangkan bahwa motifnya adalah hal-hal duniawi. Sudah pasti bukan. Sebab, setelah tindakan itu dilakukan, tak ada lagi kenikmatan dunia yang bisa mereka rasakan.
Maka, pastilah ada motivasi yang jauh lebih besar. Sesuatu yang dianggap melampaui harta, keluarga, dan kehidupan itu sendiri. Ketenangan yang abadi. Surga. Valhalla. Atau apa pun sebutannya dalam setiap sistem kepercayaan.
Motivasi yang terasa begitu terang bak matahari di tengah hari. Seperti oasis di padang pasir yang tandus. Sesuatu yang sangat diinginkan oleh jiwa, hingga membuat manusia rela mencapainya meski harus mengorbankan hal-hal yang paling ia cintai.
Perempuan dan Anak-Anak sebagai Korban Keyakinan Keliru
Yang paling mengiris hati adalah ketika keyakinan yang salah itu tidak hanya menghancurkan pelakunya, tetapi juga menyeret perempuan dan anak-anak yang polos dan lugu ke dalam pusaran kehancuran.
Penulis pernah menemukan sebuah komentar di Instagram yang membuat penulis termenung lama. Sebuah unggahan menampilkan potongan kepala seorang perempuan pelaku bom bunuh diri di Yerusalem pada September 2004. Kepalanya masih terbalut hijab.
Di kolom komentar, seseorang menuliskan kalimat yang begitu menghantam nurani. Kurang lebih berbunyi:
“Saya membenci pelaku peledakan bunuh diri ini bukan semata-mata karena ketakutan yang mereka sebabkan, tetapi karena mereka sebelumnya adalah manusia biasa yang memiliki mimpi, rasa takut, dan kehidupan. Perempuan ini tidak dilahirkan untuk mati seperti ini. Ia dibentuk oleh orang-orang yang menyelewengkan agama, oleh keputusasaan, dan oleh monster yang memberinya kebohongan bahwa inilah satu-satunya jalan menuju surga.”
Komentar itu seharusnya mampu membuka mata kita bahwa tragedi ini bukan sekadar soal pelaku dan korban, tetapi tentang manusia yang dirampas masa depannya oleh keyakinan yang menyesatkan.
Inilah salah satu dari sekian banyak dampak keyakinan yang salah. Keyakinan yang berdarah-darah. Keyakinan yang hitam-putih. Keyakinan yang tidak mengenal ampun dan kasih sayang.
Keyakinan semacam ini membutakan, tanpa peduli latar belakang siapa pun yang terpapar olehnya. Ia menghapus empati, mematikan keraguan, dan menggantinya dengan kepastian palsu yang terasa absolut.
Dan ketika keyakinan itu sudah tertanam kuat di sanubari seseorang, ia mampu mengubah manusia menjadi sosok yang tak lagi bisa diajak berdialog dengan logika biasa.
Bertahan di Penjara Demi Sebuah Keyakinan
Dahsyatnya kekuatan keyakinan juga terlihat dari mereka yang mampu bertahan bertahun-tahun di balik jeruji besi. Banyak narapidana kasus terorisme yang ditawari remisi atau pembebasan bersyarat dengan satu syarat: meninggalkan keyakinan lama yang penuh kekerasan.
Namun, tak sedikit yang menolak tawaran tersebut.
Bagi mereka, meninggalkan keyakinan itu sama artinya dengan meninggalkan agama. Seolah berpindah dari satu iman ke iman lain. Maka, mereka memilih menjalani masa hukuman penuh, tanpa potongan sedikit pun, daripada harus melepaskan keyakinan yang sudah menyatu dengan identitas diri.
Mereka bertahan tanpa merengek, tanpa meminta dikasihani. Sebuah keteguhan yang, jika dilihat sekilas, tampak mengagumkan, namun sesungguhnya lahir dari fondasi yang rapuh dan keliru.
Betapa Dahsyatnya Keyakinan Membentuk Manusia
Hebatnya sebuah keyakinan, sampai-sampai mampu membentuk manusia menjadi seperti ini. Entah bagaimana ia masuk ke dalam kepala dan hati, perlahan tapi pasti, hingga akhirnya terpatri begitu dalam.
Keyakinan bisa menjadi cahaya yang menuntun manusia pada kebaikan. Namun di tangan yang salah, ia berubah menjadi api yang membakar segalanya, termasuk kemanusiaan itu sendiri.
Dan di sinilah pekerjaan rumah kita bersama: yaitu memastikan bahwa keyakinan yang tumbuh dalam diri manusia adalah keyakinan yang memanusiakan, bukan yang memusnahkan.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi
Komentar