Hikmah Idul Fitri di Tengah Dunia yang Bergejolak

Analisa

by Redaksi Editor by Arif Budi Setyawan

Beberapa hari terakhir, obrolan tentang perang terasa seperti suara latar yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia muncul di televisi, di notifikasi ponsel, di percakapan orang-orang di warung kopi, bahkan di sela obrolan menunggu azan magrib saat berbuka puasa.

Perang Iran.

Kita mungkin jauh dari lokasi konflik itu. Tapi dunia hari ini terlalu saling terhubung untuk benar-benar merasa jauh.

Selat Hormuz yang sering disebut dalam berita itu—jalur laut yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia—sekarang terganggu akibat konflik. Dampaknya cepat terasa: harga minyak melonjak hingga melampaui 100 dolar per barel dan memicu kekhawatiran inflasi di banyak negara.

Dari sana, efeknya merambat seperti riak di air: biaya logistik naik, harga pangan tertekan, dan ekonomi global kembali diselimuti kecemasan.

Kita mungkin tidak melihat perang itu secara langsung. Tapi kita mulai merasakan bayangannya.

Lebaran biasanya datang dengan suasana yang sederhana namun hangat. Ada aroma opor yang memenuhi dapur. Ada koper yang diseret menuju kampung halaman. Ada jalanan yang macet tapi penuh cerita.

Mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Ia adalah ritual tahunan untuk mengingat kembali dari mana kita berasal.

Namun tahun ini, ada rasa yang sedikit berbeda.

Orang-orang mulai berhitung lebih sering. Harga bahan pokok pelan-pelan naik. Biaya perjalanan terasa lebih berat dari biasanya.

Sebagian orang mulai bertanya dalam hati: Apakah tahun ini masih bisa mudik?

Yang lain mungkin tetap pulang, tetapi dengan pengeluaran yang lebih hati-hati.

Lebaran memang tidak pernah benar-benar tentang uang. Tapi ekonomi selalu diam-diam ikut menentukan suasana.

Dunia memang sedang berada dalam masa yang tidak terlalu tenang.

Konflik geopolitik, krisis energi, inflasi global—semuanya seperti potongan puzzle yang saling berkaitan. Gangguan pasokan energi akibat perang di Timur Tengah bahkan dikhawatirkan dapat memicu tekanan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Jika itu terjadi, dampaknya bisa terasa hingga dapur-dapur rumah tangga.

Harga minyak naik, ongkos transportasi naik. Ongkos transportasi naik, harga barang ikut naik.

Begitulah cara dunia bekerja sekarang. Satu konflik di satu tempat bisa menggetarkan kehidupan di tempat lain.

Termasuk di meja makan kita.

Namun justru di tengah situasi seperti inilah Idul Fitri sering menemukan maknanya yang paling jujur.

Lebaran tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari perjalanan panjang menahan diri.

Selama sebulan, kita belajar menunda lapar. Belajar menahan emosi. Belajar mengendalikan keinginan. Puasa sebenarnya adalah latihan menghadapi keterbatasan.

Dan mungkin itulah sebabnya, ketika dunia terasa tidak pasti seperti sekarang, nilai-nilai Ramadan terasa semakin relevan.

Kita diingatkan kembali bahwa hidup memang tidak selalu berjalan lurus.

Kadang ekonomi memburuk. Kadang dunia gaduh. Kadang masa depan terasa agak berkabut.

Tetapi manusia selalu punya satu kemampuan yang luar biasa untuk beradaptasi.

Jika kita jujur, banyak keluarga Indonesia sudah lama terbiasa menghadapi ketidakpastian.

Krisis ekonomi pernah datang. Pandemi pernah melanda. Harga-harga pernah melonjak.

Namun setiap kali Lebaran tiba, orang tetap mencari cara untuk pulang.

Ada yang naik motor ratusan kilometer. Ada yang berangkat tengah malam agar tiket lebih murah. Ada yang membawa oleh-oleh sederhana, tapi dengan kebanggaan yang sama.

Karena sebenarnya, mudik bukan tentang kemewahan perjalanan. Ia tentang kerinduan. Dan kerinduan tidak pernah terlalu peduli pada situasi ekonomi global.

Lebaran juga selalu membawa satu pesan yang sering kita lupa di tengah hiruk-pikuk kehidupan: cukup.

Cukup bukan berarti tidak punya keinginan. Cukup berarti tahu kapan berhenti merasa kurang.

Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk memiliki lebih banyak, Idul Fitri mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya:

Apa yang sebenarnya kita cari?

Barangkali jawabannya tidak terlalu jauh.

Mungkin hanya ingin berkumpul dengan keluarga.
Mungkin hanya ingin melihat orang tua tersenyum saat kita tiba di rumah.
Mungkin hanya ingin duduk di ruang tamu lama yang penuh kenangan.

Hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa. Padahal justru itulah yang paling berharga. Dunia boleh saja gaduh dengan konflik dan krisis. Harga minyak bisa naik. Pasar keuangan bisa bergejolak. Ekonomi global bisa terasa goyah.

Tetapi Lebaran selalu datang membawa pengingat sederhana, bahwa kebahagiaan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh keadaan dunia.

Kadang ia hanya muncul dari pelukan ibu di depan pintu rumah. Dari suara takbir yang menggema di masjid kampung. Dari sepiring ketupat yang dimakan bersama keluarga.

Hal-hal kecil yang membuat hidup terasa utuh kembali.

Dan mungkin itulah makna Idul Fitri yang paling dalam.

Di tengah dunia yang sering terasa semakin rumit, Lebaran mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat sederhana:

Pulang. Memaafkan. Dan memulai lagi dengan hati yang lebih ringan.

Karena pada akhirnya, dunia mungkin tidak selalu damai. Tetapi manusia selalu punya kesempatan untuk memperbaiki dirinya.

Setidaknya, sekali dalam setahun.
Saat takbir bergema dan kita saling mengucapkan: "Selamat Hari Raya Idul Fitri."

*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar