Dare To Know: Menyalakan Cahaya Dari Madani Fest X Kenduri Cinta

Review

by Ari Vardhana Editor by Arif Budi Setyawan 2

Malam di Kenduri Cinta, 10 Oktober 2025, terasa lebih jujur dari biasanya. Hangat, sederhana, dan tanpa sekat kepentingan suara. Tak ada tiket, tak ada kursi VIP. Kami semua duduk bersila bersama, mahasiswa, ibu-bapak, media, anak balita, bhante, akademisi sampai habib, semuanya duduk setara. Di depan kami terpampang tulisan: “Menghadirkan Cahaya.” Dan malam itu, cahaya memang hadir bukan dari layar film, tapi dari percakapan dua arah di Taman Ismail Marzuki.

Tahun ke-8 Madani Film Festival datang dengan tema Misykat, yang dalam bahasa Al-Qur’an berarti “relung cahaya”. Tema itu dirayakan salah satunya melalui kolaborasi bersama Kenduri Cinta. Di tengah dunia yang makin gelap oleh narasi konflik kemanusiaan dari Palestina sampai istilah teroris di Indonesia Timur tema ini terasa bukan sekadar bunga kata, tapi kewajiban individu merespon cahaya tidak datang dari status sosial, jabatan, atau kedekatan dengan kekuasaan, tapi dari keberanian untuk tahu.

Peserta Kenduri Cinta yang memadati Taman Ismail Marzuki, Jumat (10/10/2025).[Dok. Ari K.J.V]

Para pembicara malam itu datang dari berbagai latar agama: ada Habib Husein Ja’far, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Bhante Dhirapuñño, JS Kristan, juga akademisi dan budayawan. Tidak ada yang berusaha terlihat benar, tidak ada yang ingin “memenangkan” argumen. Mereka semua menghadirkan cahaya. Di situlah terasa makna sebenarnya dari “moderasi beragama”. Bukan versi spanduk kementerian, tapi versi kehidupan nyata.

Pemerintah kita, entah kenapa, gemar sekali berpura-pura jadi cahaya menggelar seminar moderasi beragama, toleransi, atau kerukunan umat. Tapi ironisnya, narasumbernya sering hanya dari satu golongan. Kadang malah semuanya dari satu ormas. Niatnya mungkin baik, tapi jadinya seperti seminar toleransi yang intoleran.

Di Kenduri Cinta, selama 2 dekade keberagaman itu bukan masuk angin, tapi kesadaran kolektif. Orang-orang datang bukan karena undangan resmi, tapi karena perjalanan mencari cahaya. Tak ada moderator yang sibuk mengatur durasi bicara, tak ada batas “pertanyaan terakhir ya, Pak.” Hanya ada seorang jamaah bernama Nur, yang disangka akan bertanya, tapi justru mengundang tawa seluruh forum, termasuk Habib Ja’far. Cara ia bicara tidak seperti orang yang ingin bertanya, melainkan seperti seseorang yang ingin mengajak sepakat pada cahaya di kenduri cinta..

Duduk berjam-jam, dari pukul sembilan malam sampai hampir subuh. Tak ada yang sibuk menunggu giliran bicara; semua mau mendengar, semua ingin paham. Tidak ada yang takut salah, mungkin karena di Kenduri Cinta, kesalahan tidak dihukum undang-undang ITE, tapi didengarkan, ditertawakan, dan diterima sebagai bagian dari hidup.

Malam itu, obrolan tentang cahaya tidak berhenti di tataran metafora. Ia menjelma jadi pengalaman kolektif. Kolaborasi Madani Fest x Kenduri Cinta terasa sangat pas. Tahun ini, Madani mengusung tema Misykat “ Relung Cahaya “. Dan Kenduri Cinta menjadikannya cahaya dalam bentuk paling manusiawi: dialog, tawa, dan keberanian.

Kolaborasi ini seperti ingin menegaskan, bahwa pencerahan bukanlah hanya soal pemikiran, tapi ruang aksi ingin tahu. Bahwa cahaya bukan monopoli panggung akademik, tapi bisa tumbuh di pelataran tempat sandal berserakan dan singkong goreng.

Dan mungkin, di era di mana banyak orang sibuk meniru tren dan suara mayoritas, berani menyalakan cahaya sendiri adalah bentuk baru dari dare to know dan dare to share, seperti jejak yang dilakukan Cak Nun lewat forum Kenduri Cinta. Mungkin memang begitu cara cahaya bekerja: ia tidak selalu membuat kita silau, tapi cukup membuat kita mau melangkah lagi dan meninggalkan jejak.

Pada akhirnya, keberanian untuk tahu—dare to know—bukanlah tentang siapa yang paling pintar atau paling benar, melainkan siapa yang paling jujur untuk berjalan bersama cahaya. Karena cahaya sejati tidak pernah datang dari sorotan lampu panggung atau spanduk-seremonial, tetapi dari hati yang berani mendengarkan, tertawa, dan berbagi. Itulah jejak yang membuat kita tetap manusia: sederhana, setara, dan terus menyala.

Foto utama: Kenduri Cinta dengan tema "Menghadirkan Cahaya", Taman Ismail Marzuki, Jum'at (10/10/2025).[Ari K.J.V]

Komentar

Tulis Komentar