Poso: Reintegrasi yang Rapuh dan Lingkaran Lama yang Menunggu

News

by Redaksi Editor by Arif Budi Setyawan

Di tanah yang pernah lama mengenal bunyi letusan senjata dan bisik-bisik ketakutan itu, penangkapan kembali terjadi. Delapan orang terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang disebut terafiliasi ISIS diamankan Densus 88 Antiteror di wilayah Poso dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Polisi menyebut mereka diduga aktif menyebarkan propaganda radikal melalui media sosial—gambar, tulisan, dan video yang menyemai kebencian dalam sunyi layar telepon genggam.

Poso seperti tak pernah benar-benar selesai dengan lukanya.
Ia memang tampak lebih tenang dibanding tahun-tahun ketika orang-orang takut keluar rumah selepas magrib. Tetapi ketenangan itu kadang menyerupai abu: terlihat dingin di permukaan, sementara bara kecil masih bersembunyi di bawahnya.

Dari jaringan narasumber Ruangobrol—para mantan narapidana terorisme yang selama ini terlibat dalam kerja-kerja reintegrasi sosial—muncul informasi bahwa salah satu terduga yang ditangkap diketahui merupakan mantan napiter yang belum lama menghirup udara bebas.

Sebuah kabar yang terdengar pendek, tetapi menyimpan gema panjang.

Karena di balik penangkapan itu, sesungguhnya ada pertanyaan besar yang kembali mengetuk kesadaran kita: apakah seseorang yang keluar dari penjara benar-benar telah kembali menjadi bagian dari kehidupan?

Ataukah ia hanya dipindahkan dari ruang tahanan menuju kesunyian yang lain?

Yang membuat kisah ini terasa semakin getir, beberapa mantan napiter yang telah lebih dulu berhasil menjalani reintegrasi sosial sebenarnya sudah mencoba mendekatinya. Mereka menasihatinya agar lebih banyak membuka diri kepada masyarakat, mulai membangun pergaulan baru, dan perlahan menjauh dari lingkaran lama di media sosial.

Mereka bahkan menawarkan bantuan sederhana seperti diajak ikut aktivitas keseharian, dikenalkan dengan lingkungan yang lebih sehat, hingga dibantu untuk pelan-pelan memulai hidup baru sebagaimana yang pernah mereka jalani setelah bebas.

Sebab mereka tahu betul bagaimana beratnya fase setelah keluar dari penjara.

Mereka tahu bagaimana rasanya dicurigai, dijauhi, dan merasa asing di tengah kehidupan sendiri. Mereka pernah melewati lorong gelap yang sama. Karena itu mereka mencoba menarik satu orang lagi agar tidak kembali tersesat ke arah yang pernah menghancurkan hidup mereka dulu.

Tetapi nasihat tidak selalu mampu mengalahkan rasa nyaman pada lingkaran lama.

Alih-alih membuka diri kepada masyarakat, terduga tersebut justru lebih memilih kembali menjalin hubungan dengan simpatisan kelompok lamanya melalui media sosial. Di sana, mungkin ia merasa lebih diterima. Lebih dimengerti. Lebih dianggap sebagai bagian dari sesuatu.

Dan sering kali, itulah yang paling berbahaya dari propaganda ekstremisme modern. Ia tidak selalu datang membawa ancaman, tetapi menawarkan rasa memiliki.

Selama ini, publik sering mengira persoalan selesai ketika vonis dijatuhkan. Seolah hukum adalah garis akhir. Padahal bagi banyak mantan napiter, kehidupan justru terasa lebih asing setelah pintu penjara terbuka.

Ada yang pulang tetapi tak lagi dianggap bagian dari kampungnya sendiri.
Ada yang mencoba mencari pekerjaan namun ditolak bahkan sebelum sempat menjelaskan siapa dirinya hari ini.
Ada yang ingin berubah, tetapi terus dipaksa hidup di bawah bayang-bayang masa lalunya.

Kita sering meminta mereka kembali menjadi manusia biasa, tetapi lupa menyediakan jalan untuk benar-benar menjadi biasa.

Di tengah ruang kosong itulah propaganda kerap menemukan celahnya kembali.

Kini radikalisme tidak selalu datang dengan wajah garang atau latihan milter di hutan-hutan terpencil. Ia hadir diam-diam melalui video pendek, narasi kemarahan, dan algoritma media sosial yang bekerja tanpa tidur. Seseorang bisa merasa diterima kembali bukan oleh lingkungan sekitarnya, melainkan oleh komunitas digital yang menawarkan ilusi persaudaraan dan makna hidup.

Dan ketika dunia nyata terus menolaknya, dunia maya menjadi tempat paling mudah untuk pulang.

Poso sudah terlalu lama menjadi halaman yang berulang dibaca dalam sejarah kekerasan Indonesia. Nama kota itu seperti selalu muncul bersama cerita tentang konflik, operasi keamanan, penangkapan, atau pengejaran. Padahal di sana juga ada ibu-ibu yang menanam cabai di halaman rumah, anak-anak yang berangkat sekolah melewati jalan berkabut, dan keluarga-keluarga yang diam-diam hanya ingin hidup tenang tanpa stigma.

Namun luka sosial memang tidak sembuh hanya karena suara tembakan berhenti.

Ia menetap lebih lama dalam ingatan, dalam rasa curiga, dalam jarak yang tak terlihat di antara sesama warga. Dan kadang, luka itu hidup dalam diri orang-orang yang sebenarnya sedang berusaha meninggalkan masa lalunya.

Karena itu, reintegrasi sosial bukan pekerjaan seremonial. Ia bukan sekadar foto berjabat tangan, pelatihan sehari, atau pidato tentang nasionalisme. Reintegrasi adalah kesediaan panjang untuk menemani seseorang belajar hidup kembali sebagai manusia utuh.

Mendengar ceritanya tanpa terus-menerus menghakimi.
Memberinya kesempatan tanpa selalu mencurigai.
Membiarkannya punya masa depan tanpa terus dipenjara oleh masa lalu.

Kasus penangkapan di Poso ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan terbesar sesungguhnya bukan hanya menangkap mereka yang kembali terseret ke lingkaran ekstremisme, melainkan memastikan mereka yang pernah keluar dari lingkaran itu tidak merasa sendirian ketika mencoba berjalan menjauh.

Sebab manusia yang merasa tak punya tempat pulang sering kali mudah dipanggil kembali oleh masa lalunya.

Dan mungkin, pertanyaan paling penting dari semua ini bukan sekadar bagaimana negara menghukum seseorang ketika ia bersalah. Tetapi apakah setelah hukum selesai dijalankan, kita benar-benar memberi ruang baginya untuk hidup dengan cara yang berbeda.

Sebab bila tidak, maka penjara mungkin hanya berubah bentuk. Dari tembok besi menjadi stigma sosial. Dari jeruji menjadi tatapan curiga.
Dan dari sel yang sempit menjadi kesepian yang panjang.

Di sanalah, kadang-kadang, ekstremisme menemukan jalan pulangnya kembali.[red]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar