Di Balik Seruan Anonim dan Amarah Kolektif

Analisa

by Redaksi Editor by Redaksi

Pagi itu, seorang mahasiswa tingkat akhir sebuah kampus swasta di Jakarta—terbangun dengan notifikasi WhatsApp yang tak henti berdentang. Grup-grup kampusnya ramai membagikan satu gambar yang terus muncul: poster merah menyala bertuliskan “SERUAN AKSI: Lawan Pengkhianat Rakyat!”

Tidak ada logo organisasi. Tak ada tanda tangan. Hanya ajakan terbuka, mengundang semua orang yang merasa lelah, marah, dan muak.

Awalnya mahasiswa ini ragu. Tapi entah mengapa, poster itu terasa akrab. Seolah muncul dari benaknya sendiri. Ia tak tahu siapa pembuatnya, tapi isi pesannya seperti menembus langsung ke dalam isi dadanya. Dan hari itu, ia memutuskan untuk turun ke jalan.

Wajah-Wajah yang Tak Lagi Bernama

Di titik kumpul, Si Mahasiswa melihat ratusan orang telah lebih dulu datang. Tak ada seragam. Tak ada barisan. Sebagian membawa spanduk, tapi tak satu pun menyebut nama organisasi.

Ada korlapnya?” tanya seseorang. Tak ada jawaban. Tapi massa tetap bergerak. Mereka tahu ke mana harus pergi, meski tak tahu siapa yang memberi arah.

Inilah wajah baru aksi massa: kabur, cair, tak beridentitas. Tapi justru karena itulah, ia terasa jujur. Gerakan ini bukan karena instruksi, melainkan karena rasa yang sama: kesal, lelah, dan marah.

Dan semua itu bersumber dari satu tempat: media sosial.

Ketika Media Sosial Menggantikan Mobil Komando

Di masa lalu, tiap demonstrasi punya struktur: ada koordinator, mobil komando, dan jalur koordinasi. Tapi kali ini, semuanya diambil alih oleh media sosial. Ia menjadi panggung sekaligus pengeras suara, menjadi ruang rapat sekaligus arena kemarahan kolektif.

Satu unggahan bisa menggerakkan ribuan kaki. Satu cuplikan video bisa menyalakan bara yang terpendam. Dan satu poster anonim, seperti yang diterima mahasiswa itu, bisa membuat ribuan orang memenuhi jalan.

Sementara di tempat lain, seorang pengemudi ojek daring, ikut aksi itu karena poster yang sama. Ia bukan aktivis. Tapi sejak harga kebutuhan naik dan pendapatannya turun, ia merasa suara rakyat seperti dikecilkan.

Amarah yang Terlalu Lama Dipendam

Apa yang menyatukan massa kali ini bukan lagi ideologi, tapi emosi. Mereka tak datang untuk orasi panjang atau manifesto politik. Mereka datang karena ingin menunjukkan: “kami tahu, kami lihat, dan kami muak.”

Aksi massa tanpa korlap ini menciptakan kekuatan yang paradoks: semakin tidak jelas sumbernya, semakin luas dampaknya. Tanpa struktur, ia sulit dipetakan. Tanpa pemimpin, ia sulit dihentikan. Tapi justru karena itu pula, ia mudah tersesat.

Tanpa arah yang jelas, aksi massa bisa berubah menjadi amuk. Rumah pribadi diserbu. Kantor publik dibakar. Nama-nama pejabat tersebar di medsos, lengkap dengan alamat dan barang-barang mewah mereka. Semua jadi sasaran. Semua bisa menjadi simbol kemarahan.

Satu unggahan bisa menyulut ribuan langkah. Satu komentar sinis dari pejabat bisa memantik ratusan batu melayang. Massa tak perlu tahu siapa yang menyebarkannya. Mereka hanya butuh tahu: bahwa itu membuat mereka semakin marah.

Dan kemarahan kolektif itu tak butuh izin untuk meledak.

Bukan Ditunggangi, Tapi Menunggangi

Selama ini, rakyat kerap dituduh “ditunggangi kepentingan” saat melakukan aksi. Tapi kali ini terasa berbeda. Justru lebih tepat rakyat yang menunggangi isu untuk meluapkan kegelisahan.

Ini bukan demo yang diorganisir, melainkan demo yang mengorganisir dirinya sendiri. Tanpa pemimpin, tanpa struktur. Tapi bukan tanpa makna.

Namun tetap ada yang mengganjal: setelah semua energi itu keluar, lalu apa?

Gerakan tanpa korlap ini mengandung kekuatan dan sekaligus kelemahan. Ia spontan, tulus, dan menggugah. Tapi juga rapuh, mudah dimanipulasi, dan sulit dipertanggungjawabkan.

Tanpa arah jelas, aksi ini bisa mudah dibelokkan. Tanpa tuntutan yang konkret, ia bisa berhenti jadi pelampiasan. Tapi justru di situ pula pelajaran pentingnya: bahwa rakyat tak perlu komando untuk bersuara. Yang mereka butuhkan hanyalah rasa percaya, bahwa suara mereka masih bisa terdengar.

Kita hidup di zaman di mana poster tanpa nama bisa menggerakkan ribuan orang. Di mana medsos bisa mengalahkan toa mobil komando. Tapi juga zaman di mana suara rakyat bisa tenggelam oleh keributan yang mereka buat sendiri.

Kini, pertanyaan yang tersisa bukan lagi siapa yang memimpin. Tapi: ke mana kita mau menuju? Apa yang kita ingin ubah? Dan siapa yang akan bertanggung jawab setelah semuanya selesai?

Sampai itu terjawab, mungkin kita akan terus menyaksikan massa yang bergerak tanpa arah. Dan mendengar suara-suara marah, yang tak perlu lagi komando.[abs]



Ilustrasi: By AI (Chat GPT)

Komentar

Tulis Komentar