Refleksi dari laporan program 5R (Repatriasi, Rehabilitasi, Relokasi, Reintegrasi, Resiliensi) Kreasi Prasasti Perdamaian, adalah catatan nyata bagaimana saya melewati proses panjang ketika terjebak di bawah bayang-bayang kelompok ekstremis: dari Suriah kembali ke Indonesia, dari trauma menuju harapan, dari kecurigaan menuju kontribusi nyata bagi bangsa.
Kadang saya masih bertanya pada diri sendiri, bagaimana mungkin seseorang bisa berjalan begitu jauh hingga lupa darimana ia berasal. Perjalanan saya ke Suriah dulu terasa seperti jalan satu arah—gelap, penuh keyakinan yang keliru, namun dibungkus harapan semu akan kebenaran. Dan kini, bertahun-tahun setelah kembali ke Indonesia, saya menyadari bahwa pulang bukan sekadar kembali ke tanah air. Pulang adalah proses yang panjang: menerima luka, menghadapi stigma, berdamai dengan penyesalan, dan perlahan belajar menjadi manusia baru. Ada hari-hari di mana rasa syukur terasa begitu dekat, dan ada hari-hari ketika bayangan masa lalu masih mengetuk pelan di sudut ingatan. Tapi dari semua itu, satu hal yang saya pelajari adalah: setiap manusia, bahkan yang pernah salah arah sekalipun, selalu berhak menemukan jalan pulang menuju harapan.
Repatriasi dan Tanggung Jawab Negara
Kepulangan saya dan rombongan WNI eks-Suriah di tahun 2017 bukanlah perkara mudah. Di tengah perang dan kekacauan, pemerintah Indonesia akhirnya memilih jalur repatriasi –sebuah langkah yang berisiko, mengingat banyak negara lain, terutama di Eropa, justru menutup pintu bagi warganya yang pernah terlibat ISIS.
Bagi saya pribadi, langkah itu bukan sekadar penyelamatan, melainkan wujud nyata politik luar negeri Indonesia yang humanis. Saya diselamatkan dari hidup dalam “limbo”, dari kemungkinan besar kehilangan arah, bahkan kehilangan generasi berikutnya. Saya membayangkan, seandainya saat itu saya tetap dibiarkan terkatung-katung di tempat tahanan SDF kota Kobane dan keluarga di kamp pengungsian, mungkin rasa frustrasi akan lebih besar daripada rasa syukur yang saya miliki saat ini.
Saya tahu hingga kini diskursus internasional soal repatriasi masih panas. Kamp Al-Hol di Suriah, misalnya, masih menampung ribuan perempuan dan anak-anak tanpa kepastian. Begitupun di Kobane, saya pernah merasakan langsung atmosfer ketidakpastian itu, seperti spekulasi pemindahan ke Guantanamo, hukum gantung, atau disiksa sampai hampir mati. Saya paham mengapa banyak yang menyebutnya “bom waktu kemanusiaan”. Saya percaya Indonesia sudah mengambil jalan yang benar: memulangkan warganya dan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tentu dengan proses asesmen yang sangat ketat.
Rehabilitasi: Dari Ideologi ke Ekonomi
Setelah kembali, saya menghadapi fase rehabilitasi. Banyak orang berpikir deradikalisasi hanya soal menanamkan kembali nilai moderasi. Bagi saya, ceramah-ceramah itu memang ada, tapi tidak memiliki dampak besar karena materi yang disampaikan sangatlah fundamental. Justru yang lebih penting adalah pemulihan ekonomi.
Yang saya butuhkan saat itu adalah bagaimana bertahan hidup menuju proses kembali ke masyarakat, bagaimana menatap masa depan. Seperti program pelatihan wirausaha, keterampilan, dan dukungan sosial terasa jauh lebih relevan bagi saya. Alhamdulillah, pelatihan untuk memulihkan ekonomi saya dan keluarga yang terdampak propaganda kelompok teror bisa terakomodir oleh BNPT dan beberapa CSO yang concern di isu PCVE.
