SEMARANG – Fenomena paparan paham radikal teror menyusup melalui media sosial yang belakangan ini terjadi menjadi tantangan tersendiri untuk dicari solusinya.
Para pemangku kepentingan, termasuk para aktivis Preventing and Countering Violence – Ekstremism (PCVE) hari ini yang mau tak mau dihadapkan pada gap-antar generasi dengan perbedaan pengalaman sosial, budaya dan teknologi dengan generasi kekinian perlu memikirkan langkah tepat. Tujuannya agar gap antar-generasi yang ada tak menjadi kendala berarti dalam penyelesaiannya.
Pengalaman masa kecil konteks sosial, budaya dan teknologi generasi lama tentu berbeda dengan yang dirasakan generasi kekinian.
Founder Yayasan Literasi Desa Tumbuh (LDT) – Ruangobrol.id, Noor Huda Ismail, mencontohkan, di masa sebelum gadget dan media sosial menjamur untuk merayakan misalnya suatu capaian prestasi belajar, kerap bertatap muka langsung dengan teman-teman secara offline.
“Hari ini bergeser tidak lagi offline tapi online sangat memungkinkan menghubungkan antar-teman, bisa misalnya dengan main gim bareng secara online,” kata dia saat mengisi materi Workshop Merawat Toleransi, Menguatkan Harmoni: Langkah Pencegahan dan Penanganan Anak yang Terkait Ekstremisme Berbasis Kekerasan di Jawa Tengah, Jumat (7/11/2025) di Kota Semarang.
Aktivitas online yang cenderung lebih digemari generasi kekinian, ternyata bisa jadi ancaman tersendiri ketika ruang-ruang digital itu digunakan kelompok radikal teror sebagai sarana menyebarkan propaganda. Paparan gim yang bisa jadi menawarkan “aktivitas kekerasan” lambat laun bisa mempengaruhi alam bawah sadar pemainnya.
Ini akan jadi persoalan serius ketika pada akhirnya kekerasan dinormalisasi mereka. Tak jarang, usia anak dan pelajar, akhirnya tergelincir lebih jauh, terpapar paham radikal teror dari aktivitas online.
“Program-program strategis dan berkelanjutan perlu dibuat seiring fenomena ini, dalam rangka pencegahan,” sambungnya.
Ajak Sinergi
Pada workshop itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah Ema Rachmawati mengamini adanya fenomena online yang menyebabkan anak terpapar radikal teror. Salah satunya terjadi di wilayah kerjanya.
“Anak (yang terpapar) di Pemalang itu sampai dia melawan orangtuanya, di UPTD kami hampir seminggu melakukan pendampingan intens ke dia, sampai sekarang terus dilakukan,” kata Ema yang juga pembicara di workshop itu.
Dia juga mencontohkan adanya fenomena lain, hal serupa, yang terjadi. Ada lulusan sekolah kedinasan, yang terpapar kebencian via online. Teranyar juga terjadi fenomena anak-anak yang ikut melakukan serangkaian kerusuhan demonstrasi jalanan, melempari kantor pemerintah maupun petugas dengan bom molotov. Pada konteks ini, anak juga dibaca sebagai korban ketika insiden itu terjadi.Dia mengakui, treatment untuk persoalan seperti itu cukup menyulitkan.
“Orangtuanya juga perlu dilakukan rehabilitasi, tidak hanya anaknya,” sambungnya.
Selain itu, Ema juga menyoroti adanya pemulangan deportan dari Suriah ke Jateng. Berbagai kesiapan sedang dilakukan, agar penanganannya bisa komprehensif dan solutif. Pada konteks ini, Ema mengajak semua pihak terutama yang sudah punya pengalaman menangani, untuk bersama merumuskan langkah yang tepat menangani.
“Akan kami identifikasi dari kabupaten – kota mana saja, sudah ada RAN PE, di Jateng juga sudah diturunkan jadi RAD PE,” lanjut dia.
Perwira Satgas Wilayah Jawa Tengah Densus 88/Antiteror Kompol Ghofar pada kegiatan itu menyebutkan informasi terakhir akan ada 15 KK yang akan dipulangkan dari luar negeri ke Jateng.
“Sebelumnya sudah ada yang didampingi para deportan itu dari Brebes, Tegal, Purbalingga dan Solo Karanganyar. Ada beberapa kendala yang terjadi, misalnya ada anaknya ingin melanjutkan sekolah, ini perlu kolaborasi menyelesaikannya,” kata Ghofar.
Kegiatan workshop itu sendiri digelar 2 hari di Semarang, mulai Jumat hingga Sabtu (8/11/2025) hari ini, Workshop digelar Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten bekerjasama dengan DP3AP2KB Provinsi Jateng didukung oleh Unicef Indonesia. Kegiatan tersebut digelar adalam rangka melaksanakan program Penguatan Perlindungan Anak tahun 2025 melalui program Mempromosikan Lingkungan yang Aman dan Ramah untuk Anak (SAFE 4C) di Jawa Tengah.[eka setiawan]
Foto utama: Pemutaran Film dokumenter karya KPP-Ruangobrol bertajuk “Road to Resilience” di sela-sela workshop di Kota Semarang, Jumat (7/11/2025).[Eka Setiawan]
Komentar