Mengapa Konflik Iran–Israel Tidak Menjadi Isu Keamanan di Indonesia

Analisa

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Ketika ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat meningkat, banyak pengamat keamanan di Indonesia mengkhawatirkan efek domino terhadap situasi domestik. Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Dalam sejarahnya, konflik di Timur Tengah sering menjadi bahan mobilisasi ideologis bagi jaringan jihad global.

Perang di Afghanistan pada era 1980-an merupakan contoh paling sering dikutip. Konflik yang dikenal sebagai Soviet–Afghan War itu tidak hanya menjadi arena perlawanan terhadap Uni Soviet, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi bagi jaringan jihad internasional. Banyak aktivis Islam dari berbagai negara datang ke Afghanistan untuk bergabung dalam perang tersebut. Dari pengalaman inilah sebagian tokoh asal Indoensia kemudian berperan dalam pembentukan Jemaah Islamiyah memperoleh pengalaman militer, jaringan ideologis, serta legitimasi jihad yang kemudian memengaruhi perkembangan gerakan ekstremisme di Asia Tenggara.

Fenomena serupa juga terjadi beberapa dekade kemudian, ketika gelombang Arab Spring pada awal dekade 2010-an berubah menjadi konflik bersenjata di Suriah. Perang saudara yang terjadi di negara tersebut membuka ruang bagi kemunculan kelompok radikal seperti Islamic State (ISIS/IS). Organisasi ini kemudian membangun propaganda global yang mampu menarik simpatisan dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Di dalam negeri, jaringan pendukung ISIS kemudian berorganisasi dalam kelompok seperti Jamaah Ansharut Daulah yang beberapa kali terlibat dalam aksi teror.

Pengalaman historis tersebut menjelaskan mengapa setiap eskalasi konflik di Timur Tengah sering dipandang sebagai potensi pemicu radikalisasi baru di berbagai negara. Konflik internasional tidak hanya menjadi peristiwa geopolitik, tetapi juga dapat berubah menjadi sumber inspirasi ideologis bagi kelompok ekstremis. Namun menariknya, ketika ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat meningkat, dinamika seperti itu tidak terlihat di Indonesia. Tidak muncul mobilisasi jihad dari kelompok jaringan teror untuk membela Iran, tidak ada seruan solidaritas bersenjata, dan tidak terlihat peningkatan aktivitas jaringan teror domestik.

Mengapa konflik yang tampaknya besar secara geopolitik itu justru tidak menimbulkan resonansi yang signifikan di Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya terletak pada satu faktor yang sering luput diperhatikan, yaitu, struktur ideologi kelompok teror di Indonesia.

Akar Ideologi Terorisme Berbasis Agama di Indonesia

Sebagian besar jaringan teror di Indonesia berakar pada ideologi salafi-jihadisme Sunni. Ideologi ini berkembang dari gerakan purifikasi Islam. Dalam kerangka ini, ajaran agama dipahami secara sangat literal, sementara berbagai tradisi atau interpretasi keagamaan yang dianggap tidak sesuai dengan pemahaman mereka dipandang sebagai penyimpangan. Dalam perkembangannya, salafi-jihadisme tidak hanya menjadi gerakan keagamaan, tetapi juga menjadi ideologi politik yang mendorong penggunaan kekerasan sebagai alat perjuangan. Jihad dalam konteks ini tidak semata dipahami sebagai perjuangan spiritual, tetapi juga sebagai perjuangan bersenjata untuk menegakkan tatanan Islam yang mereka anggap ideal.

Pandangan dunia yang dibangun oleh ideologi ini cenderung sangat eksklusif. Dunia dibagi secara tegas dalam warna hitam dan putih, antara kelompok yang dianggap benar dan kelompok yang dianggap menyimpang. Dari sudut pandang tersebut, solidaritas ideologis menjadi sangat selektif. Kelompok jihad hanya akan memberikan dukungan kepada konflik yang mereka anggap sejalan dengan keyakinan teologis mereka. Jika tidak ada kesamaan ideologis, maka konflik tersebut tidak memiliki makna mobilisasi bagi mereka. Di sinilah persoalan sektarian memainkan peran penting.