Hari ini, di tengah meningkatnya tensi politik dan maraknya ujaran kebencian di ruang digital, saya melihat pola yang sama. Radikalisme bukan hanya lahir dari tafsir agama, tapi juga dari kekecewaan sosial dan ekonomi. Itulah sebabnya saya percaya: jika negara ingin mencegah lahirnya generasi baru yang rentan terhadap intoleransi, radikalisme ekstremisme, dan terorisme, pemberdayaan ekonomi yang baik harus berjalan seiring dengan narasi kebangsaan. Bukan menambah beban ekonomi rakyat dengan menaikan tunjangan para pejabat yang menurut saya tidak rasional di tengah melemahnya ekonomi masyarakat.
Relokasi dan Reintegrasi: Stigma yang tak hilang
Fase relokasi membawa saya dan keluarga wilayah yang tak asing lagi. Pihak BNPT sudah lebih dulu melakukan sosialisasi agar warga sekitar tidak menolak kehadiran kami. Dan benar, saya tidak menghadapi perlawanan terbuka. Tapi stigma itu tetap ada, lebih banyak muncul di ruang digital.
Saya masih ingat, video kepulangan kami ke Indonesia seringkali dibanjiri komentar penuh kebencian. Saya dicap pengkhianat, pembawa misi teror baru, bahkan dianggap “halal” darahnya untuk ditumpahkan oleh simpatisan kelompok radikal. Komentar-komentar itu memang tidak menampar langsung wajah saya, tapi cukup untuk membuat saya teringat bahwa stigma akan terus melekat dalam diri seseorang.
Dari Luka ke Harapan
Perjalanan saya bisa dibilang adalah perjalanan dari luka menuju harapan. Hari ini, saya bisa menuliskan refleksi ini, berbicara di forum-forum publik, bahkan bisa ikut menyumbang suara untuk perdamaian. Bagi saya, inilah arti resiliensi: menjadikan luka sebagai kekuatan untuk memberi makna bagi orang lain.
Konteks Indonesia sekarang, tahun 2025, justru membuat saya semakin yakin bahwa pelajaran 5R masih relevan. Kita sedang menyaksikan ketimpangan sosial, kegagalan elit, dan maraknya ujaran kebencian. Semua itu bisa menyulut kemarahan massa. Jawaban atas situasi ini tidak cukup hanya dengan kekuasaan atau pendekatan keamanan. Kita perlu membangun kembali kepercayaan, keterbukaan (transparansi), dan pemberdayaan.
Dari Suriah ke Indonesia, dari stigma ke kontribusi. Itulah refleksi yang saya bawa. Jika saya bisa menemukan harapan di tengah luka, maka saya percaya bangsa ini pun bisa menemukan jalan damainya di tengah krisis yang sedang melanda.
Hari ini, ketika saya melihat anak-anak bermain bebas di halaman rumah atau mendengar azan dari masjid dekat tempat tinggal saya, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan karena semuanya sudah sempurna atau luka masa lalu sudah hilang, tetapi karena saya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki hidup.
Saya tahu, perjalanan saya dari Suriah hingga kembali ke Indonesia bukan hanya kisah tentang kesalahan dan penyesalan, tapi tentang keberanian untuk kembali menjadi manusia utuh. Masih ada stigma, masih ada keraguan, masih ada pintu yang menutup. Tapi ada juga kepercayaan yang perlahan tumbuh, tangan-tangan yang terulur, dan ruang kecil untuk ikut berkontribusi.
Dan di situlah saya menemukan makna baru: bahwa hidup kedua ini bukan hadiah, tapi amanah. Jika suatu hari nanti orang bertanya siapa saya, saya berharap jawabannya bukan lagi “mantan dari masa lalu yang gelap”, tetapi seseorang yang pernah jatuh dan memilih bangkit untuk membantu orang lain tidak jatuh di tempat yang sama.
Foto utama: Febri Ramdani di Idlib Suriah,Desember 2016.(edited by Febri Ramdani)
Komentar