25 September Bikin Ika Puspitasari Jadi Radikal

By

Ika Puspitasari merupakan calon pelaku bom bunuh diri. Ia ditangkap di Purworejo pada Desember 2016 sebelum melancarkan aksinya. Keterlibatan Ika dalam kelompok teror tidak lepas dari peristiwa di 25 September.

“Pertama kali aku liat Bom di Gereja Solo.” ujar Ika saat saya wawancara 8 November 2017. Menurut Ika, peledakan bom di Gereja itu nampak cukup mengagetkan.

Bom tersebut meledak di GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah pada minggu 25 September 2011. Bom meledak tepat pukul 10.55 saat jamaah melakukan misa pagi. Setidaknya 28 orang luka-luka dan pelaku bom bunuh diri tewas di tempat. Pelaku bernama Ahmad Yosefa Hayat atau Abu Daud.

Abu Daud menggunakan strategi ‘Tutup pintu untuk menangkap pencuri” dari Sun Tzu. Masuk ke tempat musuh dan kemudian serang musuh dari dalam. Ia meledakkan bom dari dalam gereja dengan tujuan mendapatkan korban lebih banyak.

Aksi Abu Daud mendapat banyak dukungan karena strategi ini dianggap keren. Ika mengakui bahwa ia melihat Abu Daud sebagai sosok yang berani.

Sejak melihat berita mengenai Bom Kepunton Solo, mantan pekerja migran ini kemudian mencari tahu tentang Al Qaida. Itulah titik dimana Ika menjadi fans berat Al Qaida, tepatnya Desember 2012.

Bagi perempuan asal Purworejo ini, Al Qaida sangat berani. Keberanian itu seharusnya dimiliki oleh seluruh umat islam dalam menyampaikan kebenaran. Al Qaida juga dianggap sebagai pahlawan bagi diskriminasi muslim.

Ika perlahan menggunakan hijab dan menarik diri dari pergaulan. Kehidupan Hongkong yang gemerlap pun ia tinggalkan demi hijrah. Ia semakin rajin berselancar di dunia online bersama Al Qaida. Tahun 2014, ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) mendeklarasikan diri. Menurut Ika, ISIS adalah transformasi dari Al Qaida. Ika buru-buru mencari tahu tentang ISIS dan berbaiat.

Sosok perempuan yang ceria itu juga menemukan tambatan hatinya di ISIS. Suaminya merupakan ansor (sebutan untuk anggota ISIS) juga, sama sepertinya. Mereka meresmikan hubungan mereka secara online pada Juli 2015. “10 hari sebelum ramadhan” ingatnya. Saya menanyakan anniversary pernikahan mereka, “Gak perlu begituan, yang penting kan saling mencintai” jawabnya malu-malu.

Ika ditangkap karena pendanaan aksi terorisme yang dikoordinir oleh suaminya. Saat ini, perempuan bercadar itu menjalani hukuman pidana 4,5 tahun penjara.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like