Mengapa UAS ‘dicekal’ Berceramah di Kampus Biru UGM?

By

Oleh: M. Najib Azca (Guru Kecil di UGM)

Sejak kemarin ramai beredar kabar tentang ‘pencekalan’ acara kuliah umum yang sedianya diisi penceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Tentu, aneka ragam jawaban dan spekulasi muncul untuk pertanyaan sederhana itu.

Jawaban ringannya begini: UAS tentu saja ditolak, sebab sekarang waktunya UTS. UAS di sini adalah ujian akhir semester dan UTS adalah ujian tengah semester. Hehehe.

Tetapi ada jawaban yang lebih rumit, seperti disampaikan Humas UGM. Jawabannya; “Pembatalan acara UAS di UGM sebab untuk menjaga keselarasan kegiatan akademik dan nonakademik dengan jati diri UGM,” kata Humas UGM, Dr. Iva Ariani seperti dikutip CNN online (9/10/2019: 16.56 WIB).

Tak jelas apa maksud dosen Filsafat UGM itu soal keselarasan akademik dan nonakademik dengan hadirnya UAS.

Bisa jadi, ini berkaitan dengan tradisi kampus. Biasanya acara Kuliah Umum disampaikan akademisi bereputasi tinggi. Tapi kali ini ‘hanya’ seorang ustaz.

Bahkan Guru Besar Antropologi UGM Prof. Heddy Shri Ahimsaputra yang juga penulis buku “Paradigma Profetik Islam: Epistemologi, Etos & Model” yang semula dipasangkan sebagai ‘panelis’ bersama UAS, belakangan mengundurkan diri.

Pesan yang beredar, pengunduran diri Prof. Ahimsa terkait statusnya di acara itu. Semula jadi ‘panelis’ dalam seminar bertopik “Islam dan Ilmu Pengetahuan”, menjadi ‘pemberi prolog’ tabligh akbar UAS. Dia menolak ‘hanya’ diberi peran jadi ‘band pembuka’.

Kredibel?

Pertanyaan berikutnya; apakah pantas UAS memberi Kuliah Umum di UGM, sebuah kampus bereputasi internasional?

Ketua Badan Pengelola Masjid UGM, Mashuri Maschab, berargumen UAS punya kapasitas dan kompetensi untuk berbicara tema itu. UAS adalah penceramah hebat, tersohor seantero negeri, acara ceramahnya selalu penuh sesak dibanjiri khalayak.

Lulusan S1 dari Universitas Al Azhar dan S2 dari Darul Hadits Al Hasaniyah Maroko ini memiliki kecakapan berpidato yang mampu memukau dan mempesona khalayak luas. Sejumlah ceramahnya di YouTube telah ditonton jutaan pemirsa. Meski secara kultural NU, namun UAS bisa diterima dan memiliki pengikut dari berbagai aliran Islam.

Tapi, apakah semua itu jaminan reputasi keilmuan UAS? Tampaknya tidak. Beberapa waktu lalu, beredar petikan ceramahnya, UAS menganggap parfum adalah haram sebab mengandung alkohol dan sebagian besar berbahan hewani, khususnya daging babi.

Pendapat UAS soal ini malah jauh dari basis ilmu pengetahuan, lebih banyak berbasis prasangka.

Ini menjadikan kredibilitasnya di ilmu pengetahuan diragukan. Argumen lainnya, sejumlah ceramah UAS dianggap mengandung ujaran kebencian. Soal ‘jin kafir’ di palang Salib salah satunya.

Inilah yang tampaknya tak selaras dengan prinsip kebebasan akademik dan budaya toleransi yang dikembangkan UGM.

Otoritas kampus

Pertanyaan selanjutnya, apakah hal-hal itu cukup jadi alasan ‘mencekal’ UAS di UGM?

Di sini saya kurang sepakat dengan urusan ‘cekal-mencekal’ di lingkungan kampus. Meski barangkali memang tidak tepat mengundang UAS dalam konteks berbicara di kegiatn akademik, tampaknya pimpinan UGM perlu menahan diri untuk mudah melakukan praktik pelarangan berbasis otoritas kampus.

Ini bisa jadi ‘pintu pembuka’ menguatnya praktik otoriterisme di kampus.  Hal yang mirip terjadi saat pimpinan UGM melakukan sensor terhadap media mahasiswa Balairung yang melakukan liputan kritis mengenai pemilikan tanah yang sewenang-wenang di Yogyakarta dan diduga melibatkan pihak Kraton Yogyakarta (Tempo, 19 Agustus 2019).

Sebaliknya, Pimpinan UGM perlu melakukan ‘intervensi’ agar acara di kampus lebih berkarakter akademis, tak sekadar pengumpulan massa yang besar tapi minim refleksi dan diskusi kritis.

Coba sandingkan UAS atau ulama lainnya dengan Gus Baha’ , Ulil Abshar Abdalla atau Nadirsyah Hosen dalam forum diskusi bermutu. Tampaknya itu lebih tepat dan bermartabat sebagai lembaga ilmiah.

Syukurlah, Pimpinan UGM melalui humas akhirnya ‘tidak melarang UAS masuk kampus’. Seperti diberitakan detik.com (10/10/2019) ‘Batalkan Kuliah Umum, UGM Janji Akan Undang UAS di Kemudian Hari”.

Artinya, format acaranya yang berwatak ilmiah yang dikehendaki Kampus Biru, bukan sosok UAS sebagai penceramah agama yang ‘masuk daftar cekal’.

Jadi bukan event mobilisasi massa yang bercorak monolog ala tabligh akbar, melainkan event diskusi dan refleksi kritis yang sarat dialektika argumen dan opini.

Tapi, satu lagi, apakah ‘pencekalan’ UAS ini masih terkait drama Pilpres 2019? Narasi perseteruan ‘Cebong’ versus ‘Kampret’? Tampaknya sih tidak dan semoga tidak. Sebab itu jauh dari akal sehat dan keadaban politik.

Jika tidak? Ya selamat tinggal UGM sebagai kampus demokrasi, akal sehat dan keadaban politik.

 

Bulaksumur, 10 Oktober 2019

 

Sumber foto: https://artidoa.com/wp-content/uploads/Ceramah-Ustadz-Abdul-Somad-Terbaru-min.jpg

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like