Di balik layar ponsel yang sering kita anggap aman, ada dunia lain yang penuh jebakan bagi para remaja: dunia propaganda digital. Berawal dari rasa penasaran, klik iseng, atau ajakan teman, konten-konten ini muncul dalam bentuk yang tak lagi menyeramkan—justru terlihat menarik, modern, dan mudah diakses. Kelompok teror kini tak lagi mencari anggota melalui ruang gelap atau pertemuan rahasia. Mereka menyusup melalui algoritma, video pendek, poster heroik, hingga e-book yang dikemas layaknya panduan hidup penuh tujuan. Dan tanpa disadari, banyak remaja mulai terpapar, bahkan merasa menemukan identitas, sebelum akhirnya terjebak dalam narasi yang tampak mulia, tetapi mengantarkan mereka pada jurang ekstremisme.
Era Digital dan Peluang Ancaman Baru
Di zaman yang serba maju, terdigitalisasi, dan serba mobile ini, berbagai kemudahan dapat kita rasakan. Dalam transaksi keuangan misalnya, hadir M-Banking; dalam pendidikan, tersedia perkuliahan daring; dan dalam bisnis, kemunculan e-commerce memperluas daya jangkau pemasaran. Namun, di era digital ini pula muncul berbagai terobosan yang membawa perubahan signifikan, termasuk dalam aspek keamanan. Ancaman di dunia maya kini tak kalah berbahaya dibandingkan ancaman di dunia nyata. Sudah tentu, peluang ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teror untuk memperluas pengaruh dan jangkauan mereka.
Remaja sebagai Sasaran Empuk Perekrutan
Kelompok teror IS (atau ISIS), misalnya, terbukti banyak melakukan perekrutan anggota dan simpatisan melalui media sosial. Sasaran utamanya adalah remaja, mengingat intensitas penggunaan media sosial yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Di Austria, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun ditahan otoritas setempat karena berencana melakukan aksi teror menggunakan kampak dan pisau. Kasus serupa juga melibatkan remaja berusia 12–19 tahun. Namun, perhatian kita seharusnya tidak berhenti pada usia dan motif yang mendorong para remaja ini melakukan aksi teror. Materi-materi yang mereka akses dan konsumsi melalui media sosial juga harus mendapat sorotan serius, karena materi-materi itulah yang menjadi bahan bakar tindakan mereka.
“Paket” Konten Propaganda yang Siap Konsumsi
Di internet, kelompok teror menyediakan “paket-paket” berupa e-book, poster dan video propaganda, hingga nasyid yang dapat menarik perhatian seseorang hingga akhirnya tercebur menjadi simpatisan atau anggota. Ada yang sampai berangkat ke wilayah yang dikuasai mereka, ada pula yang hanya terlibat sebatas dukungan melalui keyboard dan klik di perangkat elektronik. Selain itu, mereka juga menyebarkan e-book berisi landasan keagamaan yang dijadikan pijakan tindakan IS, terjemahan kitab yang digunakan dalam Daurah Syar’iyyah (pelatihan keagamaan) dan Daurah ‘Askariyyah (pelatihan militer). Ketika materi ini dikombinasikan dengan konten menarik seperti video pertempuran, eksekusi, serta nasyid, maka sangat mungkin seseorang yang mengonsumsinya setiap hari perlahan terpengaruh, penasaran, dan ingin menjadi bagian dari gerakan yang menampilkan aksi-aksi yang mereka anggap heroik.
Konten Visual, Ideologis, hingga Gaya Hidup
Dari sisi pemikiran, mereka memiliki segudang materi siap sebar untuk memengaruhi orang-orang awam agar mendukung dan membenarkan tindakan mereka. Dari sisi hiburan, berbagai video, baik panjang maupun pendek, diproduksi dengan kualitas visual yang memanjakan mata penontonnya. Bahkan untuk urusan pergaulan sehari-hari, mereka menyediakan pedoman, mulai dari cara berpakaian bagi Muslimah di ruang publik hingga cara mengoperasikan senjata AK-47.
Mudah Diakses, Rentan Disalahgunakan
Hingga saat ini, semua materi tersebut masih tersedia dan dapat diakses hanya dengan koneksi internet dan penggunaan VPN. Materi-materi itu siap disebar, disimpan, dan dikonsumsi oleh remaja yang awalnya hanya penasaran atau sekadar ikut-ikutan teman. Bukti paling dekat adalah 110 anak remaja yang terpapar radikalisme dan ekstremisme dan kini sedang ditangani oleh Densus 88 Anti Teror Polri. Para remaja di bawah umur ini terpapar melalui media sosial yang dipenuhi materi-materi teror produksi kelompok IS.
Peran Orang Tua dalam Pencegahan Dini
Melihat temuan dan fenomena tersebut, sudah selayaknya orang tua lebih hadir dan mengetahui apa saja yang diakses anak-anak mereka. Pengawasan yang tepat akan membantu mendeteksi dini gejala radikalisme dan ekstremisme yang bisa kapan saja memengaruhi para remaja. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati, sehingga kewaspadaan dan perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak yang masih berada di bawah pengawasan orang tuanya.
Ilustrasi: By AI (Canva.com)
Divia 5 Des 2025, 19:27 WIB
Tulisannya menarik banget karena ngangkat sisi yang sering kita anggap sepele: rasa penasaran remaja yang ternyata bisa jadi pintu masuk propaganda ekstrem.