Luka Perempuan di Balik Jubah Surga Palsu

Analisa

by Munir Kartono Editor by Redaksi

Aku pernah percaya bahwa dunia ini busuk. Bahwa negara ini hanyalah topeng kapitalisme yang memeras manusia kecil seperti aku. Dan ketika kebencian itu tumbuh, datanglah mereka—mereka yang berbicara dengan bahasa luka yang sama, tapi mengajarkan kebencian yang lebih halus. Mereka mempelakukanku seperti saudara, menamakan diri sebagai pejuang agama. Mereka bilang, “bergabunglah, di sini kita saudara seiman.”

Dan aku pun datang.

Mereka menyebutku akhi—saudara. Aku diterima, dihargai, didengarkan. Ada rasa hangat di dada, seperti pulang ke rumah setelah lama tersesat. Tapi aku tak tahu, di balik semua sapaan itu, ada racun yang sedang menetes pelan-pelan ke dalam pikiranku. Mereka mengajarkan bahwa di luar kelompok kami adalah kafir. Termasuk orang tuaku sendiri, guruku, bahkan saudara sebangsaku.

Mereka bilang, “jangan percaya pada penghulu negara kafir, jangan biarkan ayah yang murtad menikahkan anak perempuannya.” Lalu dari situlah aku mengenal apa yang mereka sebut nikah online — sebuah “solusi syar’i” bagi orang yang terpisah jarak dan ideologi. Tapi di balik layar ponsel, aku menyaksikan kemanusiaan dihancurkan perlahan.

Awalnya tampak sederhana, pria di penjara menikah dengan perempuan di luar negeri, hanya lewat panggilan video dan saksi yang juga satu ideologi. Tapi lama-lama, praktik itu berubah jadi pasar.
Perempuan
seperti diperjualbelikan dengan dalih agama. Jika suaminya dianggap murtad karena menyesal dan kembali ke NKRI, maka “otomatis” hubungan penikahan dianggap selesai—tanpa hak bicara, tanpa proses, tanpa rasa. Lalu ia dinikahkan lagi dengan “ikhwan” yang masih dianggap suci, yang kadang bahkan tak pernah melihat wajahnya.

Aku melihat sendiri siklus itu, berulang seperti mimpi buruk.

Temanku—seorang yang dulu sangat kukagumi karena kesetiaannya pada agama—akhirnya sadar di dalam penjara. Ia menyesal, mengakui bahwa kekerasan atas nama Tuhan adalah kesalahan. Tapi bagi kelompok itu, penyesalan adalah dosa. Mereka mencapnya kafir.

Dan istrinya yang di luar sana? Diprovokasi untuk menceraikannya. “Dia sudah murtad,” kata mereka.

Kau harus menikah dengan mujahid sejati.”

Yang lebih menyakitkan, ustaz yang dulu dihormati temanku sendiri yang kemudian menikahi istrinya.

Beberapa bulan kemudian, laki-laki itu juga tertangkap dan menyadari kesalahannya. Dan tahu apa yang terjadi?

Istri itu kembali “dipindahkan”.

Dinikahkan lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Aku melihat perempuan dijadikan seperti piala bergilir.

Aku melihat tubuh dan jiwa mereka dilelang dengan harga ideologi.

Dan di tengah semua itu, para lelaki membenarkan diri mereka dengan kalimat-kalimat agama. Mereka berkata “ini jihad”, padahal yang kulihat hanyalah kerakusan dan nafsu yang disucikan dengan nama Tuhan.

Dulu aku membenarkannya. Aku berpikir, mungkin inilah pengorbanan dalam iman.

Tapi lambat laun, aku merasa jijik.

Aku muak.

Aku tak bisa lagi menatap mata perempuan-perempuan yang dipaksa menerima kekafiran suaminya dan lantas menikah lagi dengan orang lain—dan menyebut itu ibadah. Aku tak bisa lagi menyebut ideologi yang memperlakukan perempuan sebagai barang rampasan sebagai ajaran Tuhan. Dan yang paling mengerikan dari ideologi ini bukan hanya kekerasannya. Tapi karena ia membuat manusia berhenti menjadi manusia. Ia membunuh rasa iba, mengebiri cinta, dan menjadikan perempuan sekadar alat bukti keimanan.

Sekarang aku sadar, aku dulu bukan berjuang untuk Tuhan, aku berjuang untuk kebencian. Dan kebencian itu menyaru dalam jubah agama. Aku menulis ini karena aku ingin semua orang—terutama para perempuan—tahu, ISIS bukan tentang agama. ISIS adalah mesin perusak kemanusiaan. Mereka mencuri bahasa surga untuk menjual neraka. Mereka menjadikan cinta sebagai alat kekuasaan, dan perempuan sebagai barang yang bisa dipindahtangankan demi menjaga kesetiaan palsu.

Aku pernah hidup di tengah mereka. Aku pernah sujud bersama mereka. Tapi kini aku hanya bisa berlutut di hadapan kenyataan—bahwa aku pernah menjadi bagian dari sesuatu yang menjijikkan. Dan kepada siapa pun yang masih percaya bahwa kekerasan, perbudakan, dan pernikahan tanpa cinta bisa mengantarkan ke surga — percayalah, yang sedang kau dekati bukanlah surga, tapi kegelapan paling dalam yang membunuh sisi manusia di dalam dirimu. Kini aku tahu, iman yang sejati tidak memenjarakan, tapi memerdekakan. Agama yang benar tidak merendahkan, tapi memuliakan. Dan cinta—cinta yang suci—tidak pernah tumbuh dari ketakutan atau paksaan.

Untuk semua perempuan yang pernah menjadi korban, aku ingin kalian tahu, kalian bukan dosa. Kalian korban dari ideologi yang salah arah. Kalian tidak harus malu. Kalian layak dicintai dengan cara yang benar—bukan disembunyikan di balik doktrin, bukan dijadikan hadiah bagi keimanan palsu. Dan untuk masyarakat di luar sana, jangan biarkan ideologi seperti ini tumbuh dari kebencian yang kita biarkan, dari ketidakadilan yang kita abaikan. Karena ideologi seperti ISIS tidak muncul dari iman—ia tumbuh dari luka, dari putus asa, dari manusia-manusia yang kehilangan harapan dan mencari Tuhan di tempat yang salah.

Aku pernah menjadi salah satunya. Dan aku menulis ini supaya tidak ada lagi yang jatuh ke jurang yang sama.[]



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar