Tantangan Penempatan WNI Eks ISIS Setelah Rehabilitasi (1)

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Arif Budi Setyawan

Merepatriasi WNI eks ISIS yang ada di kamp-kamp pengungsian di Suriah dan sekitarnya tidak sesederhana merepatriasi WNI bermasalah karena pelanggaran imigrasi, korban kejahatan, bencana alam, atau karena wabah penyakit. Ada banyak tantangan dalam repatriasi WNI eks ISIS. Antara lain: adanya penolakan dari masyarakat, alasan kuat untuk melakukan repatriasi yang atas dasar hukum atau HAM, teknis pelaksanaan repatriasi, hingga soal anggaran biaya.

Bagi sebagian masyarakat ada yang berpikir atau mempertanyakan, kenapa WNI eks ISIS itu perlu direpatriasi? Bukankah masih banyak persoalan bangsa lainnya yang lebih mendesak untuk diselesaikan? Belum lagi kehadiran mereka akan memerlukan penanganan khusus. Kehadiran mereka juga dianggap akan menjadi beban bagi negara dan masyarakat.

Masyarakat banyak yang belum memahami bahwa keberadaan orang-orang yang bermasalah dalam ideologi dan pemahaman akan teks agama seperti para WNI eks ISIS itu bisa menimbulkan ancaman keamanan yang tidak hanya pada keamanan negara, namun keamanan antar individu. Di mana pun mereka berada akan selalu berpotensi menimbulkan masalah jika tidak ditangani dengan baik. Pertanyaannya adalah: siapa yang paling bertanggungjawab untuk menanganinya?

Jika kita membiarkan orang-orang itu berada di luar sana tanpa bisa kita kontrol atau intervensi, mereka sangat berpotensi menjadi semakin rusak pemikirannya karena berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama rusak pemikirannya. Dan perlu diingat, mereka tidak mungkin selamanya akan berada di kamp pengungsian. Mereka suatu saat akan tetap dipulangkan, baik oleh negara asalnya maupun oleh komunitas internasional seperti PBB.

Menurut kami dari sudut pandang para aktivis, semakin lama mereka berada di kamp pengungsian maka potensi bertambah parahnya‘penyakit ideologis’ mereka akan semakin besar. Meskipun bisa jadi banyak juga yang akhirnya menyadari penyakitnya dan ingin sembuh.

Tim peneliti Ruangobrol memiliki informan dari dalam kamp yang mengkonfirmasi adanya dua fenomena itu. Yaitu fenomena orang yang semakin parah penyakitnya dan yang sadar ingin sembuh. Menurut kami, yang sadar dan ingin sembuh itu pun masih berpotensi kendor semangatnya dan mengikuti kembali orang-orang yang rusak bila semakin lama berada pada kondisi yang semakin tidak menentu di kamp.

Maka, dari sudut pandang kami sebagai aktivis, repatriasi WNI eks ISIS itu semakin cepat dilakukan akan semakin baik. Semakin cepat ditangani akan semakin baik. Dan sebaliknya, semakin lambat dilakukan akan semakin memberatkan penanganannya. Namun semuanya kembali lagi ke para pengambil kebijakan di negara kita ini.

Dalam proses rehabilitasi pada anak-anak WNI eks ISIS misalnya, akan semakin berat ketika mereka terlalu lama tumbuh besar dalam kamp pengungsian. Apalagi jika mereka diasuh dalam ‘narasi dendam’. Kami pernah mendapati bukti postingan media sosial yang berisi foto-foto anak-anak WNI eks ISIS di kamp yang ketika bermain pun mereka mainnya membuat senapan dan main tembak-tembakan dengan target para penjaga kamp.

Bayangkan jika anak-anak ini tidak diurus dan dibiarkan menjadi liar di luar negeri karena tidak kita repatriasi, yang akhirnya bisa jadi lepas liar karena –sekali lagi-- tidak akan selamanya berada di kamp. Mereka bisa menjadi generasi teroris baru yang lebih dahsyat dari bapak-bapak mereka. Bukankah akan lebih baik jika segera kita repatriasi dan mulai merehabilitasinya daripada menunggu tindakan dari komunitas internasional yang entah kapan akan dilakukan? Namun sekali lagi, semuanya kembali lagi ke para pengambil kebijakan di negara kita ini.

(Bersambung)

Komentar

Tulis Komentar