“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera pun bekerja.”
~ Buya Hamka
Akhir Mei lalu, masyarakat Indonesia disentakkan oleh postingan viral di media sosial tentang para pencari kerja dalam event Job Fair di Cikarang yang membludak. Kegiatan dari Disnaker Kabupaten Bekasi itu dihadiri puluhan ribu lulusan SMA/SMK/Sederajat dan Perguruan Tinggi yang menjajal peruntungan mereka. Demikian berjejal para pencari kerja menyerbu Job Fair tersebut, hingga terjadi insiden beberapa orang pingsan. Tak lama berselang, kejadian serupa terjadi di Cianjur, ketika sebuah toko retail yang membuka lowongan pekerjaan, diserbu ribuan pencari kerja.
Sungguh miris menyaksikan kedua peristiwa itu. Peristiwa yang tak ayal menghentakkan saya untuk bercermin, dan mensyukuri apa yang selama satu setengah tahun terakhir saya jalani: berkarya di Ruangobrol.id. Mensyukuri bahwa Tuhan masih memberi kesempatan pada diri ini untuk dapat berguna, memberi manfaat, setidaknya bagi lingkar terdekat.
Sebuah Titik Balik
Sejak awal 2024, saya bekerja full time di Ruangobrol.id, dan ini menjadi salah satu turning point penting bagi saya dalam menjadi pribadi yang “utuh”. Berangkat dari posisi sebagai seorang returnis konflik Suriah, kemudian menjalani proses reintegrasi, lalu berusaha menjaga resiliensi untuk tidak lagi mendekati ranah radikalisme, merupakan hal yang luar biasa bagi saya. Karenanya momen perdana bekerja secara profesional dengan kepastian penghasilan tiap bulan sebagai pekerja kantoran, merupakan momen penting yang saya dapatkan pasca melewati jalan yang sangat panjang. Apalagi saya sempat menjalani gap-year yang cukup lama usai lulus sekolah, dengan tambahan kisah “studi banding” ke Suriah, membuat proses sosialisasi dan survival untuk mencari sesuap nasi pun sempat tersendat.
Beberapa tahun setelah kepulangan dari Suriah dan alhamdulillah, akhirnya lulus sebagai sarjana, kenalan sekaligus mentor saya, Bapak Dr. Noor Huda Ismail, menawarkan pekerjaan full time di Kreasi Prasasti Perdamaian. Posisi Program Assistant langsung saya emban di bawah arahan dan supervisi Program Manager Ani Ema Susanti, yang juga seorang sutradara handal pemenang Piala Citra.
Proses penggodokan karakter, pendisiplinan, dan pembelajaran untuk bisa bekerja dengan sesungguhnya terjadi selama beberapa bulan saya bekerja, mulai dari masa percobaan hingga menjadi karyawan tetap. Bukan proses yang mulus, karena pada masa itu saya mengalami masalah asam lambung, overweight dan overthinking seringkali lantaran kaget merasakan ritme bekerja dengan demikian cepat.
Beruntung, background saya sebagai pemegang titel returnis Suriah memberikan manfaat dalam bidang pekerjaan ini. At least I’m not start from scratch, demikian saya mensyukurinya. Isu P/CVE cukup melekat dalam diri saya hingga hari ini, namun Bapak Dr. Noor Huda Ismail ingin menggali potensi yang ada dalam diri saya untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi.
Saya pun terlibat dalam produksi konten untuk sosial media, membantu pelaksanaan sebuah project, melatih skill wawancara dan sedikit riset, serta yang ternyata juga sangat menarik minat saya adalah menjadi koordinator kegiatan/acara yang diadakan Ruangobrol.id, jadi semacam event organizer.
Mengikis Pesimisme
Saya merasakan peningkatan kapasitas diri yang semakin bertambah walau masih banyak hal yang kurang maksimal saya upayakan. Meski demikian, banyak hal yang menurut saya amat sangat luar biasa, terjadi berkat kerjasama tim yang solid dalam satu setengah tahun terakhir.
Dalam kurun waktu tersebut, saya merasakan Tim Ruangobrol (KPP) telah banyak berkontribusi bagi negara, dan memberikan dampak positif bagi banyak pihak. Mulai dari pembuatan Modul Pelatihan Bagi Pekerja Sosial Dalam Pencegahan Kekerasan Ekstrem dengan Pendekatan Sensitivitas Gender (ToT) — modul ini kemudian digunakan dalam peningkatan capacity building bagi para pekerja sosial di beberapa wilayah Indonesia seperti Bandung, Surakarta, dan Surabaya, dalam persiapan repatriasi ratusan WNI yang terafiliasi kelompok teror di Timur Tengah.
(Dok. Istimewa)
Memasuki bulan Oktober 2024, saya berkesempatan juga untuk menghadiri workshop bertajuk The Challenge of Religious Conservatism: A Comparative Approach di Kuala Lumpur, Malaysia. Acara yang diselenggarakan organisasi pejuang hak-hak perempuan Malaysia, Sisters in Islam ini, semakin membuka pikiran saya bahwa ternyata sangat banyak ragam manusia di dunia ini. Acara workshop itu kemudian dilanjutkan dengan screening dan diskusi film dokumenter “Road to Resilience” di dua toko buku berbeda yang ada di ibukota negeri jiran itu.
Memasuki akhir kuartal keempat 2024, Ruangobrol.id (KPP) terlibat dalam peluncuran Outlook #4: Strategi Komunikasi Digital Tangkal Paham Radikal di Peacetival yang diselenggarakan Peace Generation Indonesia, yang sekaligus juga peluncuran film dokumenter garapan KPP, “The Invisible Wall” — mengisahkan istri mantan narapidana teroris yang mendapatkan stigma di lingkungan tempat tinggalnya, dan ingin menghapus pandangan miring tersebut.
Demi menjangkau khalayak yang lebih luas, Peluncuran Outlook #4 tersebut juga kembali dilakukan di Perpusnas, Jakarta. Pada kesempatan itulah Outlook #4 diresmikan oleh Menkopolkam RI Jenderal Pol. (Purn.) Prof. Dr. Budi Gunawan, M.Si. bersamaan dengan Peta Jalan Komstra PE yang keduanya disusun tim Ruangobrol.id (KPP) berkolaborasi antara lain dengan BNPT.
Pada titik ini saya semakin bangga dan bersyukur, tidak menyangka tim Ruangobrol.id mampu berkontribusi dalam skala nasional. Sungguh ini sesuatu yang besar, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bisa “menciptakan” sebuah pedoman atau dokumen penting bagi negara Republik Indonesia, untuk diterapkan selama beberapa tahun mendatang — skala pekerjaan yang sangat besar mengingat jumlah tim Ruangobrol.id yang cenderung minimalis.
Dan sejak itulah pesimisme yang masih sering menggerogoti diri saya berangsur mulai terkikis. Segala jerih payah yang dilakukan tim dengan kekompakan dan kerjasamanya dalam kurun waktu yang singkat, mampu memberikan dampak yang sangat luar biasa. Saya jadi memahami apa yang disampaikan salah seorang entrepreneur terkemuka Amerika James Cash Penney, “Growth is never by mere chance, it is the result of forces working together.”
Terus Berproses Menjadi Lebih Baik
Kuartal pertama 2025 menjadi salah satu momen yang sangat berat bagi saya pribadi, karena mulai mengemban posisi sebagai PIC (Person in Charge) yang bertanggung jawab terhadap berbagai macam event selama 6 bulan berikutnya. Terutama saat ada launching buku "Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah" pada akhir Februari 2025 di Perpusnas Jakarta. Segala macam persiapan dari hal-hal kecil hingga yang terbesar dilakukan dengan matang melalui kerjasama tim yang solid.
Dr. Noor Huda Ismail atau kami akrab memanggilnya Mas Huda, selalu memberikan penataran kepada semua anggota tim agar setiap individu dapat memahami konteks dari setiap tugas dan persoalan yang ada. Berpikir logis, kritis, dan komunikatif, menjadi beberapa poin yang seringkali beliau utarakan. Terutama bagi saya yang selama ini cenderung menjadi beneficiary (penerima manfaat), diharapkan untuk mampu berubah menjadi yang bisa memberikan manfaat. Bukan hanya sebagai credible voice tetapi sebagai manusia yang memiliki banyak skill hingga mampu bersaing dalam dunia kerja yang nyata.
Perlahan tapi pasti, sebuah perjuangan dan harapan agar bisa menjadi pribadi atau sosok yang lebih baik tetap harus dilakukan step by step walau progress-nya tidak secepat menembakkan sebuah rudal pesawat tempur. Saya yakin jika bekerja dan berkarya dibarengi cara berpikir positif, output yang dihasilkan akan baik. Insya Allah. [ ]
Komentar