Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Aku Tidak Meminta Bahagia: Pernikahan, Luka, dan Cahaya yang Datang Pelan
Aku tidak tahu apakah langkah ini akan berhasil atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah aku benar-benar mampu. Bahkan, ada bagian dalam diriku yang merasa sangat tidak layak untuk berbicara tentang kebangkitan. Kata itu terasa terlalu tinggi untuk seseorang yang merasa hidupnya pernah runtuh sedemikian dalam.
Kehancuran itu bukan hanya mengubah arah hidupku. Ia juga mengubah cara pandangku terhadap diri sendiri. Aku sulit mengenali siapa aku sekarang. Rasa percaya diri yang dulu pernah ada seolah hilang tanpa sisa. Aku tidak lagi yakin pada kemampuanku, pada nilai diriku, bahkan pada kemungkinan masa depan yang lebih baik.
Jika aku tetap melangkah, itu bukan karena aku merasa kuat. Justru sebaliknya. Aku berjalan karena Allah memampukan. Ada kekuatan yang bukan berasal dari diriku sendiri. Dalam banyak malam yang sunyi, aku hanya mampu berdoa agar diberi kemampuan untuk tidak berhenti.
Langkah pertamaku untuk memulai lagi memang berat. Aku mencari informasi tentang belajar Paket C—program pendidikan kesetaraan nonformal setara Sekolah Menengah Atas (SMA).
Bagi orang lain, mungkin itu keputusan kecil. Namun bagiku, itu seperti mencoba berdiri kembali setelah lama terjatuh. Dengan latar belakangku yang dulu mengambil jurusan IPA dan menyukai fisika, aku harus menerima kenyataan bahwa jurusan yang tersedia hanyalah ilmu sosial. Ada rasa kehilangan di situ. Rumus-rumus dan angka-angka yang dulu akrab kini harus kulepaskan. Hidupku benar-benar berubah arah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku kembali memegang buku dan pena. Rasanya canggung. Aku tidak merasa seperti memulai dari nol. Aku merasa memulai dari minus, minus yang cukup jauh. Sementara teman-temanku telah duduk di bangku kuliah, mengenakan almamater kampus masing-masing, aku masih mengurus pendaftaran pendidikan kesetaraan.
Aku tertinggal. Itu fakta yang tidak bisa kupungkiri.
Ada jarak yang terasa sangat lebar antara diriku dan mereka. Jalan yang kutempuh bahkan tidak pernah ada dalam rencana hidupku sebelumnya. Aku pernah membayangkan masa depan yang berbeda, dengan jalur pendidikan yang lebih lurus dan jelas. Namun kini, aku harus menerima kenyataan bahwa jalanku tidak lagi sama.
Meski demikian, perlahan muncul dorongan untuk terus melangkah. Bukan dorongan yang besar dan penuh percaya diri, tetapi cukup untuk membuatku tidak berhenti. Aku mulai belajar kembali. Aku bolak-balik antara rumah dan tempat belajar untuk mengerjakan tugas. Lebih sering lagi, aku belajar sambil memangku anak. Buku terbuka di hadapanku, sementara seorang bayi kecil membutuhkan perhatian di sisi lain.
Waktuku terbagi. Tenagaku terbatas. Namun ada tekad yang tumbuh pelan-pelan.
Tidak semua orang memahami keputusan ini. Ada komentar-komentar yang sampai kepadaku:
“Untuk apa ambil Paket C? Toh belum tentu bisa kuliah.”
“Sudah terlambat.”
“Fokus saja menjadi ibu.”
Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya tidak ringan. Ia mengingatkanku pada posisi yang dianggap rendah. Seolah usahaku ini tidak memiliki arti. Jujur, itu menyakitkan. Aku berjalan sambil membawa lebih dari satu trauma. Ada luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh, ada rasa minder yang masih sering muncul, dan ada tanggung jawab sebagai seorang ibu muda.
Namun di tengah semua itu, aku sampai pada satu kesadaran, jika aku tidak memperjuangkan diriku sendiri, tidak ada orang lain yang akan melakukannya untukku. Aku tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Aku tidak bisa menunggu rasa percaya diri datang dengan sendirinya. Aku hanya bisa melangkah, meski dengan langkah kecil.
Proses itu berlangsung sekitar satu tahun. Tidak ada yang istimewa secara lahiriah. Tidak ada pencapaian besar yang diumumkan ke banyak orang. Yang ada hanyalah hari-hari belajar, mengerjakan tugas, menghadapi rasa lelah, dan berusaha konsisten.
Hingga akhirnya, pendidikan Paket C itu selesai. Ijazah ada di tanganku.
Saat menerimanya, aku tidak merasa menjadi orang yang luar biasa. Aku hanya merasa lega. Setidaknya satu tahap yang berat ini berhasil kulalui. Setidaknya aku membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku masih mampu menyelesaikan sesuatu. Bahwa aku tidak sepenuhnya berhenti di titik terendah hidupku.
Mungkin bagi banyak orang, ijazah itu tidak menjamin apa pun. Ia tidak otomatis membuka pintu kesuksesan. Ia tidak menghapus masa lalu. Namun bagiku, ia adalah simbol bahwa aku belum menyerah. Bahwa di tengah rasa tidak layak dan keraguan yang terus menghantui, aku tetap memilih untuk bergerak.
Ijazah itu bukan akhir dari perjalanan. Ia justru menjadi awal dari keberanian baru. Untuk pertama kalinya setelah lama, aku berani membayangkan kemungkinan yang lebih luas. Bukan sekadar bertahan, tetapi bertumbuh.
Aku masih memiliki banyak keterbatasan. Aku masih sering merasa ragu. Namun satu hal menjadi jelas, meski pernah runtuh, aku tidak sepenuhnya hancur. Selama Allah masih memberiku kemampuan untuk melangkah, sekecil apa pun, aku akan terus berjalan.
Bukan karena aku sudah kuat. Tetapi karena aku tidak ingin berhenti lagi.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi
Komentar