Nanda-Olivia-Korban-Bom-Kuningan-Kedubes-Australia-ruangobrol

Nanda Olivia: Kehidupan Baru Setelah Jadi Korban Bom

By

“Saya selalu berharap teroris itu mati dan disiksa di depan korban,” kata Nanda Olivia, korban Bom Kuningan, di depan Kedutaan Australia 2004. Butuh waktu lama bagi ibu tiga anak itu untuk memaafkan dan meredam dendam.

Ia tak pernah menyangka akan menyandang status korban bom. Ingatan Nanda masih melekat di kepalanya tentang kejadian 9 September 2004.

Pagi itu ia akan turun dari bus di gedung samping Kedutaan Australia menuju STIE Perbanas, tempat ia menuntut ilmu. Tak ada firasat apa-apa. Ia hanya melihat seorang anak SMA berdiri di belakangnya. Bus berhenti dan bum! Nanda tak mengingat apa-apa lagi. Kupingnya tak bisa mendengar apa pun, matanya buram dan badannya terasa nyeri entah bagian mana. Semua terjadi begitu cepat.

Tak lama sampai akhirnya ia menyadari betapa sakit yang ia derita ketika tiba di RS terdekat. Gendang telinganya sobek, tangannya luka-luka. Selang beberapa hari, Kedutaan Besar Australia memberikan pengobatan para korban ke Australia. Tapi tiba-tiba, Nanda teringat dengan sang bocah SMA di belakangnya. Di mana dia? Karena bocah itu, ia tak menderita luka yang lebih parah lagi.

Beberapa bulan kemudian, luka di tubuh Nanda berangsur pulih. Namun tidak dengan hatinya. Ia nyaris tak pernah melewatkan berita terorisme di televisi. Setiap ada pelaku teror yang tertangkap dan terbunuh, ia berdecak puas. Sampai kemudian ia datang ke sidang terpidana teroris Bom Kedutaan Australia, Rois. Sebagai saksi, Nanda menceritakan kronologis dan luka yang ia derita. Rois tertawa dan berteriak “Allahuakbar”. Nanda mencoba menahan diri, hatinya sakit makin tak terkira.

Sepanjang prosesnya, Nanda sering mengeluh luka tangannya. Ibu jari tangan kanan sudah tidak berfungsi lagi dan puluhan piring telah ia pecahkan karenanya. “Allah tidak akan memberi cobaan lebih dari kemampuan hambanya,” nasihat sang Ibu yang terngiang.

10 tahun berlalu. Aktivitas Nanda Olivia masih seperti biasa hingga ada surat undangan di meja. AIDA (Aliansi Indonesia Damai) mengundangnya bertemu dengan seorang mantan narapidana teroris. Entah kenapa, rasanya ia kembali terkorek luka lama yang belum sembuh sepenuhnya. Tapi baiklah, ia coba.

Hari itu, Nanda bertemu dengan Ali Fauzi, adik dari Ali Imron dan Ali Gufron, terpidana Bom Bali I. Ali Fauzi menghaturkan maaf mewakili kakak-kakaknya. Tak semudah itu, Nanda serasa berkata kasar kepada lelaki 40 tahun itu. Ia ingin mencurahkan semua sakit di dadanya.

“Tapi ternyata apa yang saya lakukan, tidak menyembuhkan luka saya, tidak mengembalikan anak SMA yang meninggal seminggu setelah saya pulang perawatan dari Australia. Saya capek sendiri,” Kata Nanda saat menjadi pembicara di Konferensi WGWC (Working Group on Women in CVE), Senin kemarin (9/3).

Perlahan, Nanda mulai menerima apa yang terjadi pada dirinya. Pertemuan selanjutnya dengan Ali Fauzi ataupun Ali Imron tak sepanas pertemuan sebelumnya. “Saya memaafkan mereka bukan untuk mereka, tapi untuk saya sendiri, untuk teman-teman saya,” ujar Nanda Olivia, dengan suara bergetar.

Sumber foto: AIDA

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like