Beberapa bulan terakhir, percakapan di antara para pegiat Civil Society Organizations (CSO) terasa semakin senyap, tapi berat. Bukan karena tak ada kerja yang dilakukan—justru sebaliknya. Program tetap berjalan, laporan tetap ditulis, komunitas tetap didampingi. Namun di balik itu semua, ada kegelisahan yang sering terucap dengan lirih: pendanaan makin sulit didapat sementara kebutuhan di masyarakat sudah menunggu.
Fenomena “efisiensi” di negara-negara donor bukan sekadar istilah kebijakan anggaran. Ia menjelma menjadi realitas harian bagi banyak CSO, seperti: proposal yang tak kunjung lolos, panggilan wawancara yang berujung “maaf, prioritas kami berubah”, hingga keputusan berat membatasi atau bahkan menghentikan program yang sebenarnya masih sangat dibutuhkan di lapangan.
Di satu sisi, dunia sedang menghadapi krisis berlapis—konflik bersenjata, krisis iklim, ketimpangan sosial, dan lain-lain. Di sisi lain, negara-negara donor justru mengetatkan ikat pinggang. Anggaran bantuan luar negeri dipangkas, prioritas dipersempit, dan standar akuntabilitas diperketat. Di tengah ketegangan itulah CSO diminta tetap profesional, inovatif, efisien, dan berdampak. Sebuah tuntutan yang—jujur saja, tidak selalu adil.
Efisiensi Donor: Rasional di Atas Kertas, Berat di Lapangan
Dari perspektif pemerintah donor, efisiensi adalah kata kunci yang masuk akal. Pajak warga harus dipertanggungjawabkan, bantuan harus terukur, dan setiap dolar harus menunjukkan hasil. Maka lahirlah berbagai pendekatan: value for money, results-based funding, indikator kinerja yang rinci, audit berlapis, hingga uji tuntas mitra yang semakin ketat.
Masalahnya, logika efisiensi ini sering tidak sepenuhnya kompatibel dengan realitas kerja sosial.
Perubahan sosial itu jarang yang berjalan linear. Dampak pencegahan radikalisasi, penguatan kohesi sosial, pendampingan penyintas kekerasan, atau kerja-kerja lingkungan berbasis komunitas tidak selalu bisa diukur dalam hitungan kuartal. Ia tumbuh perlahan, melalui relasi, kepercayaan, dan konsistensi kehadiran. Ketika donor menuntut hasil cepat dan angka yang “bersih”, CSO dipaksa mereduksi kompleksitas realitas menjadi indikator-indikator yang kadang terasa artifisial.
Lebih jauh, efisiensi juga diwujudkan lewat konsolidasi pendanaan. Donor cenderung menyalurkan dana ke lebih sedikit mitra dengan kontrak lebih besar. Secara administratif ini memang mengurangi biaya transaksi. Namun bagi CSO lokal di negara-negara berkembang (Global South) dampaknya tidak kecil. Banyak yang akhirnya hanya menjadi sub-grantee, dengan ruang pengambilan keputusan terbatas dan posisi tawar yang lemah.
Core Funding Berkurang, Organisasi Jadi Rentan
Salah satu dampak paling nyata dari tren efisiensi adalah makin langkanya core funding. Dana untuk operasional, penguatan kelembagaan, pengembangan SDM, atau sekadar menjaga organisasi tetap bernapas semakin sulit diperoleh. Yang tersedia adalah dana proyek yang spesifik, jangka pendek, dan ketat.
Akibatnya, banyak CSO hidup dari satu proyek ke proyek berikutnya. Staf bekerja dalam ketidakpastian kontrak. Pengetahuan institusional mudah hilang karena tingginya turnover. Ruang untuk refleksi, pembelajaran, dan inovasi menyempit. Dalam kondisi seperti ini, tuntutan profesionalisme justru semakin tinggi, sementara fondasi organisasinya makin rapuh.
Ironisnya, donor sering mengeluhkan lemahnya kapasitas CSO lokal, tanpa benar-benar menyediakan ruang pendanaan untuk membangun kapasitas itu sendiri.
