Rumah yang Tak Lagi Terasa Aman

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Ketukan di Pagi Buta

Dengan jantung yang semakin berdebar, akhirnya aku membuka pintu kamar hotel tersebut. Namun tidak ada siapa-siapa yang kukenal di sana. Hanya seorang petugas hotel yang berdiri di depan pintu. Ia kemudian mengatakan bahwa di bawah ada bapak mertuaku yang datang untuk menjemputku. Mendengar itu, aku sempat merasa sedikit lega, meskipun rasa bingung masih memenuhi kepalaku.

Farhan masih tidak bisa kuhubungi, ia menghilang tanpa memberitahuku apa pun, sementara sekarang ayahnya datang mencariku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, tetapi aku tidak ingin berlama-lama berada di kamar itu sendirian. Aku segera membereskan barang-barangku, memasukkannya ke dalam tas, lalu bersiap untuk meninggalkan hotel tersebut.

Sesampainya di bawah, aku melihat bapak mertuaku sudah menunggu. Dari wajahnya aku bisa melihat bahwa ia berusaha terlihat tenang, tetapi ada kekhawatiran yang sulit disembunyikan. Tidak banyak yang kami bicarakan. Aku hanya mengikuti arahannya dan segera naik ke motor yang dibawanya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, pikiranku tidak berhenti memikirkan Farhan. Aku beberapa kali menanyakan keberadaannya, berharap mendapatkan jawaban yang bisa membuatku tenang.

"Kemana Farhan, pak?" tanyaku. Namun bapak mertuaku hanya menjawab singkat, "Ada di rumah."

Jawaban itu justru membuatku semakin bertanya-tanya. Jika Farhan ada di rumah, lalu mengapa ia meninggalkanku sendirian di hotel? Mengapa ia tidak menjawab teleponku? Dan mengapa semuanya terasa begitu berbeda sejak berita penangkapan teman-temannya muncul?

Ketika akhirnya sampai di rumah Farhan, aku langsung mencari keberadaannya. Aku menemukannya duduk termenung di ruang tamu. Wajahnya terlihat sangat berbeda dari Farhan yang kukenal sebelumnya. Ada rasa takut yang jelas terlihat di wajahnya, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu yang buruk terjadi.

Aku langsung menghampirinya dan bertanya, "Kamu dari mana?" Ia menjawab bahwa dirinya hanya berada di rumah. Aku terdiam beberapa saat karena jawaban itu tidak masuk akal bagiku. Bukankah beberapa jam sebelumnya aku masih berada di hotel dan ia sudah tidak ada di sana?

Aku kemudian bertanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih bergetar, "Kenapa kamu ninggalin aku?" Farhan hanya mengatakan bahwa ia takut ditangkap dan tidak ingin aku ikut terseret ke dalam masalah yang sedang dihadapinya.

Mendengar jawaban itu, aku tidak mampu berkata banyak. Aku hanya terduduk lemas. Kekhawatiran yang selama ini berulang kali muncul di kepalaku, yang selama ini selalu berusaha kutepis setiap kali merasa takut, tiba-tiba terasa begitu nyata. Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa kemungkinan Farhan benar-benar berurusan dengan sesuatu yang serius bukan lagi sekadar bayangan buruk yang kubuat sendiri.

Sejak hari itu, hari-hariku bersamanya di Jakarta dipenuhi kecemasan yang hampir tidak pernah berhenti. Aku menjadi jauh lebih mudah panik setiap kali Farhan pergi tanpa memberitahuku. Ada beberapa kali ia tiba-tiba menghilang selama beberapa hari dan tidak bisa kuhubungi.

Setiap kali itu terjadi, aku tidak tahu harus mencari ke mana. Aku hanya menunggu sambil memikirkan berbagai kemungkinan yang semakin lama semakin buruk. Aku pernah menangis histeris karena tidak tahu apakah ia masih aman atau justru sudah ditangkap.

Anehnya, di tengah semua ketakutan itu, aku tetap tidak bisa membayangkan hidup tanpa Farhan. Padahal sebelumnya ia sudah berkali-kali membuatku kecewa, berbohong, bahkan mengkhianati kepercayaanku.

Tetapi pada saat itu aku sudah terlalu bergantung kepadanya. Ia bukan lagi hanya suamiku. Dalam pikiranku, ia juga menjadi orang yang memperkenalkanku pada agama, pada pemahaman yang selama ini kuanggap sebagai jalan paling lurus, dan pada lingkungan yang kemudian menjadi hampir seluruh duniaku. Karena itulah ketika sesuatu terjadi padanya, aku merasa seolah-olah seluruh hidupku ikut berada dalam bahaya.

Ketakutan itu semakin terasa ketika suatu malam, saat kami sedang bersiap untuk tidur, Farhan mengatakan bahwa ia ingin aku pulang ke Lampung terlebih dahulu. Mendengar kalimat itu, pikiranku langsung kembali pada beberapa bulan sebelumnya, ketika ia pernah mengatakan bahwa hubungan kami tidak sah dan membuatku merasa bahwa ia akan meninggalkanku.

Ingatan tentang masa itu datang begitu cepat. Aku kembali merasakan ketakutan yang sama, ketakutan bahwa setelah semua yang kulewati bersamanya, ia akan kembali pergi dan meninggalkanku sendirian. Di kepalaku hanya ada satu kemungkinan: mungkin kali ini Farhan benar-benar akan meninggalkanku.

Namun Farhan berusaha meyakinkanku bahwa bukan itu maksudnya. Ia mengatakan bahwa ia hanya khawatir suatu hari dirinya benar-benar ditangkap dan aku berada di sana ketika hal itu terjadi. Ia tidak ingin aku ikut terseret hanya karena berada bersamanya.

Mendengar penjelasan itu, aku tetap merasa tidak tenang. Aku justru semakin bersikeras bahwa aku tidak ingin pergi meninggalkannya. Aku mengatakan kepadanya bahwa apa pun yang terjadi, kami akan menghadapinya bersama. Saat itu aku tidak lagi berpikir tentang bagaimana seharusnya seseorang menghadapi keadaan seperti ini. Aku hanya berpikir bahwa aku tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang selama ini kuanggap sebagai tempat bergantung.

Akhirnya kami kembali ke Lampung. Namun kepulangan itu sama sekali tidak membuat kehidupan kami menjadi lebih tenang. Justru sejak kembali, rasa waswas seperti ikut terbawa pulang bersama kami.

Farhan mulai mengurangi banyak hal yang sebelumnya biasa ia lakukan. Salah satunya adalah menggunakan telepon genggam. Ia hampir tidak lagi memegang ponsel seperti sebelumnya. Ia mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan jejak dan menghindari kemungkinan dirinya dilacak oleh Densus.

Bagi diriku yang saat itu sudah terbiasa berkomunikasi dengannya hampir setiap waktu, perubahan tersebut terasa sangat besar. Aku harus terbiasa dengan keadaan ketika Farhan tidak selalu bisa dihubungi, tidak selalu bisa ditanya keberadaannya, dan tidak lagi mudah diakses seperti sebelumnya. Setiap kali ia pergi, selalu ada kekhawatiran yang mengikuti pikiranku.

Di tengah situasi itu, Farhan mulai lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bekerja bersama ayahku. Kehidupan sehari-hari dari luar mungkin terlihat sederhana. Ia bekerja, pulang, dan kami menjalani rutinitas seperti pasangan lainnya. Tetapi di dalam rumah tangga kami, suasananya tidak pernah benar-benar sama lagi. Berita penangkapan yang terus terbayang, ketakutan bahwa Farhan bisa sewaktu-waktu ditangkap, dan kebiasaannya menghilangkan jejak membuatku merasa seperti sedang hidup dalam keadaan menunggu sesuatu yang tidak pernah kuketahui kapan akan terjadi.

Aku berusaha menjalani hari-hari seperti biasa, tetapi setiap kali mendengar berita tentang penangkapan atau melihat sesuatu yang berkaitan dengan terorisme, pikiranku kembali pada malam di hotel itu, pada kamar yang kosong, pada telepon yang tidak pernah diangkat, dan pada satu kalimat Farhan bahwa ia takut ditangkap.

Sejak saat itu, ketakutan tersebut tidak lagi hanya menjadi kemungkinan di dalam kepalaku. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang harus kujalani bersama Farhan.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar