Rumitnya Dunia di Balik Sepotong Gorengan

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Redaksi

Senja itu, menjelang berbuka langit sedang cantik-cantiknya—semburat oranye yang biasanya membuat kita ingin memotretnya untuk status WhatsApp. Di depan saya, tersaji sepiring bakwan dan tempe mendoan yang masih mengepul. Wanginya gurih, menggoda iman siapa pun yang sedang mencoba diet karbo. Namun, sore ini, kegurihan itu terasa sedikit berbeda. Ada rasa "internasional" yang tiba-tiba menyelinap di sela-sela kunyahan.

Pernahkah Anda terpikir bahwa di dalam satu gigitan gorengan yang harganya mungkin cuma dua ribu perak itu, sedang terjadi pergolakan geopolitik dunia yang pelik?

Geopolitik di Balik Wajan

Mari kita bedah anatomi gorengan favorit kita. Untuk membuat bakwan yang crunchy itu, kita butuh kompor yang menyala. Di dapur-dapur kita, "napas" kompor itu berasal dari tabung melon hijau berisi LPG. Masalahnya, gas yang kita pakai untuk mematangkan tepung itu sebagian besar—lebih dari 70 persen—bukan berasal dari bumi kita sendiri. Kita mengimpornya.

Lalu lihat tepung terigunya. Gandum, bahan baku utama terigu, tidak tumbuh subur di bawah terik matahari khatulistiwa kita. Ia datang dari jauh, menyeberangi samudra. Begitu juga dengan minyak gorengnya. Meski kita punya kebun sawit sejauh mata memandang, distribusi dan proses produksinya tetap butuh bahan bakar minyak (BBM). Dan lagi-lagi, kita masih bergantung pada pasokan luar negeri untuk urusan BBM ini.

Di sinilah letak ironinya. Setiap kali kita menyalakan kompor untuk menggoreng tempe atau bakwan, kita sebenarnya sedang menghubungkan dapur kita dengan pelabuhan-pelabuhan di Timur Tengah, ladang gandum di belahan bumi utara, dan lantai bursa di New York atau London.

Saat Dolar Sedang "Sensi"

Kabar buruknya, saat ini nilai tukar rupiah sedang tidak baik-baik saja. Angka di atas 17 ribu per dolar Amerika bukan sekadar angka di layar televisi berita. Itu adalah hantu yang gentayangan di pasar-pasar tradisional. Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, harga semua barang impor tadi—gas, gandum, BBM—otomatis ikut "meroket" tanpa butuh bahan bakar tambahan.

Mungkin kita sering bergumam, "Ah, saya kan belinya pakai rupiah, kenapa pusing sama dolar?" Sayangnya, ekonomi dunia tidak sesederhana itu. Penjual gorengan di pinggir jalan tidak belanja gandum pakai dolar, memang. Tapi distributor tepungnya membeli gandum dengan dolar. Ketika harga bahan baku naik, si abang gorengan punya dua pilihan pahit: menaikkan harga atau menyunat ukuran gorengannya sampai jadi setipis kartu ATM.

Maka, jangan kaget kalau suatu hari Anda membeli gorengan dan merasa sedang memegang keripik karena saking tipisnya. Itu bukan karena abangnya pelit, tapi karena dolar sedang "sensi" dan galak.

Mesiu di Timur Tengah dan Piring Kita

Keadaan semakin pelik dengan kabar perang yang kembali memanas di Timur Tengah. Perang Iran bukan sekadar berita duka di kolom mancanegara. Bagi kita yang hobi jajan sore, perang di sana berarti ancaman pada jalur distribusi energi. Selat Hormuz bukan cuma koordinat di peta; itu adalah urat nadi yang menentukan apakah gas di kompor kita tetap biru atau padam karena pasokan tersendat.

Ada keterikatan yang menyentuh sekaligus menggelitik di sini. Kita, yang mungkin jarang membaca berita internasional secara detail, tiba-tiba merasakan dampak langsung dari ledakan di kejauhan sana lewat sepotong gorengan yang harganya mungkin akan segera naik. Ternyata, dunia ini memang sekecil piring saji. Ketidakstabilan di seberang benua bisa membuat ibu rumah tangga di sudut desa mendesah panjang saat melihat harga belanjaan.

Menemukan Harapan di Tengah "War"

Lalu, apakah kita harus berhenti makan gorengan dan meratapi nasib? Tentu saja tidak. Indonesia punya daya lenting (resiliensi) yang luar biasa. Kita adalah bangsa yang bisa menertawakan penderitaan dengan humor-humor cerdas di media sosial. Di tengah "war" takjil atau "war" ekonomi global, kita selalu punya cara untuk bertahan.

Refleksi dari sepiring gorengan ini seharusnya membawa kita pada kesadaran baru tentang kemandirian. Mungkin sudah saatnya kita tidak terlalu "manja" pada barang impor. Kita punya singkong, punya ubi, punya talas yang tumbuh subur di halaman belakang tanpa perlu gandum dari luar negeri. Kita punya potensi energi alternatif yang belum tergarap maksimal.

Namun, di atas segalanya, gorengan ini mengajarkan kita tentang rasa syukur dan empati. Bahwa kedamaian dunia adalah syarat mutlak bagi kenyamanan perut kita semua. Perang di mana pun ia berada, pada akhirnya hanya akan menyisakan sisa-sisa kegosongan yang tidak enak dimakan.

Mengunyah Doa

Sore hampir habis dan saya harus bersiap untuk shalat Maghrib. Gorengan di piring saya pun tinggal remah-remahnya saja. Sambil membersihkan sisa tepung di ujung jari, saya menyadari bahwa setiap suapan adalah sebuah keberuntungan. Di balik harga yang merangkak naik dan nilai rupiah yang sedang terseok, kita masih diberi kesempatan untuk duduk tenang dan menikmati kudapan.

Semoga di tengah hiruk-pikuk dolar dan dentuman mesiu, kita tidak lupa untuk tetap saling berbagi. Sebab, mungkin satu-satunya hal yang tidak terpengaruh inflasi dan kurs mata uang adalah rasa kepedulian kita terhadap sesama.

Mari kita nikmati gorengan ini dengan doa: semoga dunia segera pulih, rupiah kembali perkasa, dan piring-piring kita tetap penuh dengan rezeki yang berkah. Lagipula, apalah artinya hidup tanpa sedikit kegurihan di sore hari, bukan?



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar