Bagi ibu-ibu korban banjir di Sumatra, hari-hari setelah bencana tidak pernah benar-benar diberi nama. Tidak ada penanda yang jelas antara pagi dan malam, antara hari kerja dan hari libur, antara hari biasa dan Hari Ibu. Semua melebur menjadi satu rangkaian waktu yang diisi dengan menunggu bantuan, membersihkan sisa lumpur, dan menguatkan anak-anak yang belum sepenuhnya mengerti mengapa rumah mereka hilang. Di tengah penanganan pasca-bencana yang berjalan lambat, para ibu belajar menerima kenyataan bahwa bertahan hidup bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban—bahkan ketika tenaga dan harapan sama-sama menipis.
Seperti dalam foto (credit to ANTARA FOTO/Bayu Pratama S) di atas, seorang ibu berdiri memeluk anaknya erat. Tubuh kecil itu bersandar di dadanya, seolah menjadikan tubuh sang ibu satu-satunya tempat aman yang tersisa. Wajah ibu itu tidak menatap kamera dengan harap, juga tidak dengan amarah. Tatapannya tenang, tapi menyimpan kelelahan yang panjang. Di belakang mereka, lumpur masih menggenang, pakaian-pakaian digantung di tali darurat, dan terpal biru berdiri menggantikan atap rumah yang hilang.
Beginilah wajah Hari Ibu bagi sebagian perempuan di Sumatra.
Bagi banyak ibu korban banjir, Hari Ibu bukan tentang bunga, ucapan manis, atau unggahan media sosial. Hari Ibu adalah tentang bangun pagi di pengungsian yang masih berbau lumpur, memastikan anak tetap makan meski lauk seadanya, dan menelan luka akibat kehilangan—anggota keluarga yang tak sempat diselamatkan, atau rumah yang kini tinggal kenangan.
Namun penderitaan mereka tidak berhenti pada bencana. Setelah air surut, yang tersisa justru ketidakpastian. Bantuan datang tersendat, logistik tak selalu merata, dan proses pemulihan yang berjalan lambat. Dalam situasi seperti itu, ibu-ibu dipaksa menjadi segalanya: penguat bagi anak-anaknya, penyangga emosi keluarga, sekaligus penyintas yang harus menekan luka sendiri demi bertahan hidup. Negara, yang seharusnya hadir paling depan, seringkali terasa jauh dan administratif.
Di tengah semua itu, tugas terberat mereka bukan hanya bertahan hidup, tetapi menjaga anak-anak agar tidak tumbuh dengan trauma yang membeku di dalam ingatan. Anak dalam foto ini tampak sedang bermain—berayun, bergerak, tertawa kecil mungkin. Tapi permainan itu bukan tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Ia adalah upaya seorang ibu untuk menciptakan ilusi aman di tengah dunia yang runtuh. Karena ibu tahu, trauma tidak selalu muncul sebagai tangis; ia bisa tumbuh diam-diam, bertahun-tahun kemudian, menjadi ketakutan yang sulit dijelaskan.
Seorang ibu korban bencana harus mengajarkan harapan di saat ia sendiri nyaris kehabisan. Ia harus mengatakan pada anaknya bahwa hidup akan baik-baik saja, meski ia belum tahu bagaimana caranya. Ia harus menjaga rutinitas—bermain, makan, tidur—seolah dunia masih normal, padahal tidak ada lagi yang benar-benar normal. Ini bukan pekerjaan emosional biasa. Ini adalah kerja keibuan yang dilakukan di medan krisis, tanpa perlindungan, tanpa jeda.
Karena itu, merayakan Hari Ibu dengan gegap gempita terasa janggal jika kita menutup mata pada kenyataan ini. Barangkali Hari Ibu tidak perlu selalu dirayakan dengan kegembiraan. Barangkali ia lebih layak dirayakan dengan empati—dengan kesediaan untuk berhenti sejenak, mendengar kisah yang tidak nyaman, dan mengakui bahwa banyak ibu merayakannya dalam diam dan luka.
Refleksi ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar: mengapa bencana seperti ini terus berulang, dan mengapa korbannya hampir selalu rakyat kecil—terutama perempuan dan anak-anak?
Dalam lanskap seperti di foto di atas, alam bukan sekadar latar. Ia adalah saksi dari kebijakan yang gagal melindungi rakyatnya. Ketika hutan dibuka, sungai dipersempit, dan lingkungan dikorbankan atas nama pertumbuhan ekonomi, yang pertama kali membayar harganya adalah masyarakat di lapisan paling bawah—dan di antara mereka, perempuan dan anak-anaklah yang paling rentan.
Di titik ini, penderitaan para ibu tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab struktural. Ini bukan semata takdir alam, melainkan hasil dari keputusan politik dan ekonomi. Negara tidak cukup hanya hadir saat bencana terjadi; ia harus bertanggung jawab jauh sebelum itu, dengan memastikan perlindungan lingkungan, penegakan hukum terhadap perusakan hutan, dan kebijakan pembangunan yang berpihak pada keselamatan rakyat, bukan keserakahan segelintir konglomerat.
Hari Ibu, dalam konteks ini, adalah momen untuk bertanya: apakah kita benar-benar menghormati ibu jika kita membiarkan mereka terus menjadi korban dari sistem yang tidak adil? Apakah ucapan terima kasih cukup, jika pada saat yang sama kita membiarkan kebijakan yang merampas rasa aman mereka dan masa depan anak-anak mereka?
Mungkin, menghormati ibu hari ini berarti lebih dari sekadar merayakan. Ia berarti berdiri di sisi mereka yang paling rentan. Menguatkan suara ibu-ibu korban bencana agar tidak tenggelam oleh arus berita yang cepat berlalu. Dan menuntut tanggung jawab—atas nama kemanusiaan—agar tak ada lagi ibu yang harus menggendong harapan di atas tanah yang terus dikhianati.
Hari Ibu seharusnya menjadi hari kita belajar menunduk. Mendengarkan. Dan berjanji, setidaknya pada diri sendiri, untuk tidak melupakan mereka yang merayakannya di tengah lumpur yang belum kering.
Foto: Warga berada di pengungsian pascabanjir bandang di Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Selasa (9/12/2025). Desa tersebut menjadi salah satu wilayah di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara yang terdampak bencana banjir bandang dengan kerusakan pemukiman mencapai 95 persen. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Komentar