Dua Peluang Kecil dan Sebuah Keberanian Baru

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Di Antara Buku dan Gendongan: Belajar Lagi dari Titik Minus

Setelah ijazah Paket C itu berada di tanganku, ada rasa lega yang datang dengan pelan. Bukan kebahagiaan yang besar atau meriah, tetapi semacam keheningan yang terasa lebih ringan dari biasanya. Setidaknya satu tahap yang dulu terasa sangat jauh akhirnya bisa kulalui.

Namun setelah rasa lega itu mereda, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari ”setelah ini, aku harus melangkah ke mana?”

Keinginan untuk melanjutkan pendidikan sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya sempat tertutup oleh begitu banyak hal, oleh luka, oleh rasa malu, oleh kenyataan hidup yang berubah terlalu cepat. Setelah Paket C selesai, keinginan itu muncul lagi, meski masih disertai keraguan.

Aku juga harus jujur pada keadaan hidupku. Kuliah seperti kebanyakan mahasiswa lain, datang ke kampus setiap hari, mengikuti aktivitas perkuliahan secara langsung, hampir tidak mungkin untuk kulakukan. Ada tanggung jawab yang tidak bisa kutinggalkan. Ada kehidupan yang sudah terbangun di sekitarku, yang membuatku harus mencari jalan yang berbeda.

Dari situlah aku mulai memikirkan satu kemungkinan ”mencari beasiswa untuk kuliah secara daring.”

Jika dipikir secara realistis, pilihan itu terdengar hampir mustahil. Mendapatkan beasiswa saja sudah tidak mudah, apalagi untuk seseorang dengan latar belakang seperti diriku. Jalur pendidikanku tidak lagi lurus. Ada jeda yang panjang. Ada masa ketika hidupku benar-benar berhenti.

Masa itu adalah masa ketika aku terseret ke dalam lingkaran pemahaman yang keras dan sempit, sebuah pemahaman yang mengatasnamakan agama, tetapi justru perlahan merusak banyak bagian dari hidupku. Dari sanalah banyak hal mulai runtuh. Pendidikan terhenti. Hubungan dengan orang-orang di sekitarku retak. Rasa percaya diri yang dulu kumiliki perlahan hilang.

Radikalisme tidak hanya merusak cara seseorang memandang dunia. Ia juga bisa melukai kehidupan seseorang dari dalam, mengubah cara berpikir, memutus hubungan, dan meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat. Ketika aku akhirnya keluar dari lingkaran itu, yang tersisa bukan hanya kehilangan arah, tetapi juga perasaan bahwa aku tertinggal sangat jauh dari kehidupan yang dulu pernah kukenal.

Karena itulah, ketika aku memikirkan tentang kuliah lagi, keraguan selalu datang lebih dulu. Namun meskipun begitu, aku tetap mencoba mencari kemungkinan.

Hari-hari itu banyak kuhabiskan di depan layar, menelusuri berbagai informasi yang tersedia. Aku membaca halaman demi halaman, membuka berbagai situs, mencoba memahami berbagai program yang mungkin bisa kuikuti. Tidak semuanya mudah dimengerti. Kadang aku harus membaca berulang kali hanya untuk memastikan bahwa aku tidak salah memahami syarat atau ketentuan yang ada.

Sering kali pencarian itu berakhir tanpa hasil. Banyak program yang memiliki persyaratan yang tidak bisa kupenuhi. Ada yang membutuhkan latar belakang pendidikan tertentu, ada yang memiliki batas usia, ada pula yang mensyaratkan pengalaman yang tidak kumiliki.

Namun aku terus mencari.

Hingga suatu hari, setelah cukup lama menelusuri berbagai kemungkinan, aku menemukan dua peluang yang masih terlihat mungkin untuk dicoba. Dua program beasiswa untuk kuliah daring.

Peluangnya tidak terlihat besar. Bahkan jika dipikir secara jujur, mungkin sangat kecil.

Tetapi bagiku, dua kemungkinan itu sudah cukup berarti.

Aku memutuskan untuk mencoba keduanya.

Ketika mulai menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, aku menyadari bahwa sebenarnya aku tidak memiliki banyak hal yang bisa diandalkan. Tidak ada prestasi akademik terbaru yang bisa kutunjukkan. Tidak ada pengalaman yang terlihat mengesankan di atas kertas. Yang kumiliki hanyalah beberapa piagam dari masa lalu.

Piagam-piagam itu sudah lama tersimpan. Aku bahkan hampir lupa bahwa mereka masih ada.

Saat aku mengambilnya kembali, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Tanganku sedikit gemetar ketika memegangnya. Kertas-kertas itu mengingatkanku pada masa yang terasa sangat jauh, masa ketika aku masih menjadi siswa yang aktif, yang mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan dengan penuh semangat.

Aku menatapnya cukup lama.

Ada keraguan yang muncul dalam hati. Apakah semua ini masih berarti sekarang? Apakah pencapaian yang terjadi bertahun-tahun lalu masih memiliki nilai setelah hidupku berubah begitu banyak?

Namun di sisi lain, aku sadar bahwa semua itu tetap bagian dari diriku. Masa lalu itu mungkin tertutup oleh berbagai peristiwa yang menyakitkan, tetapi ia tidak benar-benar hilang.

Akhirnya aku memasukkan semua piagam itu ke dalam berkas pendaftaran.

Proses menyiapkan berkas-berkas itu kulalui dengan perasaan yang campur aduk. Kadang aku merasa terlalu berani berharap. Kadang aku merasa apa yang kulakukan ini mungkin tidak akan membawa hasil apa pun. Namun aku tetap menyelesaikannya.

Hingga akhirnya tiba saatnya untuk mengirimkan pendaftaran.

Aku duduk cukup lama di depan layar sebelum benar-benar menekan tombol kirim. Ada banyak pikiran yang berputar di kepalaku. Bagaimana jika tidak berhasil? Bagaimana jika semua ini hanya berakhir dengan penolakan?

Namun pada akhirnya aku menyadari satu hal jika aku tidak mencoba sama sekali, maka jawabannya sudah pasti tidak.

Jadi aku mengirimkannya.

Dua pendaftaran, dua peluang kecil yang mungkin bagi banyak orang terlihat tidak berarti. Namun bagiku, langkah itu terasa penting. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak hanya bertahan…, aku mencoba berjalan lagi.

Aku tidak tahu apakah pintu itu akan terbuka atau tidak. Tetapi setidaknya kali ini, aku sudah berani mengetuknya.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar