Hari Minggu yang lalu ketika saya menghadiri acara sosialisasi “Remaja Cerdas Anti radikalisasi dan Kekerasan Digital” yang diadakan oleh Bakesbangpol Bojonegoro di hadapan 250 calon Paskibra 2026, saya bertemu dengan Iptu Edi Purwanto—perwira dari Satgaswil Densus 88 Jawa Timur yang sudah biasa bekerjasama dengan saya di lapangan. Yang tidak biasa adalah beliau menyampaikan ingin mengajak saya menjadi narasumber dalam sosialisasi pencegahan radikalisme dan ekstremisme digital di SMKN Jatirogo dan SMAN Jatirogo pada Senin 26 Januari 2026.
Ketika nama Jatirogo disebut ada jeda di kepala saya. Itu daerah saya sendiri. Tempat di mana saya tumbuh, belajar, dan—pada satu fase hidup—kehilangan arah. Setelah bertahun-tahun berbagi cerita ke banyak kota di penjuru negeri, undangan ini terasa berbeda. Bukan soal panggung, melainkan soal pulang membawa cerita yang tidak selalu nyaman untuk didengar.
SMKN Jatirogo menjadi persinggahan pertama. Kesan awalnya sangat menenangkan. Kepala sekolah dan jajaran guru menyambut dengan hangat. Sekolah itu terasa hidup—pepohonan rindang berdiri mengelilingi area, udara bergerak perlahan, dan suara siswa menyatu dengan suasana desa. Acara digelar di ruang terbuka, di bawah naungan pohon-pohon jati yang besar dan tua. Duduk di sana, saya merasa seperti kembali ke ruang asal: sederhana, jujur, dan apa adanya. Tidak ada dinding yang membatasi percakapan, tidak ada formalitas yang memaksa.
Saat sesi perkenalan, saya memilih tidak berputar-putar. Saya menyebut identitas saya sebagaimana adanya: mantan teroris yang kini bekerja di isu pencegahan ekstremisme. Reaksi siswa bisa ditebak—terkejut, ragu, sebagian saling berbisik. Jatirogo, bagi mereka, adalah tempat yang tenang dan jauh dari cerita kekerasan ekstrem. Saya bahkan sempat menyapa seorang siswi anak tetangga saya sendiri. Wajahnya sontak berubah, antara kaget, malu dan mungkin tidak percaya.
Sebagai pembuka, film pendek produksi Kreasi Prasasti Perdamaian tentang perjalanan saya berjudul The Terror’s Dot Connector kemudian diputar. Ruang mendadak sunyi. Guru-guru dan murid, juga beberapa anggota Polsek Jatirogo yang hadir menyimak film dengan antusias. Cerita di layar bergerak perlahan, menghubungkan titik-titik yang sering luput dari perhatian. Seusai film, suasana berubah. Antusiasme muncul bukan dalam bentuk sorak, tetapi dalam pertanyaan-pertanyaan yang pelan namun jujur.
Para siswa dan guru sedang menyaksikan film pendek produksi Kreasi Prasasti Perdamaian berjudul "The Terror's Dot Connector".(Dok. Satgaswil Densus 88 Jatim)
Materi yang saya sampaikan tidak saya bungkus sebagai ceramah. Saya memulainya dari hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka: narasi perekrutan yang sering disamarkan, ancaman radikalisasi di ruang digital, dan bagaimana anak muda kerap dijebak melalui cerita tentang makna hidup yang instan. Saya tekankan bahwa ekstremisme jarang datang dengan wajah marah. Ia lebih sering hadir sebagai ajakan menjadi “lebih bermakna”, “lebih berani”, atau “lebih berguna”. Di titik itu, saya menyampaikan satu pesan yang saya anggap penting: jangan pernah terpedaya dengan narasi ajakan mencari kebermaknaan diri selain menjadi pelajar yang baik atau menjadi anak yang sholeh dan shalehah. Tugas kalian adalah memperbaiki kondisi bangsa dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kebaikan, meskipun dari hal-hal yang kecil. Tidak ada tepuk tangan. Tapi saya melihat beberapa siswa mengangguk pelan, seolah sedang menyimpan sesuatu untuk dipikirkan kembali.