Biaya Kepatuhan yang Tak Terlihat
Aspek lain yang kerap luput dari pembicaraan publik adalah apa yang disebut “biaya kepatuhan”. Yaitu biaya yang dikeluarkan untuk bidang-bidang seperti safeguarding, pencegahan eksploitasi dan kekerasan seksual, perlindungan data, audit keuangan, keamanan digital, hingga manajemen risiko—semua ini mutlak penting. Tidak ada CSO yang menyangkalnya.
Namun, kepatuhan membutuhkan waktu, tenaga, dan uang. Ketika batas overhead dipatok rendah, CSO dipaksa menutup biaya kepatuhan dari sumber lain yang sering kali dari pengorbanan staf atau kualitas kerja. Di sinilah efisiensi berubah menjadi tekanan struktural yang tidak selalu terlihat dalam laporan donor.
Global South di Persimpangan Risiko
Bagi CSO di negara-negara Global South seperti Indonesia, tantangannya berlapis. Ketergantungan pada donor internasional membuat organisasi rentan terhadap perubahan kebijakan di luar kendali mereka. Satu keputusan pemotongan anggaran di Eropa atau Amerika Serikat bisa berdampak langsung pada keberlanjutan program di desa-desa terpencil.
Selain itu, wacana “lokalisasi bantuan” sering terdengar indah, tetapi implementasinya tidak selalu konsisten. CSO lokal diminta memimpin, namun tetap dibebani standar dan sistem yang dirancang untuk organisasi besar dengan sumber daya melimpah.
Bertahan Tanpa Kehilangan Arah
Di tengah situasi ini, banyak CSO mulai mencari cara bertahan tanpa mengkhianati nilai-nilai dasarnya. Diversifikasi pendanaan menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Filantropi lokal, CSR, hingga model pendapatan mandiri mulai dijajaki, meski tidak selalu mudah dan tidak selalu cukup.
Sebagian CSO berinvestasi pada penguatan bukti dampak, membangun sistem monitoring yang lebih rapi, dan mengemas cerita perubahan dengan data yang lebih solid. Yang lain membentuk konsorsium untuk saling menopang, meski dinamika kekuasaan dalam konsorsium juga perlu dikelola dengan hati-hati.
Namun, adaptasi tidak boleh sepenuhnya dibebankan pada CSO. Relasi donor–CSO seharusnya berbasis kemitraan, bukan semata kontrak. Jika efisiensi menjadi mantra tunggal, kita berisiko kehilangan kerja-kerja sosial yang justru paling penting namun paling sulit diukur.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan sekadar bagaimana CSO bertahan di tengah efisiensi donor. Pertanyaannya adalah: apakah dunia masih percaya bahwa perubahan sosial membutuhkan kesabaran, kehadiran jangka panjang, dan kepercayaan pada aktor lokal?
Jika jawabannya ya, maka efisiensi perlu dimaknai lebih luas—bukan hanya soal angka, tetapi juga soal keberlanjutan ekosistem masyarakat sipil. Tanpa itu, penghematan hari ini bisa berujung pada biaya sosial yang jauh lebih mahal di masa depan.
Di tengah pengetatan bantuan internasional, kerja CSO memang sedang diuji. Namun sejarah kerja sosial selalu menunjukkan satu hal: ia tidak pernah sepenuhnya bergantung pada kelimpahan sumber daya, melainkan pada keteguhan niat dan keberanian untuk terus hadir.
Efisiensi boleh menjadi kebijakan, tetapi kepedulian tidak seharusnya ikut disederhanakan. Di titik inilah CSO perlu terus merawat harapan—dengan saling menguatkan, membuka ruang kolaborasi baru, dan menjaga kepercayaan komunitas sebagai modal paling berharga. Sebab perubahan sosial tidak selalu lahir dari anggaran besar, melainkan dari kesediaan untuk bertahan, belajar, dan berjalan bersama, bahkan ketika jalan terasa makin sempit.
[Diolah dari berbagai sumber]
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar