Dari Stigma ke Kemandirian: Mantan Napiter di Persadani Bangkit Lewat Program Perdu Semerbak

News

by Eka Setiawan Editor by Redaksi

SEMARANG -- Bagi para mantan narapidana terorisme (napiter), melanjutkan kehidupan pasca-bebas penjara punya dinamika tersendiri. Salah satunya pada konteks menata perekonomian.

Tak jarang, stigma terorisme yang melekat, membuat mereka cukup sulit mendapatkan pekerjaaan. Alhasil, berdaya secara mandiri jadi pilihan paling logis untuk membangkitkan lagi perekonomian mereka “pasca-terputus” sekian waktu saat harus menjalani hukuman pidana penjara serangkai dengan perbuatannya di masa lalu.

Teranyar, Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani), yayasan yang punya pengurus dan anggota para mantan napiter khususnya di Kota Semarang dan pantura ini, mencoba menggerakkan perekonomian mereka lewat Program Perdu Semerbak. Akronim dari Perkampungan Pertanian Terpadu Semarang, Seribu Polybag, Ayam dan Kelinci.

Program Pemkot Semarang khususnya Dinas Pertanian ini memfasilitasi beberapa kelompok tani di Ibu Kota Jawa Tengah itu. Yayasan Persadani jadi salah satu penerima manfaat program tersebut.

“Kami ikut diberdayakan secara yayasan,” kata Ketua Yayasan Persadani Sri Pujimulyo Siswanto saat ditemui di Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Rabu (22/10/2025) menjelang sore.

Pada Rabu jelang sore itu, Puji sapaan Sri Pujimulyo, bersama pengurus lainnya; Hadi Masykur, Nur Afifudin, Badawi Rachman berada di rumah anggota lainnya yakni Marifah Hasanah alias Ummu Iffah. Di rumah itu, di antara hujan yang mengguyur kota, mereka gotong royong menata sejumlah fasilitas yang diterima dari Dinas Pertanian Kota Semarang terkait program Perdu Semerbak itu.

Dari mobil pikap yang datang, mereka gotong royong menurunkannya, di tata rapi di pelataran rumah Ummu Iffah. Mereka memakai jas hujan, estafet menata.

Di tengah hujan yang mengguyur kota Semarang, para pengurus Persadani tetap semangat menurunkan media tanam dan pupuk dari mobil pikap.[Eka Setiawan]

Di antara yang diterima; media tanam, pupuk organik cair, pupuk kandang, polybag, bawang merah hingga aneka bibit tanaman. Selain itu ada juga ayam KUB totalnya 20 ekor terdiri 16 betina dan 4 pejantan. Ada juga kandang plus pakan ayam petelurnya.

Mereka telah mengikuti serangkaian sosialisasi dan pelatihan untuk bisa ikut aktif di program tersebut. “Sudah tiga kali pelatihan. Termasuk di Balai Pertanian di Jalan Mulawarman (Kota Semarang). Kalau ayam KUB ini bisa bertelur tiap 25 jam, satu tahun bisa menghasilkan 200 sampai 240 telur,” tambah Hadi Masykur yang punya histori pernah menjabat Sekretaris Jamaah Islamiyah era amir Parawijayanto.

Bagi Persadani, tambahnya, ikut andil dalam program ini adalah sebuah momentum mengkaryakan mantan napiter dengan harapan bisa mandiri secara ekonomi.

Sebab, hasilnya nanti selain bisa dikonsumsi sendiri, juga bisa dijual. Ada harapan program seperti ini bisa terus berkelanjutan.

“Ini juga menindaklanjuti program Pak Prabowo (Prabowo Subianto – Presiden RI) terkait dengan ketahanan pangan,” sambungnya.

Saat ini, anggota Persadani ada 20 orang. Mereka telah mendapatkan berbagai pelatihan lain, seperti budidaya lele, maggot, mengolah ikan hingga membuat roti. Program-program seperti ini juga diharapkan bisa berkelanjutan hingga pendampingan pemasaran produk yang dihasilkan.

“Kami sendiri ingin program seperti ini bisa ditularkan ke ikhwan-ikhwan lain (anggota yayasan), menularkan ilmu yang sudah didapat untuk aktif di program,” tutup Puji menambahkan. (eka setiawan)


Foto utama: 
Pengurus Yayasan Persadani saat menerima fasilitasi Program Perdu Semerbak, Rabu (22/10/2025).[Eka Setiawan]

Komentar

Tulis Komentar