SEMARANG – Propaganda terorisme menyasar pelajar usia anak-anak. Teranyar, di Jawa Tengah, ada salah satu pelajar SMP terpapar terorisme. Faktor keluarga hingga media sosial disebut salah satu pemicunya.
Hal itu diungkapkan Plt. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jateng Pradana Agung Nugraha saat menjadi pembicara pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Jateng dengan tema “Memperkuat Jiwa Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan Generasi Muda” di Kota Semarang, Selasa (11/11/2025).
“Sekarang sudah ada anak SMP yang terpapar radikalisme, terorisme. Ini karena ada tidak harmonis dalam rumah tangga, jadi salah satu pemicu, kemudian salah bercerita, masuk dunia Telegram (medsos) sudah di situ (makin terpapar),” kata Pradana di depan audiens yang merupakan pelajar SMA di Semarang.
Dia bercerita, bersama tim, mendatangi anak SMP itu. Dia bersekolah swasta berbasis agama. Namun, sambutannnya tak ramah.
“Saya datang, dia malah mendelik, menantang,” lanjutnya.
Saat ini, kata Pradana, pendampingan oleh tim terus dilakukan, harapannya agar paparan radikalisme terorisme anak SMP tersebut perlahan terkikis dan kembali normal.
Pradana menyoroti perkembangan teknologi yang saat ini bergerak sangat cepat.
“Ketika teknologi menguat, ancaman juga menguat, siap tidak siap, suka tidak suka, kalian harus melewatinya. Sebab itu, wawasan kebangsaan itu penting, kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri, tanah airnya sendiri, gampang jadi orang asing di antara bangsa sendiri,” bebernya.
Pada kegiatan yang dimoderatori Erna Virnia ini, Ketua Yayasan Putra Persadani Sri Pujimulyo Siswanto juga hadir sebagai pembicara. Yayasan ini beranggotakan mantan narapidana terorisme (napiter) khususnya di Kota Semarang dan pantura Jateng.
Puji, sapaannya, bercerita ketika era 90-an dulu, terpapar radikalisme terorisme kelompok Jamaah Islamiyah (JI) beberapa bulan setelah lulus SMEA. Doktrinasinya begitu bagus, sebutnya, sehingga dia tak sadar lambat laun ternyata sudah terpapar paham radikal. Dia ketika itu merasa benar sendiri, di luar kelompoknya semua dianggap salah. Tidak mau mendengar pendapat dan nasihat orang di luar kelompoknya.
“Saya terpapar paham berkedok agama, tapi sebenarnya jauh dari nilai-nilai agama,” ceritanya.
Puji bahkan sampai 2 kali ditangkap Densus 88/Antiteror dan 2 kali menjalani pidana penjara masing-masing 6 tahun akibat kasus terorisme.
Dia berpesan kepada generasi muda, tak terkecuali para pelajar jika mengetahui temannya mulai menutup diri tanpa alasan jelas agar bisa didekati. Diajak bicara, berkomunikasi yang baik.
“Pengalaman kami di yayasan, dengan teman-teman yang pernah terpapar. Jika ada teman kita terpapar, kita harus lebih peduli. Awal- awal memang pasti ada penolakan itu wajar. Coba berkomunikasi sampai dia nyaman, itulah pintu masuk untuk menyelamatkan dari hal-hal negatif,” jelasnya.
Dia mengajak generasi muda untuk menanamkan rasa cinta tanah air, juga membuka komunikasi dengan banyak pihak untuk bisa membuka wawasan.
Pada kegiatan tersebut, hadir pula Budiharjo dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng sebagai pembicara. Anak-anak SMA sebagai audiens yang hadir di sana, juga diajak berdiskusi fenomena yang terjadi kekinian, terkait insiden ledakan yang terjadi di SMA 72 Jakarta yang pelakunya diduga pelajar setempat.
Direktur Intelkam Polda Jateng Kombes Pol Bayu Aji pada sambutan yang dibacakan Wadir Intelkam AKBP Elfian Rudi menegaskan generasi muda adalah penerus bangsa dan garda terdepan penjaga NKRI. Mereka ini harus tetap bisa menjaga jiwa nasionalisme seiring arus global yang begitu cepat.[eka setiawan]
Foto utama: Kegiatan FGD Ditintelkam Polda Jateng di Kota Semarang, Senin (11/11/2025).[Eka Setiawan]
Komentar