“It’s hot today, Mommy. And I had to run three kilometers without drinking water in the middle of the sun.”
Begitu pulang sekolah, Budi menjatuhkan tasnya di sofa. Wajahnya memerah, rambutnya masih basah oleh keringat. Hari itu sekolah tetap menjalankan latihan olahraga seperti biasa.
Di Singapura, beberapa minggu terakhir cuaca terasa lebih terik dari biasanya. Curah hujan lebih sedikit, udara lembap, dan suhu sering berada di atas 30 derajat Celsius. Dalam kondisi seperti ini, minum air terasa seperti kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Namun bagi anak-anak yang sedang menjalankan puasa Ramadan, ceritanya berbeda.
Budi adalah siswa SMA yang juga atlet lari dan rugby di klub sekolahnya. Ia merupakan anak dari salah satu keluarga diaspora Indonesia yang tinggal di Singapura. Sudah delapan tahun ia bersekolah di salah satu sekolah internasional di kota itu. Jadwal latihannya padat, dan banyak kegiatan fisik dilakukan di bawah matahari siang.
Kehidupan Ramadan di negeri orang sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi Budi. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah ikut orang tuanya yang bertugas di Australia. Bahkan puasa pertamanya ia jalani di sana. Sejak kecil, menjalani Ramadan jauh dari suasana mayoritas Muslim sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Latihan lari tiga kilometer itu bukan kejadian satu kali. Dalam seminggu, jadwal latihan bisa berlangsung beberapa kali. Ramadan atau tidak, peluit pelatih tetap berbunyi, dan para siswa tetap berlari di lapangan sekolah.
Botol-botol air minum selalu tersedia di pinggir lapangan. Teman-temannya bisa mengambilnya kapan saja.
Bagi Budi, botol-botol itu hanya bisa ia lihat dari jauh.
“You should drink, Budi. Otherwise you’ll regret it. I won’t give time to drink after this,” kata pelatihnya suatu hari. Ia tidak tahu bahwa Budi sedang berpuasa.
Di sekolah, tantangan juga datang dalam bentuk lain. Saat jam makan siang, Budi tetap pergi bersama teman-temannya. Mereka makan bersama, sementara ia hanya duduk menemani. Terkadang teman-temannya lupa bahwa ia sedang berpuasa.
Suatu kali gurunya membawa kue buatan sendiri dan membagikannya kepada seluruh murid di kelas. Semua anak menikmati kue tersebut bersama-sama.
Kecuali Budi.
Ketika ditanya mengapa ia tetap ingin berpuasa di tengah godaan seperti itu, jawabannya sederhana.
“Ini komitmen,” katanya.
“Aku ingin menunjukkan bahwa aku benar-benar seorang Muslim. Aku puasa bukan karena orang lain, tapi untuk diriku sendiri.”
Ia lalu menambahkan sambil tersenyum kecil,
“Dan mungkin ini juga membuat badanku lebih sehat. Aku jadi lebih bersyukur dengan makanan.”
Bagi banyak anak yang tumbuh di Indonesia, Ramadan sering kali terasa hampir otomatis. Lingkungan mendukung. Sekolah menyesuaikan jadwal. Banyak orang di sekitar juga menjalankan puasa.
Namun bagi anak diaspora seperti Budi, Ramadan memiliki makna yang sedikit berbeda.
Anak-anak seperti ini sering disebut sebagai anak “third culture”. Mereka lahir dari satu budaya, tetapi tumbuh besar di lingkungan yang sangat berbeda. Teman-teman Budi di sekolah datang dari berbagai negara, dengan kebiasaan dan tradisi yang juga beragam.
Singapura sendiri tetap merayakan Ramadan. Komunitas Melayu Muslim menjalankannya dengan hangat, dan pasar-pasar Ramadan bermunculan di berbagai sudut kota.
Namun bagi Budi, Ramadan tidak selalu terasa seperti perayaan bersama. Sering kali, ia harus menjalaninya sendiri.
Tidak ada jadwal latihan yang dipindahkan. Tidak ada aktivitas sekolah yang berhenti. Matahari tetap terik, dan botol air minum di sekelilingnya tetap terbuka.
Di tengah situasi seperti itu, puasa menjadi sesuatu yang sangat personal.
Bagi Budi, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia seperti latihan kecil tentang disiplin, tentang keyakinan, dan tentang siapa dirinya sebenarnya.
Di bawah matahari Singapura yang terik, di lapangan tempat ia berlari bersama teman-temannya, Budi terus belajar menjadi seorang Muslim dengan caranya sendiri.
Dan mungkin, di tempat yang jauh dari tradisi yang biasa kita kenal, justru di sanalah iman belajar tumbuh—lebih sadar, meskipun perlahan.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi.
Fikri 13 Mar 2026, 10:03 WIB
Sangat bagus karena sangat penting untuk berolah raga dan untuk kebugaran jasmani tubuh