Lebaran itu selalu punya aroma khas. Bukan cuma bau opor ayam atau rendang yang dipanaskan ulang tiga kali sehari, tapi juga bau… sampah. Iya, yang satu ini sering datang diam-diam, tapi jumlahnya tidak main-main. Bahkan kadang lebih “melimpah” dari THR.
Setiap tahun, kita merayakan kemenangan. Tapi di saat yang sama, kita juga diam-diam “mengalahkan” bumi dengan produksi sampah yang luar biasa. Ironis, ya. Kita saling memaafkan, tapi lupa minta maaf ke lingkungan.
Coba bayangkan suasana pagi Lebaran. Rumah ramai, tamu datang silih berganti, meja penuh makanan. Di sudut lain, plastik pembungkus kue kering menumpuk. Gelas sekali pakai berjejer seperti pasukan yang siap gugur. Kantong kresek mengembang seperti balon—bedanya, ini tidak ada yang mau dibawa pulang.
Dan lucunya, kita sering punya satu kalimat sakti: “Ah, Lebaran kan cuma setahun sekali.”
Kalimat ini ajaib. Bisa membenarkan hampir semua hal. Makan berlebihan? Wajar. Belanja berlebihan? Wajar. Sampah berlebihan? Ya… masa nggak boleh?
Padahal, kalau dipikir-pikir, yang “setahun sekali” itu Lebarannya. Tapi dampak sampahnya? Bisa bertahun-tahun. Bahkan puluhan tahun.
Ada satu momen yang sering luput kita sadari setelah tamu terakhir pulang.
Rumah mendadak sunyi. Piring-piring sudah dicuci. Sisa opor tinggal setengah panci. Tapi di dapur atau halaman belakang, ada pemandangan yang agak “menyentil”—tumpukan sampah.
Plastik, kardus, sisa makanan, botol minuman, semuanya bercampur. Seolah-olah mereka baru saja menggelar “Lebaran versi mereka sendiri”.
Di titik itu, biasanya kita cuma menghela napas dan berkata: “Besok aja dibersihin.”
Dan besoknya? Kita sudah kembali sibuk dengan kehidupan. Sampah itu akhirnya pergi—diangkut, dipindahkan, dan… entah ke mana. Yang jelas, bukan benar-benar “hilang”.
Lebaran sebenarnya mengajarkan banyak hal. Tentang kembali ke fitrah, tentang menahan diri, tentang berbagi. Tapi ada satu pelajaran yang sering tertinggal: tentang cukup.
Kita sering mengira kebahagiaan Lebaran itu harus “melimpah”. Makanan harus banyak. Kue harus beragam. Minuman harus siap untuk satu RT. Seolah-olah kalau tidak berlebih, Lebaran kita kurang sah.
Padahal, tamu yang datang itu lebih ingat obrolan hangat daripada jumlah toples di meja. Mereka datang untuk silaturahmi, bukan audit logistik.
Tapi ya itu tadi—kita kadang lebih sibuk mempersiapkan “apa yang terlihat” daripada memikirkan “apa yang tersisa”.
Menariknya, urusan sampah ini bukan cuma soal lingkungan. Ini juga soal cara kita memandang hidup.
Sampah adalah cermin. Ia menunjukkan apa yang kita konsumsi, bagaimana kita menggunakan sesuatu, dan seberapa cepat kita membuangnya. Dalam konteks Lebaran, sampah bisa jadi cermin dari satu hal: apakah kita benar-benar memahami makna kesederhanaan?
Karena jujur saja, kadang kita ini seperti orang yang baru selesai puasa sebulan… lalu balas dendam dalam dua atau tiga hari.
Dan bumi? Dia cuma bisa diam. Nggak bisa protes. Nggak bisa kirim pesan ke grup WhatsApp keluarga: “Maaf, ini sampahnya kebanyakan.”
Kalau bisa, mungkin dia sudah left group.
Lalu, apakah Lebaran harus jadi “steril” dari sampah? Ya nggak juga. Namanya juga perayaan, pasti ada sisa. Tapi mungkin yang perlu kita ubah bukan situasinya, melainkan sikapnya.
Misalnya, mulai dari hal kecil. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Memilih porsi makanan yang lebih realistis (ini penting, apalagi buat yang sering “lapar mata”). Menyediakan tempat sampah terpisah. Atau sekadar sadar bahwa setiap yang kita buang itu tidak benar-benar hilang.
Kedengarannya sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi perubahan memang sering dimulai dari hal-hal yang kelihatannya sepele.
Lebaran adalah tentang kembali. Kembali ke nilai, kembali ke kesadaran, kembali ke diri yang lebih utuh.
Mungkin tahun ini, selain saling memaafkan dengan sesama, kita juga bisa mulai “berdamai” dengan bumi. Tidak dengan cara yang besar dan heroik, tapi lewat pilihan-pilihan kecil yang lebih bijak.
Karena kalau dipikir-pikir, Lebaran tanpa sampah itu mungkin sulit. Tapi Lebaran dengan sampah yang lebih sedikit? Itu sangat mungkin.
Dan siapa tahu, itu juga bagian dari kemenangan yang sebenarnya.
Bukan cuma menang melawan hawa nafsu, tapi juga menang melawan kebiasaan lama yang diam-diam merugikan.
Kalau tahun ini setelah Lebaran kamu melihat tumpukan sampah yang lebih sedikit dari biasanya, mungkin itu bukan kebetulan. Mungkin itu tanda bahwa kita mulai belajar dan berubah.
Pelan-pelan. Tapi pasti.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar