Ummu Iffah dan Pemkot Semarang Gaungkan Pesan Damai Jelang Natal dan Tahun Baru

News

by Eka Setiawan Editor by Arif Budi Setyawan

SEMARANG – Mantan narapidana terorisme (napiter) sekaligus anggota Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani) Semarang Marifah Hasanah alias Ummu Iffah mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama menjaga kondusivitas di momen Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru.

“Di momen hari Natal dan Tahun Baru ini, saya Marifah Hasanah anggota Yayasan Persadani dan mantan napiter mengajak rekan-rekan saya semua, juga kepada masyarakat Semarang pada umumnya untuk menjaga kondusivitas Kota Semarang,” kata dia melalui pesan yang diterima wartawan via WhatsApp, Senin (22/12/2025).

Ummu Iffah yang kini juga aktif sebagai anggota Forum Perempuan Lintas Agama (Forpela) Kota Semarang 2025 – 2030 menyebut khalayak luas perlu saling menghormati keyakinan masing-masing yang dianut.

“Agar tercipta perdamaian dan toleransi yang indah. NKRI harga mati!” lanjut dia.

Peran Strategis Tokoh Agama

Pada bagian lain, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti alias Agustin menegaskan pentingnya menjaga kondusivitas dan memperkuat soliditas antar-umat beragama menjelang perayaan Natal 2025.

Hal tersebut disampaikannya saat kegiatan Pantauan Perayaan Natal Tahun 2025 dan kunjungan ke tokoh agama Nasrani bersama Forkopimda Kota Semarang, jajaran Pemkot Semarang dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang pada Minggu (21/12/2025).

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dan rombongan saat dialog jelang Natal di Kota Semarang, Minggu (21/12/2025).[IST]

“Saya hari ini ingin bertemu teman-teman untuk ngobrol sebenarnya. Ngobrol untuk sampai dengan akhir tahun 2025, bagaimana kita dapat bersama-sama bergotong-royong, menjaga kondusivitas dan toleransi, kehangatan, kesejukan, dan kedamaian Kota Semarang,” ujar Agustin pada keterangan tertulisnya.

Agustin dan rombongan melakukan kunjungan ke GKI Injil Kerajaan – Holy Stadium di kawasan Grand Marina, serta menyambangi kediaman Pendeta Indriyana di Grand Marina, Semarang Barat.

Di sana, Agustin menekankan para tokoh agama memiliki peran strategis menjaga ketenteraman kota, terutama di tengah dinamika sosial dan derasnya arus informasi. Ia menyebut, setiap pemuka agama dan elemen masyarakat memikul tanggung jawab untuk saling melindungi serta menjaga ruang hidup bersama agar tetap damai dan harmonis.

Agustina juga menyampaikan bahwa FKUB mendorong adanya ajakan bersama dari Pemerintah Kota Semarang agar seluruh umat beragama senantiasa berdoa di tempat ibadah masing-masing.

Menurutnya, kekuatan spiritual dan kebersamaan lintas iman akan menciptakan suasana yang sejuk dan kondusif, sekaligus mendukung iklim pertumbuhan ekonomi dan investasi di Kota Semarang.

Agustin mengemukakan, Kota Semarang dengan jumlah penduduk sekira 1,7 juta jiwa memiliki potensi besar sekaligus tantangan dalam menjaga toleransi. Oleh karena itu, komunikasi dan pertemuan rutin lintas agama dinilai penting untuk memperkuat soliditas sosial.

“Semakin kita sering bertemu, semakin kita sering berdoa, saya meyakini kota Semarang akan tetap menjadi kota yang damai. Tempat kita tinggal, tempat kita tumbuh,” katanya.

Dia menegaskan bahwa upaya menjaga kerukunan tidak hanya bersifat jangka pendek menjelang hari besar keagamaan, tetapi juga dirancang secara berkelanjutan ke depan.

“Untuk tahun 2026, mungkin kita akan lebih sering berkumpul dengan pendeta, dengan FKUB dan tokoh agama lain, kita buat rancangan tahun 2026 ini menjadi semakin indah untuk Kota Semarang,” pungkasnya.[eka setiawan]

Foto utama: Ma'rifah Hasanah alias Ummu Iffah.[Dok. Pribadi]

Komentar

Tulis Komentar