Remaja, Media Sosial, dan Jalan Menuju Kekerasan

Analisa

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Jumat pagi, 7 Agustus 2026, seorang remaja 14 tahun di Sekolah Debsirin Nonthaburi, pinggiran Bangkok - Thailand, menembak mati kakek dan neneknya di rumah menggunakan pistol milik sang kakek, lalu melanjutkan aksinya ke sekolah dengan melepaskan sedikitnya 26 tembakan sebelum mengakhiri hidupnya sendiri (Bangkok Post; Liputan6, 7 Agustus 2026). Delapan orang tewas. Seorang guru menggambarkannya sebagai siswa yang baik dengan prestasi akademik cukup bagus, tanpa riwayat perilaku agresif yang pernah tercatat pihak sekolah (Media Alkhairaat, 7 Agustus 2026). Ayahnya juga, kepada CNN, mengaku tak pernah melihat tanda kekerasan apa pun dari anaknya (CNN, 7 Agustus 2026).

Remaja bermasalah bukan fenomena baru. Setiap generasi punya remajanya yang dirundung, yang stres di sekolah, yang tumbuh di keluarga retak, yang marah pada dunia. Generasi orang tua kita dulu juga mengalami tekanan serupa—dimarahi guru di depan kelas, dikucilkan teman sepermainan, dibandingkan dengan kakak atau tetangga yang lebih berprestasi. Bedanya, kemarahan dan luka itu biasanya berhenti di titik tertentu seperti menangis sendirian, membolos sehari, atau paling jauh berkelahi satu lawan satu di halaman sekolah lalu berdamai keesokan harinya.

Yang berbeda sekarang adalah jarak antara perasaan itu dan tindakan ekstrem—jarak itu menyusut drastis. Remaja dulu, dengan masalah yang sama beratnya, jarang berakhir di titik mengambil nyawa orang lain secara terencana, apalagi dengan tingkat premeditasi dan presisi teknis seperti yang terlihat dalam kasus Nonthaburi. Pertanyaan yang layak diajukan bukan “kenapa remaja ini melakukannya”, tapi “apa yang berubah dalam ekosistem remaja hari ini sehingga jalan dari keluhan mendalam menuju aksi kekerasan menjadi begitu pendek?”

Dari Ruang Privat ke Panggung, dari Model Nyata ke Layar

Generasi sebelumnya yang punya masalah berat, seperti dibully, keluarga berantakan, tertekan di sekolah, pada dasarnya memendam masalah itu dalam ruang yang relatif terbatas seperti curhat di buku harian, curhat ke teman dekat, paling jauh surat kaleng. Tidak ada panggung untuk menyebarkan kemarahan itu, apalagi contoh konkret tentang bagaimana “menyelesaikannya” secara dramatis. Remaja hari ini tumbuh dalam ekosistem digital yang justru menyediakan keduanya sekaligus, yaitu panggung dan cetak biru.

Dalam kasus Nonthaburi, penyidik forensik menemukan bahwa pelaku memiliki riwayat menonton video penembakan massal Amerika Serikat di komputernya pada hari-hari menjelang serangan (Bangkok Post, 7 Agustus 2026). Ini bukan sekadar detail biografis, melainkan gambaran nyata bagaimana rekaman kekerasan asli—bukan fiksi, bukan gim—beredar bebas dan berfungsi sebagai referensi perilaku. Riset menunjukkan bahwa media sosial mampu menghubungkan seseorang dengan sumber informasi yang berbeda-beda hingga membuat individu seolah terlibat langsung dalam suatu kejadian, sekaligus meningkatkan reaksi emosional yang mendorong keterlibatan dalam gerakan atau tindakan ekstrem (Andy, M, & Putranto, R., 2022). Remaja dulu tidak dibully oleh internet 24 jam; remaja sekarang membawa perundungnya di saku celana, dan pada saat bersamaan bisa menemukan "panduan" tentang bagaimana orang lain di belahan dunia lain menyalurkan kemarahannya.

Algoritma yang Mempercepat, Bukan Meredam

Ada lapisan lain yang membuat situasi ini berbeda secara struktural, bukan cuma soal isi kontennya, tapi mekanisme yang mengantarkannya. Riset kolaboratif Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Malang, dan UIII pada 2026 menemukan bahwa kelompok-kelompok yang ingin memengaruhi generasi muda kini bergeser dari pendekatan kekerasan langsung ke perang narasi di dunia maya, menyasar Generasi Z sebagai digital natives yang paling rentan terpapar (Harakatuna, 2026). Guru Besar Sosiologi Pendidikan UPI dalam riset itu menegaskan bahwa perilaku radikal tidak muncul tiba-tiba, melainkan diawali proses pembentukan cara berpikir yang berlangsung bertahap di ruang digital (Harakatuna, 2026).

Persoalannya, proses bertahap ini sekarang berlangsung jauh lebih cepat dibanding generasi manapun sebelumnya, karena didorong oleh algoritma yang dirancang memaksimalkan keterlibatan (engagement), bukan kesehatan psikologis penggunanya. Sebuah studi di Inggris menegaskan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami gangguan psikologis, terutama yang berkaitan dengan distorsi citra diri dan perundungan siber (detikNews, 2025). Laporan WHO turut mencatat bahwa satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun secara global mengalami masalah kesehatan mental (detikNews, 2025). Remaja generasi sebelumnya juga mengalami tekanan sosial, tapi tekanan itu punya jeda—ada waktu istirahat dari lingkungan sosial begitu keluar dari sekolah. Remaja hari ini nyaris tidak pernah benar-benar “keluar” dari lingkungan sosial itu, dan sebagian dari algoritma yang mereka konsumsi justru dirancang untuk terus menyodorkan konten yang memperkuat emosi negatif yang sudah ada dalam diri mereka.

Keluhan yang Sama, Jalan Keluar yang Berbeda

Jika membandingkan struktur masalah remaja dulu dan sekarang, sebenarnya tidak banyak yang berubah dari sisi keluhan mendalam itu sendiri: bullying tetap bullying, stres akademik tetap stres akademik, keluarga retak tetap menyakitkan. Data KPAI 2022 pun mencatat media sosial sebagai pemicu berbagai masalah perilaku remaja, mengubah platform yang seharusnya positif menjadi arena perundungan siber dan bahkan ajang mengorganisir tindakan kekerasan (Pramudita, et.al, 2025). Yang berubah adalah tiga hal yang saling memperkuat: pertama, ketersediaan model kekerasan nyata yang bisa ditiru secara detail teknis melalui media daring, bukan lagi abstraksi. Kedua, ruang digital yang menghilangkan jeda emosional yang dulu tersedia secara alami. Ketiga, isolasi sosial yang paradoksal—remaja hari ini terhubung dengan lebih banyak orang secara digital, tapi sering kali makin jauh dari orang dewasa tepercaya yang bisa mengintervensi sebelum keluhan mendalam itu mengkristal menjadi rencana aksi.

Kombinasi tiga hal ini yang membuat kasus seperti Nonthaburi terasa berbeda dari kenakalan atau tekanan remaja generasi manapun sebelumnya: bukan karena remajanya secara inheren lebih rusak, melainkan karena jalur dari perasaan tertekan menuju tindakan kekerasan kini jauh lebih tersedia, lebih tervalidasi secara sosial di ruang tertentu, dan lebih sedikit menemui hambatan berupa orang dewasa yang cukup dekat untuk membaca tanda-tandanya. Kontradiksi antara citra pelaku Nonthaburi yang tenang dan berprestasi di mata keluarganya, dengan jejak digital gelap yang ditemukan penyidik setelah kejadian (CNN; Media Alkhairaat, 7 Agustus 2026), adalah bukti paling telanjang bahwa masalah bukan pada seberapa berat beban yang dipikul remaja, melainkan pada seberapa terpantau ruang tempat beban itu diproses—dan ruang itu kini sebagian besar berada di layar yang tak pernah benar-benar dimatikan.

Implikasinya bagi kerja pencegahan pun bergeser. Selama ini pendekatan menangani remaja bermasalah cenderung berfokus pada gejala yang tampak di dunia nyata—prestasi menurun, sikap murung, konflik dengan teman sebaya. Namun jika jalur radikalisasi dan aktualisasi kekerasan kini sebagian besar berlangsung di ruang digital yang bertahap dan nyaris tak kasatmata, seperti yang digambarkan riset UPI soal pergeseran dari kekerasan langsung ke perang narasi daring (Harakatuna, 2026), maka indikator lama sudah tidak lagi memadai. Orang tua dan sekolah generasi sebelumnya cukup mengenali anak dari perilakunya di rumah dan kelas; orang tua dan sekolah hari ini perlu belajar membaca jejak yang tertinggal di ruang yang sama sekali tidak mereka kenal, yaitu ruang digital. Kesenjangan kompetensi ini sendiri adalah bagian dari jawaban mengapa remaja sekarang lebih mudah sampai ke titik ekstrem: bukan karena mereka lebih jahat dari generasi sebelumnya, tetapi karena mereka tumbuh di ekosistem yang berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan orang dewasa di sekitar mereka untuk mengikutinya. Waktunya kita semua merenung dan berbenah.[]

[Diolah dari berbagai sumber]

*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar