SURABAYA — Pagi 15 Agustus 2026 itu, sekitar 30 mantan narapidana terorisme (napiter) dan kombatan Jamaah Islamiyah (JI) berkumpul di sebuah ruang pertemuan sederhana di kawasan Surabaya Timur. Ornamen merah putih menghiasi ruangan. Di luar, kendaraan lalu-lalang seperti biasa.
Mereka berkumpul dalam acara Tasyakuran dan Refleksi Kebangsaan yang digelar Forum Komunikasi Aktivis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI) bersama LKS Komunitas Pejuang Damai (KPD) Surabaya.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan. Ia juga menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan pulang dari kebencian menuju perdamaian.
Dari kekerasan menuju perdamaian
Di hadapan peserta, dua eks napiter, Dr. M. Saifuddin Umar, Lc., M.Pd. dan Dokter Agus Purwanto, berbicara tentang perubahan.
Keduanya telah menjalani hukuman dan proses pembinaan sebelum akhirnya kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kini mereka aktif dalam program deradikalisasi, pemberdayaan, dan pendampingan sesama mantan napiter.
Saifuddin, yang akrab disapa Abu Fida, merupakan mantan anggota Jamaah Islamiyah. Ia pernah membantu menyembunyikan tokoh teroris seperti Dr. Azhari dan Noordin M. Top.
Perjalanannya menuju paham radikal dimulai dari bacaan-bacaan ekstrem yang terus dikonsumsi, sebelum kemudian bergabung dengan NII, DI, hingga JI.
Kini ia melihat masa lalu itu dengan cara berbeda.
"Kami dulu berjuang untuk mimpi yang salah. Kami pikir dengan kekerasan, kami membela agama. Tapi ternyata, yang kami rusak adalah rumah sendiri, saudara sendiri, dan nama baik agama itu sendiri," ujar Saifuddin dengan suara bergetar.
Agus Purwanto, yang detail masa lalunya tidak disebutkan panitia, juga menyampaikan pesan serupa.
"Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, hari ini kita berkumpul bukan untuk mengenang masa lalu yang kelam. Kita di sini untuk menatap masa depan Indonesia yang lebih cerah. Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini adalah kemerdekaan dari belenggu kebencian dan kekerasan," tegasnya.
Tantangan setelah pintu penjara terbuka
Diskusi kemudian berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman.
Seorang peserta menceritakan bagaimana dulu ia memandang pemerintah sebagai thaghut yang harus dilawan. Ia percaya perjuangan bersenjata merupakan jihad paling utama.
Namun penjara dan perjumpaannya dengan orang-orang yang membimbingnya mengubah pandangan tersebut.
"Saya dulu yakin bahwa berjuang dengan senjata adalah jihad yang paling utama. Saya korbankan keluarga, harta, dan masa depan saya untuk itu. Tapi setelah dipenjara dan bertemu dengan orang-orang seperti Ust. Fuadi dan Abu Fida, saya sadar. Jihad yang sesungguhnya adalah bagaimana kita bisa membangun negeri ini, bukan merobohkannya," tuturnya.
Peserta lain yang baru beberapa bulan bebas dari penjara mengungkapkan persoalan berbeda. Menurutnya, tantangan terbesar justru muncul setelah kembali ke masyarakat.
"Tantangan terberat bukan di dalam penjara, tapi setelah keluar. Masyarakat masih takut, tetangga masih waspada. Kami butuh ruang untuk membuktikan bahwa kami sudah berubah. Acara seperti ini sangat penting bagi kami untuk merasa diterima kembali," katanya.
Saifuddin mengatakan, reintegrasi sosial membutuhkan waktu dan kesabaran.
"Titik rawan justru terjadi saat mereka kembali ke lingkungan asal yang mungkin masih menolak kehadiran mereka. Di sinilah peran komunitas seperti kami sangat dibutuhkan untuk menjembatani. Bukan hanya melalui pendampingan psikososial, tapi juga pemberdayaan ekonomi," jelasnya.
Merah Putih sebagai simbol kepulangan
Ketua FKAAI Jawa Timur, Ust. Fuadi, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni.
"Ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah momen di mana kami, orang-orang yang pernah berada di jalur gelap, ingin menunjukkan bahwa kami bisa berubah. Kami mencintai Indonesia. Kami ingin menjadi bagian dari pembangunan, bukan perusak. Acara ini adalah bukti nyata bahwa cinta tanah air tidak mengenal masa lalu," ujarnya.
FKAAI dan KPD sendiri telah lama bergerak dalam upaya perdamaian dan reintegrasi sosial. FKAAI bahkan pernah duduk bersama korban terorisme dalam forum peringatan Bom Surabaya 2018 untuk menyerukan perdamaian.
Dalam kegiatan itu, para peserta diajak merenungkan perjuangan para pendiri bangsa. Lagu-lagu perjuangan dinyanyikan. Bendera Merah Putih berkibar di antara foto-foto pahlawan nasional.
Kemudian para peserta mengucapkan ikrar setia kepada NKRI, berjanji menjaga keamanan dan ketertiban, menjunjung toleransi, serta menolak radikalisme dan intoleransi.
"Saya, M. Saifuddin Umar, dengan ini menyatakan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Saya berjanji akan setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta akan mengabdi kepada bangsa dan negara," ucap Saifuddin.
Perjalanan Saifuddin menunjukkan bahwa perubahan bisa membutuhkan waktu panjang. Ia pertama kali ditangkap pada 2004 dan kembali beberapa kali masuk penjara. Namun pada 2017, ia memutuskan kembali ke NKRI.
"Apa yang membuat saya berubah? Saya bertemu dengan orang-orang yang sabar membimbing saya. Saya melihat sendiri bagaimana negara ini tidak pernah menutup pintu untuk kami. Keluarga saya, anak-anak saya, mereka menderita karena pilihan saya. Saya tidak mau anak-anak saya mewarisi kebencian yang sama," kenangnya.
Pulang bukan berarti selesai
Bagi FKAAI dan KPD, reintegrasi tidak berhenti pada deklarasi. Mereka juga menyiapkan pemberdayaan ekonomi dan penguatan resiliensi keluarga, termasuk bagi istri-istri mantan napiter.
"Kami tidak ingin para mantan napiter hanya menjadi beban masyarakat. Kami ingin mereka menjadi tulang punggung keluarga dan kontributor bagi pembangunan. Dengan memberdayakan ekonomi mereka, kami juga mengurangi potensi mereka untuk kembali ke jalur radikal," jelas Fuadi.
Saifuddin mengajak masyarakat melihat mantan napiter dengan lebih manusiawi.
"Kami mengajak masyarakat untuk tidak lagi memandang eks napiter dengan kaca mata hitam. Mereka adalah saudara kita yang pernah tersesat dan kini telah kembali. Beri mereka kesempatan untuk membuktikan perubahan," pungkasnya.
Acara ditutup dengan doa bersama, saling berpelukan, bermaafan, dan berfoto di bawah Merah Putih.
Perayaannya mungkin sederhana. Tidak semeriah peringatan kemerdekaan di Istana Negara atau balai kota. Tetapi di ruangan itu, 30 orang sedang merayakan kemerdekaan dengan makna yang mungkin jauh lebih personal: kemerdekaan dari kebencian dan kekerasan.
Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam. Jalan menuju perdamaian masih panjang. Namun dari Surabaya, mereka sedang menunjukkan bahwa cinta Indonesia bisa tumbuh kembali—bahkan di hati orang-orang yang pernah tersesat jauh.
Merdeka!
*Foto utama:
Dari kiri ke kanan: Ustaz Saifuddin Umar (peci putih), Dokter Agus Purwanto, dan Ustaz Fuadi dalam acara Tasyakuran dan Refleksi Kebangsaan di Surabaya, 15 Agustus 2026.[Saifuddin Umar]
Komentar