Bangka — Di tengah derasnya arus informasi digital yang tak selalu ramah bagi generasi muda, Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, menjadi ruang penting untuk memperkuat daya tahan ideologi santri. Pada Senin, 12 Januari 2026, pesantren ini menjadi tuan rumah kegiatan sosialisasi kebangsaan yang digelar oleh Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung Densus 88 Anti Teror Polri bersama Badan Intelijen Negara Daerah Kepulauan Bangka Belitung, Polsek setempat, Kementerian Agama, serta unsur Pemerintah Kecamatan Mendo Barat.
Mengusung tema “Media Sosial dan Tantangan Ideologi Kekerasan di Kalangan Anak dan Remaja: Peran Santri dalam Pencegahan IRET”, kegiatan ini menjadi respons atas meningkatnya kerentanan anak dan remaja terhadap paparan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), terutama melalui ruang digital.
Sejak pagi, ratusan santri memenuhi aula pesantren. Mereka duduk bersila, menyimak paparan demi paparan yang disampaikan dengan bahasa sederhana namun tegas. Kegiatan ini tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan dirancang sebagai ruang dialog untuk membangun kesadaran kritis santri terhadap ancaman ideologi kekerasan yang kian beragam bentuknya.
Dalam pembukaan materi, Ustadz Sofyan, Penyuluh Agama dari KUA Kecamatan Mendo Barat, menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi utama dalam menghadapi ekstremisme. Ia mengingatkan bahwa ajaran Islam sejatinya mengajarkan keseimbangan, keadilan, dan kasih sayang.
“Beragama secara berlebihan hingga menafikan kemanusiaan dan kebangsaan justru bertentangan dengan nilai dasar Islam itu sendiri,” ujarnya. Menurutnya, sikap pertengahan atau wasathiyah menjadi kunci agar generasi muda tidak mudah terseret pada tafsir agama yang sempit dan penuh kebencian.
Sesi berikutnya diisi oleh Kepala Unit Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung Densus 88 Anti Teror Polri. Dalam paparannya, ia menguraikan peta terbaru radikalisme di Indonesia, khususnya yang menyasar anak-anak dan remaja. Ia menyebut bahwa kelompok usia ini berada pada fase pencarian jati diri, sehingga mudah dipengaruhi narasi heroik, identitas semu, dan ajakan “perjuangan” yang dibungkus secara manipulatif.
Yang menarik, ia juga menyoroti bahwa ekstremisme saat ini tidak selalu berakar pada ideologi keagamaan. “Kami menemukan kasus keterlibatan remaja dalam kelompok Neo-Nazi, White Supremacy, hingga komunitas ekstrem berbasis daring seperti True Crime Community,” jelasnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa radikalisme telah bertransformasi dan menyesuaikan diri dengan budaya digital anak muda.
Peran media sosial menjadi perhatian khusus dalam sesi ini. Duta Cegah Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung, Ilham Alfarizi, menjelaskan bagaimana algoritma media sosial kerap dimanfaatkan untuk membangun ruang gema (echo chamber) yang memperkuat pandangan ekstrem.
Ia mengajak para santri untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku di lingkungan sekitar serta berani melakukan deteksi dini. “Radikalisme sering kali tidak datang dengan wajah menakutkan. Ia bisa hadir lewat obrolan santai, konten hiburan, atau komunitas online yang terlihat biasa saja,” ujarnya.
Antusiasme santri terlihat jelas saat sesi tanya jawab dibuka. Beragam pertanyaan mengemuka, mulai dari ciri-ciri awal paparan radikalisme hingga peran keluarga dalam pencegahan. Seorang santriwati secara lugas bertanya apa yang harus dilakukan jika menemukan anggota keluarga yang menunjukkan gelagat mencurigakan.
Menanggapi hal tersebut, Kanit Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung menegaskan pentingnya keberanian melapor. Ia menyampaikan bahwa laporan dapat dilakukan melalui aparat setempat atau akun resmi media sosial Satgaswil untuk ditindaklanjuti secara profesional dan humanis.
Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan ikrar bersama untuk menolak segala bentuk paham IRET. Suara santri yang menggema di aula menjadi simbol komitmen kolektif menjaga pesantren dan lingkungan sekitar dari pengaruh ideologi kekerasan.
Melalui sosialisasi ini, para santri diharapkan tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga kritis, berwawasan kebangsaan, dan siap menjadi benteng awal dalam menjaga Indonesia tetap damai di tengah tantangan zaman digital.[]
Foto:
Peserta kegiatan sosialisasi kebangsaan di Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, Bangka, Senin (12/1/2026).[Dok. Satgaswil Kep. Babel Densus 88 AT]
Komentar