Iran dan Batas Solidaritas Jihadisme

Dalam doktrin salafi-jihadisme, komunitas Syiah sering diposisikan sebagai kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam yang dianggap “murni”. Bahkan dalam banyak propaganda jaringan jihad global, Syiah tidak hanya dipandang sebagai kelompok sesat, tetapi juga sebagai musuh teologis. Konflik sektarian di Timur Tengah dalam dua dekade terakhir semakin memperkuat pandangan tersebut. Dalam berbagai konflik di Irak dan Suriah, kelompok jihad Sunni sering berhadapan langsung dengan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Syiah. Pengalaman konflik tersebut memperdalam sentimen permusuhan di antara kedua kelompok.

Karena Iran merupakan negara yang berlandaskan mazhab Syiah, maka negara ini tidak dipandang sebagai sekutu ideologis oleh kelompok salafi-jihadi. Sebaliknya, dalam banyak narasi propaganda mereka, Iran justru sering ditempatkan sebagai rival teologis. Akibatnya, konflik antara Iran dan Israel tidak dipahami sebagai perang yang menuntut solidaritas jihad dari kelompok-kelompok tersebut. Konflik itu lebih dipandang sebagai pertarungan geopolitik antarnegara yang tidak memiliki relevansi langsung dengan agenda ideologis mereka. Hal ini menjelaskan mengapa konflik Iran dengan Israel atau Amerika Serikat tidak memicu mobilisasi jihad seperti yang pernah terjadi pada konflik lain di Timur Tengah.

Dalam kasus Afghanistan pada 1980-an atau perang Suriah setelah 2011, kelompok jihad melihat adanya kesamaan ideologis dengan pihak yang mereka dukung. Kesamaan itulah yang menciptakan rasa solidaritas dan mendorong mobilisasi. Namun dalam konflik yang melibatkan Iran, kesamaan ideologis itu tidak ada.

Palestina dan Resonansi Publik Indonesia

Ada satu faktor lain yang turut menjelaskan mengapa konflik Iran–Israel tidak mudah memobilisasi jaringan ekstremis di Indonesia, yaitu posisi isu Palestina dalam diskursus publik. Memang benar bahwa Iran merupakan salah satu negara yang paling vokal dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Namun dukungan terhadap Palestina tidak hanya datang dari Iran. Banyak negara, organisasi internasional, dan masyarakat sipil global juga menyuarakan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina. Sebagian besar organisasi Palestina sendiri berasal dari tradisi Sunni. Karena itu, perjuangan Palestina tidak berada dalam satu kerangka mazhab tertentu.

Kini, baik di Indonesia maupun di dunia, simpati terhadap Palestina bahkan berkembang sebagai isu kemanusiaan yang melintasi batas organisasi dan ideologi. Dukungan datang dari berbagai kelompok masyarakat, mulai dari organisasi Islam moderat hingga jaringan kemanusiaan. Artinya, solidaritas terhadap Palestina tidak otomatis berubah menjadi solidaritas terhadap Iran. Pemisahan ini secara tidak langsung juga membatasi kemungkinan mobilisasi ekstremisme berbasis konflik Iran–Israel di Indonesia. Pada akhirnya, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa konflik global tidak selalu memiliki dampak langsung terhadap dinamika keamanan domestik. Ideologi tetap menjadi faktor penentu dalam mobilisasi ekstremisme.

Dalam konteks Indonesia, jarak teologis antara salafi-jihadisme Sunni dan Syiah Iran justru menjadi penghalang utama bagi munculnya solidaritas tersebut. Karena itu, meskipun konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat sering memicu ketegangan geopolitik global, resonansinya terhadap jaringan teror di Indonesia tetap sangat terbatas. Memahami hal ini penting agar kita tidak terjebak pada asumsi yang berlebihan. Tidak semua konflik di Timur Tengah secara otomatis memiliki implikasi langsung terhadap keamanan nasional Indonesia. Kadang-kadang, justru perbedaan ideologi di dalam dunia Islam sendiri yang menjadi faktor pembatas paling efektif bagi mobilisasi ekstremisme lintas negara.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar