Thailand menjadi destinasi terakhir saya pada 14–15 Februari 2026. Kota yang kami singgahi sedikit anti-mainstream, tidak seterkenal Bangkok namun cukup menarik untuk dikunjungi, kota tersebut bernama Hat Yai. Sebuah kota besar di wilayah selatan Thailand, Provinsi Songkhla.
Sekitar sepertiga populasi dari masyarakat disana merupakan penganut agama Islam. Dengan komunitas Melayu dan Thailand-Muslim (Sam-Sam) yang cukup besar, membuat komunikasi antara saya dengan penduduk lokal setempat bisa menggunakan Bahasa Indo-Melayu saja.
Di hari pertama, setelah menempuh perjalanan lebih dari 9 jam dari Kuala Lumpur dan berhenti sejenak di Penang, kami tiba di Sadao Border Checkpoint pada pukul 7 malam. Tidak seperti perbatasan di Singapura dan Malaysia, alhamdulillah rombongan kami tidak mendapatkan kendala sedikitpun saat proses pemeriksaan di Imigrasi.
Hal paling mencolok yang terlihat saat memasuki wilayah tersebut adalah banyaknya aksara Thailand (abugida) yang sangat berbeda dengan huruf alfabet seperti di Indonesia, Malaysia, maupun Singapura. Aksara tersebut merupakan turunan dari Khmer Kuno yang terdiri dari 44 konsonan, 16 vokal, serta 5 nada. Jika dilihat sekilas, aksara Thailand terlihat seperti Bahasa Sansekerta. Dan memang keduanya berakar dari sistem tulisan India Selatan.
Lanjut dilihat dari sisi ekonomi, Thailand berada di level industri menengah dengan basis manufaktur dan pariwisata kuat. Dibanding Indonesia, struktur ekonominya lebih terkonsentrasi, sementara Indonesia lebih beragam sektor. Namun Thailand unggul dalam menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung yang terorganisir.
Hal tersebut tertuang dalam itinerary perjalanan, kami akan mengeksplorasi beberapa tempat pariwisata ikonik seperti Sleeping Buddha di kuil Wat Laem Pho, berbelanja makanan di Asean Night Bazaar, menaiki gajah di Chang Puak Camp, Khlonglae Floating Market, beragam cinderamata di Kaysorn Souvenir, toko herbal Erawadee, serta city tour singkat menggunakan Tuk Tuk.
Dari banyaknya tempat yang dikunjungi, ada 2 tempat yang cukup menarik perhatian saya. Pertama, minimarket ‘7-Eleven’ yang pernah menjadi spot nongkrong para Gen Milenial akhir dan Gen Z awal dengan memesan minuman Slurpee sambil duduk menikmati koneksi WiFi ‘gratis’ selama berjam-jam. Sangat memorable bagi AGJ (Anak Gaul Jakarta). Banyak kenangan di masa-masa transisi dari remaja menuju awal dewasa tercipta di minimarket tersebut.
Tempat yang kedua, tergolong anti-mainstream. Tidak memorable atau ada kenangan yang terukir, tapi sangat asing untuk dilihat yaitu toko khusus yang menjual ganja. Ya benar, Thailand menjadi pionir di Asia Tenggara dalam melegalkan penjualan ganja sebagai komoditas baru bagi petani lokal dan daya tarik pariwisata bagi para pelancong.
Menurut penelitian, ada setidaknya 4 hal yang menjadikan ganja bermanfaat bagi manusia dengan dosis yang dibatasi tentunya, yaitu: mengobati epilepsi, mengurangi nyeri kronis, mengurangi mual akibat kemoterapi, serta membantu mengurangi nyeri/otot kaku bagi penderita Multiple Scelorsis (MS).
Menurut opini saya, dengan melihat cukup banyaknya kegunaan atau benefit dari yang ada dalam kandungan ganja, baik kiranya pihak pemerintah Indonesia untuk bisa mengkaji ulang penggunaannya dalam dosis tertentu untuk kepentingan medis. Dengan catatan harus dilakukan supervisi yang sangat maksimal agar tidak disalahgunakan oleh para oknum yang hendak “bermain”.
* * *
Sebagai penutup dari seri perjalanan yang hampir sepekan ke Singapura, Malaysia, dan Thailand saya ingin memberikan sedikit pandangan komparatif tentang Asia Tenggara. Tiga negara, tiga karakter, dan tiga pendekatan berbeda dalam membangun ekonomi serta menjaga stabilitas.
Singapura unggul dalam tata kelola dan efisiensi. Malaysia kuat dalam stabilitas dan branding regional. Thailand dominan dalam pariwisata agresif. Sementara Indonesia memiliki keunggulan demografi, sumber daya alam, dan pasar domestik besar. Tantangan kita terletak pada konsistensi kebijakan dan percepatan reformasi birokrasi.
Dalam sektor pariwisata, Indonesia memiliki keindahan alam yang jauh lebih variatif. Namun, standarisasi layanan, kebersihan, dan kemudahan transportasi masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing setara dengan ketiga negara tersebut.
Dalam kuliner, Indonesia adalah raksasa yang belum sepenuhnya sadar akan potensinya. Diplomasi kuliner bisa menjadi soft power yang efektif sebagaimana dilakukan Thailand.
Dalam isu radikalisme dan terorisme, Indonesia memiliki pengalaman panjang dan kompleks. Pendekatan deradikalisasi berbasis masyarakat menjadi kekuatan tersendiri. Namun konsistensi regulasi dan integrasi data seperti di Singapura dapat menjadi referensi perbaikan.
Pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang membandingkan secara inferior atau superior. Ini tentang refleksi. Indonesia tidak kekurangan potensi; yang kita butuhkan adalah konsistensi, integritas, dan keberanian melakukan lompatan kebijakan.
Foto: Gedung Sadao Border Checkpoint, Songkhla, Thailand.(Dok. Febri Ramdani)
Komentar