Menjelang akhir sesi, saya menyampaikan tawaran yang lahir dari niat pribadi. Jika suatu hari guru-guru SMKN Jatirogo ingin mengadakan kelas literasi digital, menulis, storytelling, atau ruang diskusi tentang persoalan remaja, saya siap datang kembali. Bukan sebagai “ahli”, melainkan sebagai teman belajar. Bagi saya, ini bagian dari visi jangka panjang: bekerja dan berkarya di daerah sendiri. Tidak semua perubahan harus dimulai dari pusat. Kadang, ia justru tumbuh dari ruang-ruang kecil yang mau membuka diri pada percakapan jujur.
Dari SMKN Jatirogo, perjalanan berlanjut ke SMAN Jatirogo. Sambutannya sama hangatnya, dengan nuansa yang berbeda. Acara digelar di aula sekolah. Siswa-siswa sudah menunggu, duduk rapi, sebagian menatap dengan rasa ingin tahu. Saya bertemu kembali dengan beberapa guru yang pernah saya kenal saat melakukan penelitian skripsi pada 2021.
Karena waktu sudah memasuki siang, saya tidak menyampaikan paparan panjang. Saya mengajak siswa menonton kembali The Terror’s Dot Connector, lalu membedahnya bersama. Film itu menjadi pintu masuk untuk membicarakan ekstremisme kekerasan hari ini—bagaimana ia beradaptasi, berpindah medium, dan menyasar anak muda. Sebelumnya, Iptu Edi Purwanto dari Densus 88 telah memaparkan perkembangan terkini penanggulangan terorisme dan berbagai upaya pencegahannya. Diskusi kami berjalan berdampingan: satu berbicara dari data dan kebijakan, satu lagi dari pengalaman hidup dan refleksi personal.
Suasana dalam Aula SMAN Jatirogo di awal acara.(Dok. Satgaswil Densus 88 Jatim)
Di sesi tanya jawab, siswa-siswa SMAN Jatirogo menunjukkan keberanian berpikir. Mereka bertanya mengapa terorisme di Indonesia kerap dikaitkan dengan Islam dan bagaimana seharusnya mereka menyikapi stereotipe itu. Mereka juga bertanya mengapa game bisa menjadi medium penyebaran dan perekrutan, serta bagaimana agar siswa tidak mudah terjerumus ke dalam paham ekstrem atau radikal. Di tengah sesi, seorang guru mengajukan pertanyaan yang disampaikan dengan nada penasaran setengah bercanda: bagaimana bisa ada orang Jatirogo yang menjadi teroris? Pertanyaan itu sederhana, tapi sebenarnya menyimpan kegelisahan kolektif yang tidak mudah dijawab.
Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu adalah tanda kepedulian. Diskusi berjalan bergantian antara saya dan Iptu Edi. Saya menjawab dengan jujur, tanpa romantisasi. Ekstremisme, saya jelaskan, tidak tumbuh dari ruang hampa dan tidak memilih tempat. Ia lahir dari celah-celah kecil: rasa tidak diakui, krisis identitas, ketidakmampuan mengelola kekecewaan, serta paparan narasi yang menyesatkan. Jatirogo tidak kebal. Tidak ada daerah yang benar-benar kebal. Yang bisa dilakukan adalah memperkuat daya kritis, empati, dan keberanian untuk bertanya.
Acara ditutup dengan foto bersama. Dalam satu bingkai, aparat, guru, siswa, dan seorang mantan pelaku berdiri sejajar. Bagi saya, momen itu bukan simbol kemenangan, melainkan pengingat bahwa pencegahan ekstremisme adalah kerja kolaboratif yang menuntut kerendahan hati dari semua pihak.
Pulang dari kagiatan itu, saya membawa lebih dari sekadar catatan kegiatan. Saya membawa keyakinan baru bahwa kerja-kerja sunyi tidak akan pernah sia-sia. Tampil pertama kali di daerah sendiri bukan tentang membuktikan apa-apa, melainkan tentang membuka ruang percakapan yang selama ini tertutup. Di bawah pohon-pohon jati, di aula sekolah, dan di antara pertanyaan-pertanyaan jujur para siswa, saya kembali diingatkan: pencegahan radikalisme bukan soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau terus belajar. Dan bagi saya, Jatirogo kini bukan hanya rumah masa lalu, tetapi bagian dari masa depan yang ingin saya rawat bersama.[]
Komentar